
...***...
Pertarungan Kelalawar Hitam masih berlanjut. Ia berusaha untuk mengalahkan Jembari Langka dengan jurus-jurus miliknya. Ia tidak akan mengalah begitu saja. Sebagai seorang pendekar pembunuh bayaran, ia tidak bisa diremehkan begitu saja oleh musuhnya.
Mata batinnya mencoba untuk menemuka titik kelemahan dari gerakan musuh. Sehingga ia bisa mengimbangi gerakan lawannya.
Duakh!. Duakh!.
Mereka saling menghantam satu sama lain, kadang mereka memberikan sepakan. Ilmu kadigjayaan dilambari dengan tenaga dalam, sehingga bukan hanya luka fisik luar saja. Melainkan juga luka dalam yang mereka rasakan. Sehingga mereka mengalami luka yang tidak biasa.
"Bedebah kau wanita sinting. Kau pikir kau bisa meniru gerakan jurus yang aku pelajari selama bertahun-tahun hah?." Jembari Langka dengan kesalnya menunjuk ke arah Selendang Merah. Tidak akan aku biarkan kau mencuri jurusku!."
"Otak kau saja yang beku, sehingga membutuhkan waktu bertahun-tahun. Aku dua kali lihat, jurus yang kau mainkan itu belum sempurna sama sekali. Masih ada cacatnya."
"Kau tidak usah menghinaku!. Kalau begitu, akan aku tunjukkan padamu, bagaimana kekuatan dari jurus pengikat aroma darah tingkat akhir milikku!."
"Kau tidak usah pamer padaku!. Karena aku juga bisa melihat jurus tingkat akhir lebih luas, dari yang telah kau pelajari!."
"Kau memang tidak bisa aku ampuni wanita busuk!."
"Aku tidak butuh ampunan darimu. Karena kau bukan dewa ataupun Tuhan."
"Kau memang telah memancing amarahku wanita busuk!. Aku harap kau tidak menjerit minta ampun padaku nantinya!."
"Kelalawar hitam. Menyingkirkan terlebih dahulu. Karena jurus ini, akan menggerogoti tubuhmu secara perlahan. Jadi tetaplah berada di jarak yang aman."
"Tapi nini-."
"Dengarkan aku berbicara kelalawar hitam!."
"Ba-baiklah nini."
Kelalawar Hitam sangat terkejut mendengarkan suara bentakan keras dari Selendang Merah. Ia segera menyingkir dari sana, melompat naik ke atas pohon yang kumaya tinggi. Karena ia ingin menyaksikan lwrtarun itu.
"Jadi kau mengetahui dampak dari jurus itu?. Luar biasa sekali kalian sebagai pendekar pembunuh bayaran, yang selalu waspada terhadap bahaya apapun."
__ADS_1
"Sebaiknya kau tidak usah banyak bicara!. Karena aku sudah muak dengan ocehanmu itu. Kau, pasti akan aku binasakan."
"Baiklah kalau kau memang menantang. Ucapanmu itu, sama sekali tidak berguna bagiku!."
Keduanya telah mengambil pose dari pembukaan jurus pengikat aroma darah. Jurus yang membutuhkan tenaga dalam, yang bukan hanya menggunakan alam, melainkan menyedot darah lawannya melalui tenaga angin sekitar. Menggerogoti tubuh lawan, sehingga kulit lawannya terlihat seperti digerogoti secara perlahan-lahan, dan akhirnya mengelupas. Itulah alasan mengapa Selendang yang menyuruh Kelalawar Hitam pergi dari sana. Akan berbahaya jika Kelalawar Hitam terkena dampak jurus itu.
"Wanita itu memang hebat. Sekali dua kali lihat, namun bisa meniru jurus yang aku mainkan dengan sempurna." Dalam hati Jembari Langka merasa gelisah. Karena Selendang Merah mampu meniru jurusnya. Ia mulai waspada dengan Selendang Merah.
"Kurang ajar!. Jurus yang ia mainkan, rasanya sangat berat untuk aku tiru." Dalam hati Selendang Merah juga merasa gelisah. "Aku yakin, ini karena pertama kalinya aku meniru jurus yang menggunakan banyak tenaga dalam."
"Nini selendang merah. Aku akan selalu memgawasimu, namun aku yakin kau adalah wanita yang sangat kuat." Dari pengamatannya, Selendang Merah mengalami kesulitan untuk menghadapi musuhnya.
"Tidak!. Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Akan aku habisi dia dengan jurusnya. Dan pedang itu?. Ya aku akan segera menggunakan pedang itu. Karena aku sudah tidak tahan lagi menghadapinya." Selendang Merah mengeluarkan pedang Pemangkas Pancasona.
