
"Wow, ada pelosotan dan ayun-ayun" sahut Rivan dengan mata berbinar terpukau dengan taman bermain
Ceklek ... suara pintu kamar terbuka
"AYAH!!" teriak Fatimah
"Ada apa?" tanya Rendra kaget bersama Rivan
"Kenapa Rivan dikasih pegang handphone" ucap Fatimah menghampiri anak dan suaminya
"Tadi ayah kasih lihat foto-foto kita dirumah lama" jawab Rendra
"Rivan tidak boleh pegang handphone nanti kebiasaan" ucap Fatimah
"Hanya sekali ini doang" jawab Rendra
"Lipan mau lihat poto" sahut Rivan menunduk
Fatimah merasa bersalah karena tadi mengagetkan dua orang tersebut karena dia panik anaknya main handphone.
"Maafin bunda ya sayang, bunda bukan bermaksud melarang Rivan main handphone, hanya saja Rivan belum cukup umur, nanti kalau sudah besar pasti boleh" tutur Fatimah memeluk Rivan
"Lipan lagi lihat poto lumah, kata ayah akan pindah ke sana" sahut Rivan sendu
"Sudahlah tidak apa-apa, kita hidup dijaman modern, wajar saja Rivan ingin pegang handphone" ucap Rendra dengan santainya
"Justru ini jaman modern harus hati-hati, ponsel itu tidak bagus radiasinya untuk anal-anak, kalau mau kasih lihat foto, ayah bisa sambungkan ponsel tersebut ke tv" jawab Fatimah tidak membenarkan ucapan Rendra
"Jangan terlalu kuno bun" sahut Rendra
"Kalau aku bilang tidak boleh ya tidak boleh" ucap Fatimah membawa Rivan keluar dari kamar kesal dengan Rendra
"Heh, perkara kecil aja repot jadinya" gerutu Rendra bangun dari duduknya menyusul Fatimah dan Rivan
Diruang tv
"Rivan bobo sini aja ya" ucap Fatimah menidurkan Rivan di sofa sederhananya
"Lipan mau lihat poto" sahut Rivan meminum susunya
"Iya nanti bunda ambil ponsel dulu, terus di sambungkan ke tv ya" ucap Fatimah hendak berdiri
"Di kamar saja yukk, ayah sambungkan ke tv" sahut Rendra
"Disini saja ayah" jawab Rivan
"Supaya nontonnya enak, badan Rivan juga tidak sakit" ucap Rendra menggendong Rivan, Fatimah hanya diam saja tidak banyak bicara
"Bunda, ayo ke kamal temani Lipan" panggil Rivan melambaikan tangannya
"Iya, Rivan duluan ya sama ayah" jawab Fatimah tersenyum pada Rivan
Apa Fatimah marah sama aku. batin Rendra
Rendra masuk ke dalam kamar merebahkan Rivan di kasur dan menyalakan tv yang sudah disambungkan ke ponselnya.
"Rivan tunggu sini sebentar, oke" ucap Rendra
"Oke ayah, jangan lama ya" jawab Rivan, Rendra menganggukan kepala, lalu keluar mencari Fatimah
__ADS_1
Rendra ke arah dapur dan melihat Fatimah disana sedang membereskan peralatan masak.
"Bunda marah sama ayah?" tanya Rendra memeluk Fatimah dari belakang
"Tidak" jawab Fatimah singkat
"Kata tidak itu berarti kebalikannya berarti iya" ucap Rendra, Fatimah hanya diam saja tidak merespon ucapan suaminya
"Ayah minta maaf, lagi pula ini kan pertama kali Rivan memenag ponsel, jadi menurut ayah tidak apa-apa, ayah juga tidak ingin anak ayah kenapa-kenapa" tutur Rendra mencium bahu Fatimah
"Terserah ayah saja" jawab Fatimah
"Sudah dong jangan marah, ini hanya perkara biasa, bun" ucap Rendra pelan
"Tidak ada yang marah" jawab Fatimah
"Ayah paling males melihat bunda yang marah seperti ini" ucap Rendra
"Kalau males tinggalin aja, jagain Rivan di kamar" jawab Fatimah
"Ini masalah sepele bun, ayah tidak akan memberikan Rivan ponsel lagi, ayah janji deh" ucap Rendra
"Hemm" sahut Fatimah
"Bicara yang benar, jangan sampai ayah yang emosi" ucap Rendra
"Daripada emosi pergi aja, masuk ke kamar sana" jawab Fatimah
Brakkk...
