
Satu minggu keluarga kecil Rendra kembali ke rumahnya yang lama. sejak kemarin Fatimah tidak enak badan, tetapi dia menahan dan menyembunyikan rasa sakitnya.
"Ayah, bunda kenapa belum bangun" ucap Rivan memakan buah
"Rivan tunggu sini, ayah cek bunda dulu" jawab Rendra, dia juga heran, biasanya Fatimah selalu bangun lebih awal, menyiapkan sarapan untuk Rendra dan Rivan
"Lipan ikut" ucap Rivan merentangkan tangannya, terpaks Rendra membaw Rivan
Rendra memegang dahi Fatimah dengan lembut.
"Ya Allah, Fatimah demem" lirih Rendra "Sayang, jagain bunda ya, ayah mau mengambil makanan dan obat" ucap Rendra
"Bunda sakit?" tanya Rivan pada Rendra
"Iya, insyaallah hanya sebentar saja sakitnya" jawab Rendra meninggalkan Rivan dan Fatimah di kamar
Seminggu ini Fatimah selalu berargumen dengan papih Ammar, dia juga sering tidak menanggapi ucapan papih Ammar, belakangan ini papih Ammar memang berubah menurut Fatimah.
"Sayang bangun" ucap Rendra mengelus pipi Fatimah
"Bunda bangun" sahut Rivan ikut menyentuh wajah Fatimah
"Hemm" suara deheman Fatimah, berat sekali untuk membuk mata
"Sayang, sarapan yuk, setelah itu minum obat" ucap Rendra pelan
"Nanti saja, aku masih lemas" jawab Fatimah pelan
"Justru itu, bunda harus makan" ucap Rendra
"Bunda ayo makan" tutur Rivan memegang tangan Fatimah
Fatimah berusaha untuk posisi duduk dibantu oleh Rendra.
"Kalian sudah makan?" tanya Fatimah dengan mata sayu nya
"Lipan tadi makan banyak bunda" jawab Rivan semangat
"Pintar, Rivan harus menjadi anak yang soleh ya" ucap Fatimah
"Iya bunda" jawab Rivan
Rendra menyuapi Fatimah, selama menikah dengan Fatimah, Rendra tidak pernah melihat Fatimah sakit selemas ini.
Apa Fatimah tertekan dengan ucapan papih dari kemarin yang selalu menyudutkan dirinya. batin Rendra
Setelah sarapan dan meminum obat, Fatimah kembali tidur, dia merasa sangat sakit kepalanya, dan tidak kuat jika terlalu lama untuk duduk.
"Rivan main dengan ayah dulu ya, bunda mau istirahat" ucap Rendra
"Lipan mau jagain bunda saja" jawab Rivan
"Boleh, tapi jangan di ganggu ya bundanya" ucap Rendra
Seharian Rivan bermain di kamar, sesekali dia memandang wajah bundanya, yang terlihat pucat dan lemas, hari ini juga Rivan belum melihat senyuman bundanya.
Rivan mengelus-elus wajah sang bunda dengan tangan mungilnya itu.
"Lipan sayang bunda" ucap Rivan mencium bundanya
__ADS_1
Rendra yang menemani Rivan bermain terlelap di sofa, jadi tidak memantau anaknya.
Tiga hari berlalu, kondisi Fatimah masih sama saja, keadaan tidak baik, Rendra sampai kerepotan karena Rivan selalu merajuk dan meminta sesuatu, sedangkan dia juga harus fokus menjaga Fatimah, Fatimah hanya di rawat dirumah, Rendra tidak mengizinkan istrinya di bawa kerumah sakit.
Dengan selang infus yang terpasang membuat Rivan terpaksa tidur dengan Dito, setiap malam Rivan selalu mengamuk ingin bersama sang bunda, tapi Rendra melarangnya, takut Rivan menganggu Fatimah.
"Sayang, apa yang kamu rasakan?" tanya Rendra saat melihat istrinya terbangun di tengah malam
"Haus" jawab Fatimah, Rendra memberikan minum pada istrinya
"Mau apalagi? ada yang dirasa tidak?" tanya Rendra lagi
"Rivan mana?" tanya balik Fatimah
"Tidur bersama Dito untuk sementara" jawab Rendra
Huaa... hua... terdengar suara tangisan Rivan dari luar kamar Rendra
Dito dan bibi mencoba menenangkan anak kecil itu, sayangnya Rivan tidak kunjung diam dan terus saja menangis ingin tidur bersama Fatimah.
