Baby Sitter Cantik Kesayangan Daddy

Baby Sitter Cantik Kesayangan Daddy
Datang dan pergi


__ADS_3

Saat tengah malam,tari terbangun karena lapar.Menatap suaminya yang tengah terlelap,tari merasa tak enak jika harus membangunkan suaminya.


Tapi dirinya sangat lapar,ia ingin makan sate di pinggir jalan sana.Tari memberikan diri membangunkan Agim.


"Mas" Tari menepuk pelan pundak agim


"Mas Agim"


"Em,,ada apa sayang" Agim masih memejamkan matanya


"Tari laper,, pengen makan sate pinggir jalan" ungkap Tari


"Emm" Agim membuka matanya,lalu duduk


"Makan sate? ini kan udah malem sayang"


"Ya tapi tari pengen mas" tari sudah cemberut


"Ya sudah ayo kita cari" ajak Agim pasrah jika sudah melihat istrinya cemberut


"Iya mas" tari berbinar


Jam sudah menunjukkan pukul setengah 1 malam.Mereka membelah jalanan yang tampak sangat sepi.Agim sesekali menguap saat menyetir,tari yang melihatnya jadi tersenyum geli.


Cukup jauh mereka berkemudi untuk mencari tukang sate pinggir jalan.Mata tari cukup jeli,ia melihat tukang sate yang masih stand by di pinggir jalan dekat taman.


"Mass itu ada tukang satenya" kata tari tiba-tiba membuat agim ngerem mendadak


"Astaga sayang,,jangan dadakan"


"Hehehe maaf mas,,ayo kita turun" mereka turun dan menghampiri tukang sate tersebut


"Mang pesen satenya 2 porsi ya" pesan tari


"Aduh maaf neng,,mamang sudah mau pulang" kata penjual sate tersebut


"Yah kok pulang sih,,saya laper mang" tari tampak berkaca-kaca


"Mang saya mohon ya,buatkan istri saya satenya"


"Ya sudah sebentar ya"


Cukup lama tukang sate membakar satenya,Tari yang sudah tidak sabar jadi kesal sendiri.Agim heran dengan sikap tari yang seperti anak kecil begini, sampai pikirannya menebak-nebak tentang sikap istrinya.Bibirnya mengulas senyum membuat tari curiga.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya tari


"Ngga papa sayang"


"Neng ini satenya" tukang sate menyodorkan dua piring sate dengan asap yang masih mengepul.hemm sepertinya enak


"Mas nggak mau?" tanya tari


"Kamu aja yang makan,,mas masih kenyang"


Tari makan dengan lahap,bahkan dua piring sudah tandas ia habiskan sendiri.Agim semakin yakin kalau istrinya kini tengah berbadan dua.


"Mang ini uangnya" Agim memberikan beberapa lembar uang ratusan


"Wah kebanyakan ini den"


"Nggak papa mang,,terima aja"


"Ya sudah saya terima, terimakasih ya den,neng"


"Iya mang"


Agim dan tari kembali ke rumah,bahkan sebelum sampai ke rumah tari sudah molor di dalam mobil.


Agim menggendong istrinya, merebahkan di ranjang dengan pelan.Ia mengelus pipi tari,ia juga mengelus perut istrinya.


"Semoga disini memang ada malaikat kecil kita" lirih Agim dan mengecup kening tari.


Pagi ini pukul 5 ,tari sudah bangun.Ia muntah-muntah, mengeluarkan sate dua piring yang ia maka tadi malam.


Ia terkulai lemas di kamar mandi,Agim yang merasa pelukannya hilang jadi terbangun.Ia mencari sosok istrinya,tapi ia mendengar gemercik air dari dalam kamar mandi.


"Sayang,,kamu di dalam?" tanya Agim


"Iya mas" suaranya terdengar lemah


"Kamu nggak papa kan,,buka pintunya"


Ceklek..