"Heh!. Ternyata bukan hanya nama saja, pendekar pembunuh bayaran. Ternyata kau memang memiliki pedang berbahaya juga."
"Aku tidak akan setengah-setengah dalam menghadapi tergetku. Akan aku pastikan, kau akan mati dengan pedangku ini. Jika tidak bisa menggunakan jurusmu. Maka akan akan aku gabungkan Semuanya." Selendang Merah memainkan jurus Pengikat aroma darah.
Jembari Langka juga memainkan jurusnya. Akan tetapi ia melihat Selendang Merah memainkan jurus itu agak sedikit berbeda. Namun setelah itu, tiba-tiba saja ia mendapatkan serangan dadakan, membuatnya terkejut. Karena lengannya mendapatkan sebuah sayatan pedang. Serangan yang sama sekali tidak ia sadari.
"Heh!. Sudah aku katakan padamu. Jika aku akan memainkan jurus itu dengan tingkat yang berbeda. Kau saja yang tuli, tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan." Selendang Merah menyeringai dibalik cadar merah yang menutupi sebagian wajahnya itu. Namun sorot mata itu.
"Jiwa berburu mangsaku mendidih, gejolak membunuhku mendidih. Darahku terlalu panas. Akan aku semburkan Awan panas gunung berapi. Jurus Pemangkas Pancasona."
"Kau benar-benar wanita tidak waras!."
Tiba-tiba saja nyali Jembari Langka menghilang seketika. Tubuhnya seakan terpaku, melihat mata itu memerah. Seakan ingin menelannya bulat-bulat, dan yang terjadi selanjutnya adalah.
"Be-benar-benar mengerikan. Dia memenggal leher lelaki itu tanpa ampun." Kelalawar Hitam yang menyaksikan itu merasa merinding. Melihat gerakan yang sangat cepat, ketika Selendang Merah melepaskan tebasan jurus Pedang Pemangkas Pancasona.
Kepala Jembari Langka benar-benar terlepas dari tubuhnya. Sungguh mengerikan sekali untuk ukuran seorang wanita. Kelalawar Hitam turun dari atas, ia mendekati Selendang Merah dengan hati-hati.
"Hanya pandai bicara!. Jadi tidak usah pamer dihadapanku, jika jurus yang kau gunakan hanyalah tingkat pertama." Dengan tatapan kosong, ia melihat tangannya yang dilumuri darah. Ia berhasil mencuri jurus pengikat aroma darah tingkat akhir.
"Nimas?."
__ADS_1
Selendang Merah membalikkan tubuhnya, matanya kembali normal. Namun setelah itu, ia sedikit terbatuk memuntahkan darah segar.
"Nimas." Kelalawar Hitam sangat terkejut, ia lebih mendekat untuk memeriksa keadaan Selendang Merah.
...****...
Sementara itu, di Istana Kerajaan Sendang Agung.
"Bffuh."
Prabu Praja Permana merasakan ada sesuatu yang mendesak keluar dari perutnya, hingga ia memuntahkannya. Matanya terbelalak lebar. Melihat apa yang ada ditangannya.
"Darah?. Apakah aku sakit?. Kenapa aku bisa muntah darah?. Juga tubuhku terasa sakit semua. Sebenarnya apa yang terjadi pada diriku ini?."
Hatinya sangat cemas, ia tidak mengerti sama sekali dengan apa yang terjadi pada dirinya.
"Ya Allah. Hidup dan mati, hamba serahkan padamu ya Allah. Jangan biarkan hamba mati dalam penasaran. Mengapa hamba mengalami seperti ini?. Dan juga mengapa hamba selalu memikirkan nimas selendang merah, jika keadaan hamba seperti ini?. Seakan hamba sedang terhubung dengannya."
Sang prabu mencoba menyeka darahnya. Sang Prabu takut, jika ibundanya masuk, untuk melihat keadaannya. "Nimas selendang merah. Aku harap nimas segera kembali. Aku harap nimas baik-baik saja."
"Hamba akan segera kembali gusti prabu. Hamba ingin memulihkan keadaan sebelum menuju istana."
Seakan dapat balasan atas apa yang ia ucapkan, Sang Prabu yang tadinya duduk, spontan berdiri karena terkejut. "Nimas selendang merah. Apakah nimas terluka?. Katakan padaku."
"Hamba baik-baik saja gusti prabu. Tapi hamba agak terlambat kembali ke istana."
"Kembalilah dengan cepat nimas, aku sangat mengkhawatirkan dirimu. Aku yang akan mengobatimu jika kau terluka nimas."
"Terima kasih gusti prabu."
"Oh nimas selendang merah."
Apa yang terjadi?. Simak terus ceritanya. Tinggalkan komentarnya ya pembaca tercinta.
...***...
__ADS_1