
...***...
Prabu Praja Permana, Ratu Sawitri Dewi, Kelalawar Hitam, Andara Wijaya dan Sandi Praha sedang melepaskan kepergian Selendang Merah. Mereka semua merasa keberatan saat berpisah dengan Selendang Merah, tapi apa boleh buat. Ini semua demi kebaikan Selendang Merah, dan juga demi kebaikan bersama.
"Aku harap nimas bisa belajar dengan baik di sana. Karena aku tidak mau nimas menjadi korban jahat mereka semua." Prabu Praja Permana dengan berat hati harus merelakan kepergian Selendang Merah. "Aku harap nimas bisa menjaga diri. Jika tidak kerasan nimas bisa kembali ke sini." Lanjutnya dengan perasaan cemas yang luar biasa.
"Hamba tidak apa-apa gusti prabu. Ini juga salah satu bentuk ujian dari ratu agung bukan?." Selendang Merah yang kini tidak lagi mengenakan cadar merahnya memperlihatkan senyuman manis yang selama ini tersembunyi. "Hamba akan belajar dengan baik gusti prabu. Terima kasih atas perhatian yang gusti prabu berikan pada hamba." Selendang Merah sebenarnya merasa berat hati meninggalkan istana ini, tapi ini semua kebaikan dirinya.
"Aku harap kau kerasan di sana." Ratu Sawitri Dewi melirik anaknya, dan setelah itu ia tersenyum lembut menatap Selendang Merah. "Jangan pernah menyerah untuk belajar. Aku menunggu kepulanganmu nak." Ratu Sawitri Dewi mencium kening Selendang Merah dengan sayang. "Terima kasih gusti ratu. Hamba akan berusaha dengan baik. Tapi hamba tidak bisa janji, jika hamba akan berhasil dalam waktu yang dekat." Balas Selendang Merah dengan senyuman kecil.
"Itu lebih baik dari pada tidak sama sekali. Tapi aku sangat yakin, kau bisa melalui ini semua dengan baik nak." Ratu Sawitri Dewi sangat percaya jika Selendang Merah mampu menjalani semua yang ada.
"Ayuk. Kita hanya berpisah sementara saja. Aku harap ayuk akan baik-baik saja di sana." Kini giliran Kelalawar Hitam yang mengucapkan kata-kata perpisahan dengan kakaknya. "Masalah yang ada di istana ini serahkan padaku. Ayuk fokus saja belajar di sana. Jangan pikirkan lagi masalah yang ada di sini." Lanjutnya lagi. Ia mencoba untuk tetap tersenyum, meskipun hatinya sangat berat untuk berpisah dengan kakaknya.
"Terima kasih adi. Kau adalah adik yang sangat baik. Aku bangga memiliki adik sepertimu." Selendang Merah mengusap sayang kepala adiknya. Ia tidak menyangka akan memiliki saudara yang sangat perhatian pada dirinya.
"Ibunda." Andara Wijaya memeluk erat. Ada perasaan sedih yang ia rasakan saat ini karena berpisah dengan ibundanya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa nak." Selendang Merah melepaskan pelukannya, menatap wajah anaknya. Menangkup pipi anaknya dengan lembut, serta menghapus air mata anaknya dengan pelan. "Kita hanya berpisah untuk sementara waktu saja." Selendang Merah tersenyum kecil. "Kau adalah putra ibunda yang sangat kuat. Jadi jangan bersedih. Karena di sini ada nenek ratu, paman prabu, paman kelalawar hitam, serta sandi praha." Selendang Merah meyakinkan anaknya semuanya akan baik-baik. "Nanda tidak akan kesepian seperti dulu. Meskipun ibunda tidak ada di sini untuk sementara waktu, namun nanda memiliki mereka semua." Selendang Merah menatap mereka semua.
"Tentu saja ibunda." Balas Andara Wijaya. "Terima kasih atas apa yang telah ibunda lakukan untukku selama ini. Semoga ibunda kembali dengan hal yang baru, namun masih tetap ibunda yang aku sayangi." Andara Wijaya takut ibundanya banyak mengalami perubahan saat kembali nanti.
