
"Boleh minta sesuatu?" tulis Rendra bertanya
"Minta apa" jawab Fatimah menatap wajah suaminya yang terlihat adem dan damai
Rendra menulis kembali sambil tersenyum sendiri.
"Minta dicium sama istri" tulis Rendra
Fatimah membacanya lalu ikut tersenyum
"Tiap pagi juga kan aku cium" jawab Fatimah tersenyum melihat ekspresi suaminya
"Itukan cium nya hanya di kening, aku mau dicium di tempat lain" tulis Rendra
"Ternyata suamiku menggemaskan ya" ucap Fatimah tertawa mencubit pipi suami
Rendra hanya cemberut melihat Fatimah tertawa. Fatimah melihat suami cemberut semakin gemas, akhirnya dia menuruti suami untuk menciumnya.
Cup... cium Fatimah di bibir suami
"Udah kan, jangan cemberut lagi ya" ucap Fatimah memegang kedua pipi suaminya, Rendra tersenyum senang istrinya menuruti keinginan dia.
Tok...tok..tok ketukan suara pintu
"Aku buka pintu dulu ya" ucap Fatimah tersenyum manis, berjalan membuka pintu
"Iya bi ada apa?" tanya Fatimah lembut menutup pintu kamarnya
"Itu ada yang kirim makanan katanya pesanan ibu, tapi sudah dibayar sama non Nabila, bibi taro di meja makan" jawab bibi ramah
"Nabila nya kemana bi?" tanya Fatimah mengajak bibi ke meja makan
"Ada diruang tv bu, antara lagi nonton tv sama main ponsel bu, tv menyala, tapi tatapan ke ponsel dan tersenyum peluk-peluk bantal sofa" jawab bibi menceritakan apa yang dia lihat
"Mungkin lagi jatuh cinta kali bi" ucap Fatimah tersenyum
"Bisa jadi bu, tapi apa mungkin pak Haikal kekasih non Nabila?" tanya bibi penasaran
__ADS_1
"Kenapa Haikal?" tanya Fatimah balik
"Belakangan ini, pak Haikal sering sekali ke rumah ini untuk jemput non Nabila, lalu pulang juga non Nabila di antar kembali dengan pak Haikal, semalam pas makan juga lagi videocall sama pak Haikal posisinya sama-sama di meja makan bu" jawab bibi antusias
"Hemm, semoga aja Haikal laki-laki yang tepat untuk Nabila, aku kan ngga tau sifat dan sikap teman mas Rendra itu yang katanya trio gesrek" ucap Fatimah memisahkan martabak dari kotaknya ke piring
"Setau bibi, trio gesrek orangnya baik-baik bu, selama ini tidak pernah bermasalah, papih Ammar sudah menganggap mereka semua keluarga, terlebih pak Devan dia terlihat konyol tapi hatinya baik bu, dia anak yatim piatu, dulu pak Rendra kemana-mana selalu dengan pak Devan" jawab bibi mengingat kebaikan Devan
"Kalo satu lagi siapa namanya bi, yang kemarin bantuin Ayu berbisnis?" tanya Fatimah mengetes bibi
"Oh itu mah pak Rama bu, orangtuanya bekerja dengan mamih Nasya sebagai orang kepercayaan, lalu mamih Nasya meninggal kedua orangtua pak Rama memilih bertani kembali, pak Rama di didik dan disekolahkan oleh papih Ammar, karena jasa orangtua pak Rama, mamih Nasya bisa bangkit dari keterpurukannya, bibi juga ngga tau sih dulu mamih Nesya itu terpuruk kenapa" jawab bibi mengenang selama dia bekerja di keluarga Rendra
"Makanya trio gesrek itu menjadi sahabat mas Rendra sekaligus sodara ya bi" ucap Fatimah sedikit tau asal usul trio gesrek
"Oh ya bi, ini ada martabak, yang satu bungkus bagi-bagi dengan pak satpam dan supir ya bi, ini yang sisa saya untuk Dito atau Nabila, Ayu jarang mau makan beginian" ucap Fatimah lagi dan pergi meninggalkan bibi di meja makan
Ceklek ...pintu kamar terbuka
Fatimah melihat ke arah Rendra dan Rendra melihat istrinya masuk tersenyum manis, Fatimah jalan mendekat ke arah suaminya, duduk di sisi ranjang.
