ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
CALON KANDIDAT RATU AGUNG


__ADS_3

...***...


Selendang Merah ingin sekali mendengarkan lanjutan kisah masa lalu yang dihadapi Prabu Praja Permana. Akan tetapi saat itu ada seorang emban masuk, dan memberikan laporan.


"Mohon ampun gusti ratu. Maaf jika hamba mengganggu." Ia memberi hormat.


"Apa yang ingin kau sampaikan emban. Katakan padaku."


"Gusti prabu pranata kusuma ingin bertemu dengan gusti ratu."


"Baiklah. Katakan padanya aku akan segera menemuinya. Harap bersabar untuk menunggu."


"Sandika gusti ratu." Emban tersebut pergi meninggalkan bilik Ratu Sawitri Dewi.


"Maafkan aku nimas. Sepertinya lain kali saja kita melanjutkan ceritanya. Karena aku harus menemui prabu pranata kusuma."


"Tidak apa-apa gusti ratu. Hamba memahaminya. Terima kasih, karena gusti ratu telah menceritakan kisah tentang gusti prabu."


"Alhamdulillah hirobbil'alamin, jika kau mau mendengarkan cerita itu dengan baik. Aku harap kau bukan wanita yang akan melihat laki-laiki karena fisiknya." Ratu Sawitri Dewi hanya berharap, jika Selendang Merah tidak merasa jijik saat melihat bekas luka bakar yang mungkin kini masih membekas dibahu anaknya.


"Cinta itu tidak salah gusti ratu. Yang salah itu adalah diri sendiri yang terlalu banyak memilih." Balasnya.


"Baiklah, kalau begitu kita sama-sama pergi."

__ADS_1


"Mari gusti ratu."


Setelah itu mereka meninggalkan bilik Ratu Sawitri Dewi untuk menemui tamu yang berkunjung ke istana ini.


Sementara itu, Prabu Praja Permana telah bersama Prabu Pranata Kusuma. Tadinya Sang Prabu sedang latihan bersama Andara Wijaya, Sandi Praha, dan Kelalawar Hitam. Namun siapa sangka Prabu pranata Kusuma datang bersama rombongan istana.


"Bagaimana keadaan nanda prabu?. Sepertinya ada perubahan yang aku rasakan saat memasuki wilayah ini." Prabu Pranata Kusuma tersenyum kecil. "Biasanya kami tidak berani melewati hutan selatan kerajaan ini karena di sana dikabarkan akan begal. Tapi kata penjaga perbatasan di sana. Kerajaan ini telah aman dari begal. Itulah alasanku datang hari ini." Lanjutnya.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin. Memang kami telah berhasil mengatasi begal yang berkeliaran di wilayah ini paman." Balas Prabu Praja Permana. "Alhamdulillah hirobbil'alamin, kami bisa memperbaiki keadaan kerajaan ini."


"Syukurlah jika memang seperti itu. Semoga saja kerajaan ini bisa kembali berjaya seperti dulu."


"Terima kasih atas doa baiknya paman prabu. Tentunya ini tidak lepas dari usaha mereka yang membantu saya. Jika hanya saya sendiri yang bekerja, mungkin saya tidak akan bisa menjalani tahta pemerintahan ini dengan baik." Prabu Praja Permana tidak akan melupakan jasa-jasa mereka yang menginginkan kesejahteraan negeri ini.


"Semoga saja kita bisa menjaga perdamaian kerjaan yang kita pimpin paman."


Saat itu mereka hanya berbincang-bincang ringan saja. Hingga Ratu Sawitri Dewi dan Selendang Merah datang.


"Maaf telah membuat kanda prabu menunggu." Ratu Sawitri Dewi tersenyum ramah.


"Tidak apa-apa dinda dewi. Aku yang datang tidak tepat waktu." Prabu Pranata Kusuma memaklumi apa yang dilakukan seorang ratu.


Ratu Sawitri Dewi dan Selendang Merah duduk bersama mereka. Mata sang ratu menatap ada tamu penting, serta dua orang putri raja yang menampilkan senyuman yang manis saat ini. Sepertinya, Ratu Sawitri Dewi menangkap tujuan dan maksud kedatangan Prabu Pranata Kusuma ke istana ini.

