
Satu Minggu telah berlalu, semenjak Hengki meninggal rumah Agim jadi tampak semakin sepi.Sania juga sudah kembali normal, meskipun hatinya masih pedih saat mengingat suaminya.
Ia sudah belajar ikhlas,ia ingin suaminya bahagia di sisi yang maha kuasa. Agim sekarang sudah menggantikan posisi papanya,ia tidak lagi bekerja dengan Raka.
Raka kini sedang mencari sekertaris baru untuknya sendiri,ia sengaja mencari yang laki-laki karena takut istrinya cemburu.Baby Ken kini juga sudah semakin pintar menjahili daddynya,ia tak pernah tidur jika malam membuat Raka selalu mengantuk saat di kantor.
"Hari ini sekertaris baru akan datang ke kantor mas" kata Raka pada istrinya
"Laki-laki atau perempuan?"tanya Viana curiga
"Laki-laki sayang"
"Owwh,,iya nggak papa kalau laki-laki"
"Baby Ken sekarang suka ngerjain Daddy ya,,kalo malam nggak tidur kalo pagi baru tidur" Raka mencium pipi anaknya yang tengah terlelap di box bayi
"Iya mas,,nanti biar Viana aja yang jaga"
"No,,kamu tidur aja.kan seharian udah ngurusin Ken"
"Iya mas"
"Agim udah mulai ngurus kantor papanya ya mas?"
"Iya,udah dari kemarin"
"Tuhan memang maha adil ya mas,,ketika kita kehilangan seseorang pasti akan di ganti oleh seseorang yang lain" yang di maksud Viana adalah mengenai kehamilan tari.
"Iya sayang"Raka memeluk istrinya
"Ya sudah mas berangkat sekarang ya"
"Iya masku sayang"
Kini Jessy sedang berada di rumah tari, wanita itu sedang menemani Sania dan tari di rumah.
Jessy turut berdukacita atas meninggalnya papa Hengki,tapi ia juga senang karena tari sudah hamil.
"Kamu jangan capek-capek ya,,kasihan ponakanku"
"Iya-iya,kamu bawel banget sih" jawab tari mencubit pipi Jessy
"Terus kamu nyusul tari kapan Jess?" tanya Sania tersenyum
"Nggak tahu Tante,,pacar aja nggak punya"
"Yang bener?" tanya tari melirik sahabatnya
"Iya lah"
"Terus kak Reza di kemanain?" goda tari
"Apaan sih? aku nggak ada papa sama Reza"
"Kak Reza orangnya baik loh,,aku dukung banget kalo kamu jadian sama dia"
"Ih apaan sih,,udah ah jangan bahas cowok jelek itu lagi" Jessy cemberut
"Jangan terlalu membenci orang Jess,,nanti bisa jatuh cinta loh" nasehat Sania yang juga ikut tersenyum
"Ih,,kita itu nggak pernah akur Tante.Tiap ketemu pasti ribut"
"Bisa aja kalian emang jodoh"
Jessy hanya diam,kenapa dia malah membahas laki-laki itu.Reza sekarang sedang berada di luar kota,ia mengunjungi perusahaannya yang berada di sana.
__ADS_1
Itu artinya sudah satu Minggu ini ia tak bertemu dengan Reza.Apakah Jessy Rindu? entahlah hanya Jessy yang tahu.
Reza sedang duduk di kursi kebesarannya,menatap ponselnya dengan tatapan tak biasa.Ia mengharapkan seseorang meneleponnya,tapi seseorang itu tidak pernah peka.
"Masa dia nggak rindu sama gue sih?" tanya Reza pada dirinya sendiri
"Dasar cewek nggak peka" Reza kesal
"Ih kenapa gue berharap dia nelpon gue sih? apa gue suka sama dia"
"Aaahh" Reza mengacak rambutnya frustrasi
Tiba-tiba ponselnya berdering,dengan semangat ia mengangkatnya.Namun,senyumnya hilang saat mengetahui siapa yang meneleponnya.Intan,ya mantan kekasih Reza yang akhir-akhir ini selalu menghubunginya.
Reza merijek panggilan itu,ia kesal bukan main.Yang di harapkan siap yang datang siapa.
"Menyebalkan" Reza menekuk wajahnya
Jessy sudah di rumah,ia sedang merebahkan tubuhnya di ranjang.Ia beberapa hari ini tak semangat ke cafe,entah mengapa.