"Coba tes pakai ini" Agim menyodorkan 3 buah tespeck


"Tapi mas,," tari takut mengecewakan suaminya


"Coba saja,,mas tunggu ya"


1 menit


2 menit


3 menit


4 menit


5 menit

__ADS_1


Tari keluar dari kamar mandi,wajahnya murung.Agim dengan tulus memeluk istrinya.


"Nggak papa,,nanti kita bisa usaha lagi" kata Agim


"Nggak perlu mas,tari udah nggak mau"


Deg!


Hati agim berdetak kencang, apakah ia tak salah dengar? batinnya


"Maksudnya?" tanya Agim


"Karena disini sudah ada anak kita" tari mengarahkan tangan Agim ke perutnya


"Benarkah?" tanya Agim berbinar


"Iya mas,, hasilnya semua positif"


"Alhamdulillah"


"Terimakasih sayang"


Tari memeluk suaminya,Agim mengelus punggung istrinya,ia kini merasa bahagia.


"Uhuk-uhuk" Hengki terus saja batuk


"Pa kita kerumah sakit ya" Sania panik, karena sejak jam 2 dini hari Hengki terus saja batuk-batuk


"Nggak usah ma,, uhuk-uhuk" kini batuk Hengki mengeluarkan darah


"Pa papa kenapa?" tanya Sania sambil menangis


"Papa batuk darah"


Sania berlari menuju kamar Agim


"Gim,,agim buka pintunya" teriak Sania membuyarkan pelukan Agim dan tari


"Ada apa ma?" tanya Agim saat sudah membuka pintu


"Papa gim,,papa batuk darah"


"Apa? yaudah kita bawa kerumah sakit sekarang"


"Uhuk-uhuk" Hengki semakin banyak mengeluarkan darah


"Papa" Agim menghampiri papanya


"Kita kerumah sakit" Agim memapah Hengki untuk berjalan ke depan rumah


Tari dan Sania mengikuti dua laki-laki itu,Sania masih menangis tari berusaha menenangkan mertuanya.


Setelah perjalanan selama 20 menit,mereka sampai di rumah sakit Medika.


Tari memanggil suster untuk membawa papa mertuanya ke ruang perawatan.


"Gim" panggil Hengki saat dirinya berada di atas brankar


"Iya pa?"


"Papa titip ma ma ya,,kamu jaga perusahaan dengan baik" pesan Hengki


"Papa ngomong apa sih,,papa harus sehat lagi" Agim menangis,ia tak pernah melihat papanya sakit parah seperti ini


"Papa sudah tidak bisa berpura-pura,,uhuk...."


"Pa sudah jangan bicara lagi"


Hengki masuk ke dalam ruangan penanganan dokter,Sania memeluk anaknya.Tangisnya pecah,tadi malam suaminya sudah mengucapkan salam perpisahan padanya.Sania hanya menanggapi dengan cubitan,ia tak menyangka bahwa itu akan jadi kenyataan


Flashback on...


"Ma nanti kalau kita punya cucu,,Mama harus sayang sama dia"


"Nanti papa nggak bisa ikut gendong cucu kita,, soalnya papa mau pergi jauh"


"Papa ngomong apa sih,,ngelantur nggak jelas" Sania mencubit pinggang Hengki


Hengki hanya tersenyum, setidaknya ia sudah mengungkapkan isi hatinya meskipun istrinya tak percaya.


"Mama harus bisa jaga diri ya,,jangan makan sembarangan"


"Papa ih,, cerewetnya minta ampun"


"Papa sayang sama Mama" Hengki memeluk istrinya,matanya berkaca-kaca


Flashback off....


Sania duduk di kursi tunggu,tangannya bergetar hebat.Ia teringat dengan kata-kata suaminya tadi malam.


Cukup lama dokter menangani Hengki,Agim mondar-mandir di depan pintu. Hatinya berkecamuk,ia takut terjadi apa-apa dengan papanya.


Ceklek...


Pintu terbuka menampilkan sosok dokter yang menangani Hengki.Dokter itu menundukkan kepalanya,


"Dokter bagaimana keadaan suaminya saya" tanya Sania


"Maaf Bu,,kami sudah berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkan nyawa pak Hengki,tapi nihil. kanker paru-paru yang di derita beliau sudah sangat parah"

__ADS_1


"Maksud dokter.."