Rendra kesal dan menendang kursi meja makan membuat Fatimah kaget dan kembali ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar
"Ayah, bunda mana?" tanya Rivan
"Ada di dapur lagi beresin barang sebentar" jawab Rendr tenang dan ikut merebahkan dirinya di samping Rivan
Sudah lama aku tidak berantem dengan Fatimah, dan hari ini kembali berantem hanya gara-gara ponsel, konyol sekali. batin Rendra mengelus kepala Rivan dengan kasih sayang
Rivan tertidur saat melihat foto-foto yang ada di tv, Rendra mematikan tv dan ponselnya, lalu mengirim chat pada mama Alisha bahwa bulan depan dia dan keluarganya akan pindah lagi ke rumah lama, dan meminta tolong agar rumah lama di cek takut ada kerusakan dan lain-lain.
Semoga saat pindah lagi kerumah sana tidak ada yang ganggu kehidupan ku seperti wanita ular kemarin. batin Rendra
Karena sejak tadi Rendra lagi kurang sehat, maka dia ikut tertidur bersama Rivan sambil memeluk anaknya.
Fatimah masuk ke dalam kamar ingin memberikan cemilan untuk anaknya.
"Ternyata mereka tidur" lirih Fatimah
Dengan penuh perhatian Fatimah menyelimuti anak dan suaminya tidak lupa juga di memegang dahi suaminya masih demam atau tidak.
"Alhamdulillah sudah tidak demam, aku masak buat makan siang saja deh" ucap Fatimah pelan
Fatimah memasak di dapur, menyediakam makanan kesukaan Rivan dan Rendra, dan membuat puding buah. Selesai memasak Fatimah membersihkan diri lalu mencoba membangunkan suaminya terlebih dahulu.
"Ayah, bangun" panggil Fatimah menggoyangkan lengan suaminya
"Hemm, ada apa" sahut Rendra suara khas bangun tidur
__ADS_1
"Makan siang dulu, bunda sudah sediakan air jahe lagi di meja makan" ucap Fatimah memegang dahi Rendra
Rendra menatap Fatimah dengan heran.
"Sudah tidak marah?" tanya Rendra pelan
"Dari awal bunda bilang tidak marah" jawab Fatimah
"Masih mau marah apa tidak?" tanya Rendra
"Mau makan siang apa tidak, kalau tidak mau ya sudah bunda kasih ke oranglain masakan bunda" tanya balik Fatimah
"Kasihkan saja sana ke orang, ayah tidak mau makan" jawab Rendra sengaja memancing istrinya
Fatimah langsung meninggalkan Rendra di kamar, dan benar saja Fatimah membagikan makanan yang dia masak pada tetangga sebelah yang di luar pondok.
Rendra serta Rivan ternyata sudah bangun dan duduk di kursi meja makan, mencari Fatimah tadi mereka tidak menemukannya.
"Bunda, Lipan mau makan" ucap Rivan
"Masak telur dadar saja ya" jawab Fatimah pelan
"Bunda bilang tadi masak" sahut Rendra
"Bukannya tadi juga ayah yang menyuruh bunda membagikan makanan semuanya pada orang" jawab Fatimah badmood
Rendra terdiam, dia berpikir Fatimah tidak akan melakukan hal itu.
"Masa Rivan makan telur dadar doang" ucap Rendra tidak terima
"Rivan mau kan hanya makan telur dadar?" tanya Fatimah pada Rivan mengabaikan suaminya
"Mau bunda, pakai sosis ya" jawab Rivan senang
"Oke" sahut Fatimah
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.
__ADS_1