Jessy menatap ponselnya,tampak sepi karena tak ada yang menelpon.Ia meletakkan ponselnya lalu berjalan ke bawah untuk memasak makan siang.
Saat ia di dapur, ponselnya berbunyi menampilkan nama cowok jelek disana.Beberapa panggilan tak terjawab, akhirnya Reza mengentikan aksinya.Ia kesal dengan Jessy yang tak mengangkat teleponnya.
Saat masakan Jessy sudah siap di meja makan,ia mengambil ponselnya.Matanya terbelalak melihat banyak panggilan tak terjawab dari Reza.Jessy memang selalu memode hening ponselnya.
Ia bingung, apakah ia harus menelepon Reza balik? ah tidak! mau di taruh mana mukanya nanti.
Hati Jessy berdetak dengan kencang,saat Reza kembali meneleponnya. Apakah ia harus jawab? atau di biarkan saja? hmm
"Halo" Jessy dengan mode judes,ia tak mau Reza tau bahwa ia sedang deg-degan
"Halo,,lagi ngapain Lo?" tny Reza yang sama judesnya
"Ya terserah gue dong mau nelpon siapa aja,,btw Lo kemana aja sih dari tadi nggak di angkat"
"Tadi gue di dapur,,nggak kedengeran"
"Lo udah makan?" tanya Reza
"Kepo banget sih,, terserah gue dong mau makna atau nggak"
"Ya kan gue nanya,, kenapa jadi sewot gitu"
"Apaan sih?"
"Lo nggak nanya gue lagi apa gitu? udah makan apa belum gitu?" tanya Reza
"Hmm lagi apa?"
"Mikirin kamu" (dalam hati ya)
"Lagi di kantor,,mau makan siang tapi males"
"Sorry gue nggak nanya" Jessy menahan senyumnya
"Sialan"
"Btw Nanti kalau gue udah pulang kita jalan yuk" ajak Reza
"Males"
"Ntar gue beliin semua yang lo,,asal jangan gue yang bawa"
"Iyaaaa,,udah ya bay" Jessy mematikan sambungan teleponnya.Ia memegangi dadanya, Apakah ia jatuh cinta dengan Reza?? oh tuhannn batinnya.
__ADS_1
Reza tersenyum puas, sepertinya ada lampu hijau dari Jessy.Tapi mereka masih sama-sama gengsi untuk mengungkapkannya.
Sore ini Viana,Risa dan baby Ken akan berkunjung ke rumah keluarga Agim. Viana ingin menghibur mereka dengan baby Ken,agar Sania tak bersedih terus menerus.
"Kita mau kemana mommy?" tanya Risa
"Kita mau kerumahnya aunty tari kak"
"Asikk,,nanti mau ajak aunty tari main ah"
"Mainnya jangan capek-capek ya,, kasihan Dedek yang ada di perut aunty"
"Oke mommy"
"Apa sayang?" kata Viana saat Ken memegang dagunya
"Mau minum mommy" jawab Risa menirukan suara anak kecil
"Kakak bisa aja" Vian menoel hidung gadis kecil itu.
Mereka sudah sampai di halaman rumah Sania,viana turun bersama Risa dan masuk ke dalam.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" pembantu di rumah sania membukakan pintu.
"Eh nyonya,, silahkan masuk"
"Terimakasih,,Tante Sania sama tari ada?" tanya Viana
"Ada nyonya,, sebentar saya panggilkan"
Viana Duduk di sofa ruang tamu sambil menyusui Ken,ia sudah tak malu lagi sekarang.
"Viana"Panggil Sania sambil menuruni tangga
"Tante" Viana berdiri untuk meyalami Sania
"Apa kabar?" tanya Sania
"Alhamdulillah baik Tante,,Tante sendiri gimana?"
"Tante juga baik"Sania tersenyum tipis
"Tarinya dimana Tante?"
"Ada,tadi di kamarnya"
"Mbak" panggil tari dengan suara lemas
"Kamu kenapa?"
"Tari habis muntah-muntah mbak,,lemes banget jadinya"
"Emm sabar ya,,memang seperti itu kalau masih trimester pertama.Mbak dulu juga gitu."
"Iya mbak"
Mereka mengobrol bersama,membahas apapun yang bisa di bahas.Biasa lah ya,,wanita jika sudah berkumpul pasti ada saja yang jadi bahan ghibahnya.
Happy reading gayysss
Mohon maaf ya kalo garing,,
😍😍😍😍😍
__ADS_1