"Ini enak loh mas, cobain deh" ucap Fatimah menyodorkan sendok berisi martabak ke mulut suaminya, Rendra dengan senang hati membuka mulutnya dan menerima suapan dari sang istri tercinta.
"Enak kan martabaknya" tanya Fatimah pada suaminya, Rendra hanya menganggukan kepala sambil tersenyum
"Maaf ya, empat bulanan anak kita kemarin gagal gara-gara aku" tulis Rendra
Fatimah yang melihat Rendra menulis meletakan piringnya di atas meja samping tempat tidur dan membaca tulisan Rendra.
"Itu semua sudah kehendak, kita manusia hanya bisa berencana tapi kenyataannya Allah yang menyetujui atau tidak rencana yang telah kita buat, mungkin ini yang terbaik, jadi jangan menyalahkan diri kamu sendiri, dan aku juga minta sama kamu jangan berbohong lagi dalam hal apapun, kita harus sama-sama terbuka setiap kali ada masalah, aku harap yang kemarin adalah terakhir kalinya kamu berbohong pada kita semua" ucap Fatimah menegaskan pada Rendra agar bisa menjalin rumah tangga tanpa kebohongan apapun
Rendra menatap Fatimah dengan raut wajah sedih, dia ingat kebohongan yang sudah dilakukan sebelum terjadi kecelakaan. Rendra menunduk malu sama istrinya, kebohongan yang dia buat diketahui Fatimah.
Entah kenapa Fatimah melihat suaminya menunduk dan menangis hatinya tidak tega, dia mengelus wajah suaminya dan memberikan ketenangan untuk suaminya.
"Maaf, bukan maksud aku memarahi kamu atau bagaimana, lebih baik kita lupakan saja kejadian yang kemarin dan kita sama-sama memperbaiki diri ya" ucap Fatimah memeluk suaminya, Rendra pun membalas pelukannya dengan satu tangan.
Tok...tok..tok ...
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, ayah, ibu" panggil Dito dari luar kamar
"Wa'alaikumsalam" ucap Fatimah dan Rendra dalam hati
"Itu Dito, aku lihat dulu ya" ucap Fatimah pada suaminya
Ceklek .....
"Tumben pulang sekolah sore" tanya Fatimah pada anak laki-lakinya itu
Dito mencium tangan ibunya "Tadi ada eskul dulu bu, makanya telat pulang, maaf ya bu" jawab Dito melirik ke arah ayahnya
"Mau ketemu ayah?" tanya Fatimah lembut, Dito menganggukan kepala cepat dan senang
Fatimah membukakan pintu kamarnya lebih lebar lagi agar Dito bisa masuk kedalam menemui ayahnya.
Dito sedikit berlari saat menghampiri ayahnya, dan mencium tangan ayahnya, Rendra dengan senang hati membalas mencium tangan Dito.
"Tangan ayah sudah bisa bergerak" ucap Dito senang dan baru tau ayahnya bisa bergerak
"Alhamdulillah, tangan ayah sudah bisa digerakan tinggal tangan satu lagi yang belum, masih belajar, pelan-pelan pasti akan pulih seperti sedia kala" ucap Fatimah lembut mengelus kepala Dito
"Alhamdulillah, Dito yakin sebelum dedek yang ada di dalam perut bunda lahir, ayah sudah bisa bergerak seperti dulu" jawab Dito senang mengelus perut ibunya yang terlihat membesar
"Aamiin, doain ayah terus ya" ucap Fatimah menatap suaminya
"Mendoakan ayah itu pasti dong bu, ayah harus rajin terapi, dan semangat untuk sembuh biar kita bisa bermain sama-sama lagi" jawab Dito antusias
"Kamu sudah mandi nak?" tanya Fatimah pada anaknya
"Sudah bu, sebelum kesini Dito mandi dulu, masa mau ketemu ayah Dito banyak kumannya" jawab Dito senyum
"Di meja ada martabak, tadi ayah pesan lewat online, kamu makan sana, istirahat kalo ada tugas kerjakan dari sekarang" ucap Fatimah mengingatkan anaknya
"Baik ibu, Dito mau ngerjain tugas dulu deh, ayah Dito ke kamar dulu ya" ucap Dito mencium pipi ayahnya tiba-tiba dan berlari keluar kamar
Fatimah dan Rendra hanya saling pandang melihat tingkah Dito yang aneh.
__ADS_1