"Ibunda akan tetap menjadi ibunda yang akan selalu menyayangimu nak." Selendang Merah kembali memeluk anaknya dengan sayang. Mereka yang melihat itu semua merasa simpati. Kasih sayang yang nyata, meskipun bukan anak kandung tapi kasih sayang mereka sangat tulus datang dari hari mereka masing-masing.
"Berhati-hatilah bibi selama diperjalanan. Semoga bibi bisa melakukan yang terbaik, untuk masa depan istana ini." Sandi Praha juga menyampaikan salam perpisahannya dengan Selendang Merah. Sandi Praha juga merasa keberatan saat mengucapkan kata perpisahan itu. "Kau juga nak. Lakukan yang terbaik. Supaya ayahanda mu bangga padamu. Aku yakin kau akan mampu menjadi salah satu senopati, atau bahkan dharmapati jika kalau kau mau berusaha dengan baik." Selendang Merah mencium kening Sandi Praha.
"Aku akan berusaha dengan baik bibi." Sandi Praha dengan semangatnya membalas ucapan Selendang Merah.
"Kalau begitu hamba pamit dulu gusti prabu, gusti ratu. Semoga kita bertemu kembali dalam keadaan sehat tanpa kekurangan apapun." Itulah harapan dari Selendang Merah.
"Aamiin ya Allah." Prabu Praja Permana dan Ratu Sawitri Dewi menyambut baik doa dan harapan Selendang Merah.
"Berhati-hatilah selama diperjalanan nak. Kami akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu." Ratu Sawitri Dewi berusaha untuk tetap tersenyum.
"Kalau begitu hamba mohon pamit. Sampurasun." Selendang Merah memberi hormat pada Prabu Praja Permana dan Ratu Sawitri Dewi.
__ADS_1
"Rampes." Balas Prabu Praja Permana dan Ratu Sawitri Dewi sambil menguatkan hati mereka ketika mereka melihat Selendang Merah mulai melangkahkan kaki untuk meninggalkan istana.
"Berhati-hatilah yunda."
"Berhati-hatilah ibunda."
"Berhati-hatilah bibi."
Kelalawar Hitam, Andara Wijaya, dan Sandi Praha melambaikan tangan mereka ketika Selendang Merah meninggalkan gerbang istana kerajaan Sendang Agung. Setelah itu ia menaiki bedati yang akan membawanya menuju suatu tempat.
"Aku harap kau baik-baik saja nak. Semoga kau bisa belajar dengan baik saat di sana." Dalam hati Ratu Sawitri Dewi mengiringi kepergian Selendang Merah dengan doa yang sangat tulus dari hatinya.
"Nimas selendang merah. Meskipun saat ini kita terpisah oleh jarak dan waktu. Namun aku harap nimas bisa menjaga perasaan ini." Dalam hati Prabu Praja Permana sedikit merasa goyah saat ia menatap punggung Selendang Merah meninggalkan istana ini. "Asamara diujung waktu. Bukan hanya untuk orang-orang yang berpisah karena mau yang memisahkan mereka. Akan tetapi mereka yang berpisah untuk sementara waktu, merasakan keberatan untuk berpisah. Mereka juga termasuk orang-orang yang mengalami asmara diujung waktu." Sang Prabu mendadak menjadi lebih dramatis. Karena perasaan sayangnya pada wanita, selain ibundanya kini terasa lebih tulus dibandingkan dengan sebelumnya yang berakhir menyakitkan. "Inilah asmara diujung waktu yang sesungguhnya yang aku rasakan. Ketika perasaan cinta yang aku rasakan begitu dalam, namun ia harus pergi untuk sementara waktu karena ada hal yang membuat kami harus berpisah. Namun aku harap suatu hari nanti kami akan bertemu kembali dalam rajutan tali asmara tanpa batas waktu. Hanya maut yang akan memisahkan kami nantinya." Itulah harapan Sang Prabu dalam masalah cinta yang ia rasakan. Kepergian Selendang Merah dari istana ini membuat perasaannya tidak nyaman sama sekali. Meskipun itu adalah demi kebaikan mereka bersama. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.
Selamat hari raya idul Fitri mohon maaf lahir dan batin.
...***...
__ADS_1