BEDA USIA? TAK MASALAH

BEDA USIA? TAK MASALAH
Rivan Takut Bundanya Di Ambil


__ADS_3

"Sudah ah, ayah bobo aja, bunda sama Rivan nyebelin" jawab Rendra kembali menutup dirinya dengan selimut


Fatimah hanya tertawa melihat tingkat sang suami yang seperti Rivan, sedangkan Rivan asik bermain mainan yang disediakan oleh Fatimah.


Fatimah kembali memikirkan Rivan, anaknya juga butuh kehidupan yang lebih layak, apalagi Rendra mampu untuk memenuhi kebutuhan Rivan, Fatimah berpikir Dito dan Ayu pernah merasakan hidup enak dengan Rendra, berarti sekarang Rivan pun saatnya mendapatkan hasil kerja ayahnya selama ini.


Pagi hari Rivan seperti biasa sudah rapih dengan pakaian Galabiyya atau biasa disebut dengan jubah asal mesir, Rivan selalu ikut Kyai Bahri mengajar mengaji dan ilmu-ilmu lainnya bersama para santri.


"Anak ayah sudah tampan sekali" ucap Rendra menghampiri anak dan istrinya di meja makan


"Iya dong, Lipan kan cowo jadi tampan" sahut Rivan nyengir menunjukan giginya yang rapih


"Benar sekali anak ayah, hari ini Rivan mau ikut kakek Bahri lagi?" tanya Rendra pada Rivan


"Lipan mau pandai Al Qur'an, pandai ibadah, supaya Lipan bisa bawa ayah dan bunda ke sulga" jawab Rivan, mampu membuat Fatimah dan Rendra terharu


"Aamiin, semoga anak ayah selalu berada di jalan Allah SWT, menjadi anak yang soleh dan bisa mendoakan ayah bundanya" ucap Rendra mencium kening Rivan


"Bunda bangga sama Rivan, makanya Rivan harus rajin mengaji dan belajar ya" sahut Fatimah


"Pasti dong bunda" jawab Rivan semangat


"Sekarang kita makan dulu, Rivan yang pimpin doa makan, ayah ingin dengar" ucap Rendra


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar.


Artinya: "Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Ya Allah, berkahilah rezeki yang Engkau berikan kepada kami, dan karuniakanlah rezeki yang lebih baik dari itu dan peliharalah kami dari siksa api neraka."


Rendra dan keluarga kecilnya sarapan bersama sebelum melakukan aktivitas masing-masing, selama makan sangat hening, karena Rendra memang melarang siapapun di larang bicara saat sedang makan, kecuali sudah selesai semua.


Rivan makan tanpa disuapi jadi sedikit lebih lama, Rendra dan Fatimah tetap setia menunggu anaknya hingga makanan di dalam piringnya habis tak tersisa.


"Alhamdulillah, sudah habis makanan aku" ucap Rivan senang


"Alhamdulillah" sahut Rendra dan Fatimah tersenyum pada Rivan


"Habis makan lalu apa?" tanya Rendra pada anaknya


"Beldoa dulu sesudah makan" jawab Rivan


"Pandai anak ayah, ayo Rivan lagi yang membaca doanya" ucap Rendra


اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ اَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِيْنَ


Alhamdulillahi ladzi ath-amanaa wa saqaana waja'alanaa minal muslimiin.


Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan telah memberi kami minum, dan menjadikan kami termasuk orang yang patuh.


"Aamiin" ucap mereka bertiga

__ADS_1


"Bunda hali ini jualan ya sama ayah" tanya Rivan


"Tidak sayang, bunda dirumah hari ini nuggu Rivan pulang saja" jawab Fatimah


"Ayah" sahut Rivan


"Hemm, gimana ya, ayah dirumah saja deh sama bunda" ucap Rendra mengetes anaknya


"Lipan juga dilumah aja deh sama bunda" sahut Rivan tiba-tiba


"Katanya mau jadi anak soleh masa tiba-tiba berubah pikiran" ucap Fatimah menahan tawa


"Nanti kalau Lipan tinggalin bunda hanya beldua dengan ayah, bunda di ambil ayah, nanti Lipan sama siapa?" jawab Rivan sedih


"Bukan begitu juga kali konsepnya bocah" gerutu Rendra


"Ayah, bicaranya dijaga dong" tegur Fatimah


"Maaf deh, begini anak ayah sayang, bunda akan selalu sama Rivan, ayah hanya menjaga bunda agar tidak ada yang bawa bunda pergi" ucap Rendra memberi pengertian pada sang buah hati