__ADS_1


"Sudah lama tidak datang ke istana ini, sepertinya nanda putri kumala ayu, juga rama diyanti tumbuh dewasa sekarang." Ratu Sawitri Dewi tersenyum ramah pada kedua putri Prabu Pranata Kusuma.


"Lama tidak bertemu gusti ratu. Sepertinya memang sudah lama tidak bertemu. Gusti ratu terlihat sehat, dan masih cantik seperti dulu." Putri Kumala Ayu sebagai kakak membalas ucapan Ratu Sawitri Dewi.


"Meskipun saat itu hamba masih kecil, hamba masih mengingat gusti ratu yang sangat baik pada hamba. Rasanya rindu sekali pada gusti ratu." Putri Rama Diyanti tersenyum manis pada Ratu Sawitri Dewi. Keduanya sepertinya ingin mengambil hati sang ratu.


"Memang sudah lama kita tidak ke istana ini. Sehingga kita tidak menyadari anak-anak kita telah dewasa." Prabu Pranata Kusuma melihat ke arah Prabu Praja Permana. "Lalu bagaimana dengan keadaan nanda pangeran wira wijaksana?." Matanya tidak melihat anak kedua dari Ratu Sawitri Dewi. "Kabar yang aku dengar, ia memiliki banyak istri." Lanjutnya lagi.


"Saat ini dinda wira wijaksana sedang aku tugaskan untuk menjaga wilayah barat kerajaan ini. Jadi saat ini ia tidak berada di istana ini paman prabu." Jawab Prabu Praja Permana.


"Jadi seperti itu?. Pantas saja aku tidak melihatnya." Ia matanya kali menatap seorang wanita yang mengenakan cadar merah yang duduk di sebelah Ratu Sawitri Dewi. "Lalu bagaimana dengan nanda prabu sendiri?. Aku belum mendengar kabar, jika nanda telah memiliki ratu agung, ataupun selir yang akan mendampingi nanda prabu dalam memimpin istana ini."


Prabu Praja Permana menatap ke arah ibundanya, seakan ingin meminta bantuan pada ibundanya untuk menjelaskan apa yang terjadi saat ini. "Maaf paman prabu. Aku memang belum memiliki ratu agung. Namun sepertinya ibunda ratu agung telah memiliki kandidat calon ratu agung, untuk memimpin istana ini bersamaku paman prabu." Sorot mata itu seakan memohon pada ibundanya agar membantunya.


"Apakah itu benar dinda dewi?. Apakah dinda dewi memiliki calon kandidat ratu agung untuk nanda prabu?." Prabu Pranata Kusuma hanya ingin memastikan apa yang dikatakan oleh Prabu Praja Permana.


"Itu sangat benar sekali kanda prabu. Dan kemungkinan, setelah purnama ini. Kami akan mengadakan perundingan, kapan waktu yang baik untuk mengadakan hari yang baik." Jawab Ratu Sawitri Dewi dengan wajah penuh kebahagiaan luar biasa.


"Jika aku boleh tahu, siapakah calon ratu agung tersebut?. Apakah wanita yang berpakaian Pendekar ini?." Prabu Pranata Kusuma sedikit cemas, jika memang wanita bercadar merah itu adalah calon ratu agung.


Ratu Sawitri Dewi menatap Selendang Merah dengan senyuman yang sangat lembut. Tangannya membelai pipi yang tertutup cadar merah itu dengan pelan. "Itu sangat benar sekali kanda prabu. Wanita Pendekar bercadar merah ini calon kandidatnya." Setelah itu ia melihat ke arah Prabu Pranata Kusuma. "Maaf, jika aku telah mengecewakan kanda prabu, dan aku akan mengumumkan ratu agung lusa nanti. Supaya semua orang mengetahui, jika putraku nanda praja permana telah memiliki calon kandidat ratu agung. Supaya tidak terjadi kesalahpahaman nantinya." Senyuman itu memang terlihat ramah, namun Prabu Pranata Kusuma sepertinya tidak terima dengan apa yang ia dengar. Ia tidak menyangka, jika ia akan menerima kekecewaan ini. Jika ia mengetahui seperti ini. Maka ia tidak akan membawa kedua anaknya untuk diajukan sebagai ratu agung di istana ini, jika pada akhirnya hanya akan menjadi istri kedua, ataupun menjadi selir raja.


Apakah hanya akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya. Supaya author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2