"Kita doakan saja semoga pak Hengki tenang disana" kata dokter itu


"Nggak...nggak mungkin dokter"


"Papa saya nggak mungkin meninggal" Bagai di sambar petir di pagi hari.Air mata agim merosot dengan deras,ia masuk ke dalam ruangan itu.


Agim mematung,Kakinya lemas,hatinya hancur.Papa yang selalu ada untuknya kini sudah terbujur kaku di balik kain putih yang menutup tubuhnya.


Sania ikut masuk,,ia membuka kain putih itu.Tangannya bergetar,cintanya sudah pergi meninggalkannya.


"Papa" teriak Sania sambil memeluk suaminya


"Jangan tinggalin mama" Sania menangis se jadi-jadinya


Agim perlahan mendekati mayat sang papa,masih tak percaya bahwa papanya kini sudah tiada.


Baru semalam papanya mengajak ngobrol bersama dengannya.Ini seperti mimpi,mimpi terburuk dalam hidup Agim.


Tari menangis sambil memeluk Sania,, wanita paruh baya itu menangis sejadinya.


"Pa..Papa bohong sama Agim"


"Katanya papa sehat"


"Papa jahat,,papa bohongin kita semua" Air matanya semakin deras


"Papa ingin cucu kan,,itu pa tari sedang mengandung sekarang"


"Tapi kenapa saat dia datang,, papa justru pergi ninggalin kita pa" Agim memeluk papanya


"Papa nggak pengen lihat anak Agim?"


"Bangun pa bangun,,Agim butuh papa"


Sania yang melihat anaknya memeluk suaminya,hatinya remuk.Pandangannya mulai kabur,mata Sania mulai tertutup.


Ya, wanita paruh baya itu pingsan.Agim dengan sigap membawa mamanya ke kamar sebelah untuk di tangani dokter.


Tari menemani Sania,ia berencana menelepon Viana untuk mengabarkan kabar duka ini.


"Halo" sapa Viana


"Halo mbak" suara tari tampak menangis


"Tari,kamu kenapa?" tanya Viana saat mendengar suara tari


"Papa mbak,,papa meninggal"


"Apa??? om Hengki meninggal?" pekik Viana


"Iya mbak,, sekarang ada di rumah sakit Medika"


"Ya sudah mbak akan telpon mas Raka dulu ya"


"Iya mbak"


Viana berkaca-kaca,ia mengingat wajah tua Hengki yang tersenyum.Hatinya seperti teriris, bagaimana dengan Sania dan Agim? jelas mereka sangat terpuruk


"Halo mas"


"Iya sayang,ada apa?"


"Mas Viana mau ngasih tau kalau om Hengki meninggal mas"


"Apa? meninggal,,kok bisa?" tanya Raka


"Viana nggak tahu mas,,tadi tari telepon ngabarin kalau om Hengki meninggal, sekarang ada di rumah sakit Medika"


"Ya udah mas pulang sekarang ya"


"Iya mas hati-hati"


"Ada apa?" tanya Bagas yang baru dari luar rumah


"Pa kita harus pulang ke Indonesia sekarang"


"Memangnya ada apa?"


"Om Hengki pa,,om Hengki meninggal"


"Apa? Hengki meninggal" pekik Bagas terkejut


"Iya pa,,Agim pasti lagi butuh Raka sekarang.Ayo kita pulang"


"Iya"


Mereka langsung terbang ke Indonesia, untung saja Raka memang menggunakan pesawat pribadi saat berangkat kemarin jadi bisa di andalkan jika dalam keadaan darurat seperti ini.


Huaaaa papa Hengki bangun dongggg 😭😭😭


Turut berdukacita ya Agim sekeluarga..


Maapin author yang bikin kalian menangis disini 😭


Itulah kehidupan,ada duka di balik suka begitu juga sebaliknya 🙏🙏


Semoga selalu tabah ya Gim...

__ADS_1


Selamat untuk tari,,


__ADS_2