"Bi, gimana ini, Dito tidak terlalu ngerti menenangkan anak kecil" ucap Dito panik
"Tuan muda, sudah ya jangan menangis lagi, nanti kalau tuan muda sedih bunda juga akan sedih" tutur bibi
Huaa... huaa... tangisan semakin kencang
"Lipan mau sama bunda" teriak Rivan keras sambil menangis
"Tidak boleh teriak, nanti tenggorokan Rivan sakit dek" ucap Dito menggendong Rivan
Rivan terus saja memberontak tidak mau di gendong oleh siapapun
"Itu Rivan nangis, bawa saja kesini, kasihan" ucap Fatimah
"Nanti dia akan ganggu istirahat bunda" jawab Rendra
"Dia tidak akan ganggu, bawa Rivan kesini" ucap Fatimah
Rendra berlari ke lantai atas menuju kamar Dito.
"Anak ayah kenapa nangis" ucap Rendra menggendong Rivan yang duduk di lantai
"Bunda" sahut Rivan
"Ayo kita bobo sama bunda, Rivan harus janji tidak ganggu bunda" ucap Rendra, Rivan pun senang
Sampai di kamar Rivan memeluk Fatimah dengan erat, dia takut kehilangan bundanya.
"Rivan sudah janji pada ayah, tidak ganggu bunda" ucap Rendra
"Lipan tidak ganggu, Lipan hanya kangen bunda, Lipan mau telus sama bunda" jawab Rivan
"Humm, Rivan" ucap Fatimah
"Bunda, maapin Lipan ya, Lipan ganggu bunda bobo" jawab Rivan merasa bersalah bundanya bangun
"Tidak apa-apa sayang, Rivan bobo ya, jangan menangis lagi" ucap Fatimah
"Iya, Lipan mau bobo dipeluk bunda" jawab Rivan memeluk kembali bundanya
__ADS_1
Pagi hari Rendra menyiapkan sarapan untuk istri dan anaknya, Rivan masih terlelap bersama Fatimah, semenjak Fatimah sakit Rivan sulit untuk tidur, mungkin karena ada jarak antara Rivan dan Fatimah yang membuat anak kecil itu susah sekali tidur.
Rendra membangunkan Rivan dengan pelan, agar Fatimah tidak ikut terbangun.
"Rivan, bangun dong" ucap Rendra pelan
"Lipan ngantuk" jawab Rivan tanpa membuka mata
"Puma sama Pumi belum di kasih makan, kakek Ramli datang" ucap Rendra, Rivan membuka matanya menjadi segar dan dia berlari kecil keluar dari kamar, Rendra mengikuti dari belakang
Sementara Rivan bermain dengan Ramli, Rendra membangunkan sang istri.
"Sayang, bangun" ucap Rendra mengelus wajah Fatimah yang masih pucat
"Jam berapa ini" jawab Fatimah berat untuk membuka mata
"Sekarang jam delapan pagi, ayah bawain sarapan dan obat" ucap Rendra pelan
"Bunda mau bersih-bersih dulu" jawab Fatimah
"Sini ayah bantuin" ucap Rendra membantu membersihkan tubuh Fatimah, Fatimah tidak mandi hanya saja di basuh dengan kain basah layaknya baby.
Fatimah sarapan di dalam kamar, Rendra setia menemani Fatimah hingga selesai makan dan minum obat, setelah merapihkan tempat makan dan lain-lain, Rendra kembali ke dalam kamar.
"Bunda memikirkan apa?" tanya Rendra pelan
"Tidak ada yang dipikirkan" jawab Fatimah
"Maaf, jika papih belakangan ini lebih banyak mengatur untuk keluarga kita" ucap Rendra
"Hemm" Fatimah hanya berdehem dan malas membahas papih Ammar
"Bunda marah sama papih?" tanya Rendra
"Untuk apa bunda marah dengan papih, bunda justru marah dengan ayah, seharusnya sebagai kepala rumah tangga ayah itu sudah bisa memilah mana yang pas untuk keluarganya, bukan menurut mana yang pas sesuai papih, bunda terkadang berpikir tiba-tiba, apa bunda salah menikah dengan ayah? tetapi melihat sikap ayah dan papih membuat pertanyaan bunda itu benar, bahwa bunda benar-benar salah menikah dengan ayah, karena apa? karena kalian manusia berkuasa dan tidak mau di bicarakan baik-baik, sesuka hati kalian saja berdua" jawab Fatimah menahan pusing di kepalanya
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.
__ADS_1