"Benelan begitu, ayah tidak bohong pada Lipan" jawab Rivan


"Kata Rivan berbohong itu dosa, jadi ayah mana berani bohoongin Rivan, ya kan bunda" ucap Rendra melihat ke arah Fatimah dan Rivan lagi


"Iya sayang, bunda akan selalu sama Rivan, Rivan berangkat saja mengaji ya" sahut Fatimah membersihkan wajah Rivan


"Assalamualaikum" ucap Kyai Bahri


"Cucu kakek sudah siap belum" tanya Kyai Bahri masuk ke dalam rumah


"Sudah nih, cuma lagi sedih aja hari ini" sahut Fatimah


"Uluh sedih kenapa cucu kakek, hemm" ucap Kyai Bahri mencium pipi Rivan


"Tadi bunda Lipan mau di culik sama ayah" jawab Rivan, Kyai Bahri bingung dengan ucapan sang cucu


"Kakek belum paham sayang, masa ayah menculik bunda" ucap Kyai Bahri


Fatimah menjelaskan drama apa yang terjadi sebelum Kyai Bahri datang, dan menceritakan ketakutan Rivan melihat Fatimah hanya berduaan dengan Rendra, Kyai Bahri hanya tersenyum mendengar cerita anaknya.


"Nanti kakek panggilin Nenek untuk jagain bunda, supaya tidak berduaan dengan ayah, sekarang kita berangkat sudah kesiangan" ucap Kyai Bahri menggandeng tangan cucunya


"Iya, panggil nenek saja untuk jagain bunda" sahut Rivan


"Bunda, nanti jangan lupa panggil nenek ke sini ya, untuk jagain bunda, kakek sama Rivan mau berangkat dulu" ucap Kyai Bahri


"Oke kakek" jawab Fatimah tersenyum


"Bunda, Lipan berangkat dulu ya, Assalamualaikum" ucap Rivan mencium tangan Fatimah dan Rendra bergantian


"Wa'alaikumsalam, belajar yang benar ya nak" jawab Fatimah dan Rendra

__ADS_1


"Dasar Rivan, ada-ada saja masa aku menculik istriku sendiri" ucap Rendra pelan


"Namanya anak-anak begitu, aku telpon ibu dulu, minta tolong kesini, supaya nanti tidak bohong dengan Rivan" sahut Fatimah


"Beneran mau panggil ibu ke sini, baru mau berduaan" ucap Rendra cemberut


"Hanya dipanggil minta tolong doang, supaya kalau Rivan bertanya aku tidak bohong" jawab Fatimah


"Ayah ke kamar aja deh, hari ini terasa lelah ayah" ucap Rendra berjalan ke arah kamar


"Ayah sakit?" tanya Fatimah lembut


"Tidak, hanya lemas saja badannya" jawab Rendra tersenyum


Fatimah membuatkan air jahe untuk suaminya, Ibu Yayi juga ada dirumah Fatimah, lagi-lagi Fatimah menjelaskan kronologinya pada sang ibu.


Ibu Yayi hanya tertawa mendengar cerita tingkah lucu cucunya, tidak habis pikir Rendra akan menculik Fatimah. Sudah beberapa menit ibu Yayi pamit pulang, dia harus mengajar santriwati lainnya karena ada beberapa ustadzah yang berhalangan untuk datang.


Air jahe yang Fatimah buat juga sudah siap untuk diberikan pada Rendra.


Ceklek... suara pintu


"Ayah, bobo lagi?" tanya Fatimah meletakan gelas jahe di meja dan memegang wajah suaminya


"Tidak" jawab Rendra pelan


"Ayah demam ini, kebiasaan deh, selalu ditutupi kalau sedang sakit" ucap Fatimah mengambil waslap dan air untuk menurunkan demam suaminya secara tradisional sebelum minum obat, tidak lupa juga Fatimah memberikan air jahe yang telah dia buat untuk suaminya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara


👍🏼 Like


📝 Komen


🎁 Hadiah


🎟️ Vote


Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :



Cinta Zavier untuk Aisyah 👍🏼📝🎁🎟️


Kesetiaan Cinta Yusuf 👍🏼📝🎁🎟️



Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.

__ADS_1


__ADS_2