
"Kalau Lipan boleh ikut, nanti Lipan janji deh jadi anak yang baik dan soleh" ucap Rivan masih membujuk ayah bundanya.
"Rivan, ikut atau tidak Rivan tetap harus menjadi anak baik dan soleh, jadi Rivan harus ikuti kata bunda dan ayah" jawab Dito menimpali
"Ya sudah deh Rivan tidak jadi ikut" sahut Rivan menunduk sedih
Hati Rendra sebenarnya tidak tega melihat Rivan, dia juga tidak mau bermasalah lagi dengan istrinya apabila menuruti keinginan Rivan saat ini, Rendra baru saja berucap ingin merubah semuanya tidak mungkin dia seketika mengingkari.
"Disini banyak mainan, Rivan juga punya kuda, bagaimana besok pagi-pagi kita bermain, bisa kasih makan kuda pagi-pagi, lalu kita juga bisa berenang bareng dan main permainan Rivan yang lainnya" tutur Rendra menghibur Rivan, Rivan hanya menganggukan kepalanya saja
Fatimah sengaja diam, ingin tau apakah suaminya menuruti keinginan Rivan atau bisa merayu Rivan.
"Adik abang yang tampan jangan sedih dong, nanti abang ikutan sedih" sahut Dito lebih dekat dengan adiknya
"Lipan tidak sedih" jawabnya dengan mata berkaca-kaca
"Malam ini bobo sama abang yuk, abang mau tuangin ikan yang tadi siang kita beli, nanti Rivan bisa lihat ikannya berenang bebas di dalam kotak kaca" ucap Dito kembali menghibur Rivan
"Lipan bobo disini aja" jawab Rivan tiduran memeluk guling minionnya
"Dito kembali saja ke kamar, biarkan adikmu mengambek, nanti juga akan reda sendiri" ucap Fatimah melihat Dito ikut tidak tega pada Rivan
"Tapi kasihan bun, dia jadi diem begitu, seperti bukan Rivan biasanya" jawab Dito menatap adiknya yang memejamkan matanya tapi tidak tidur
"Bunda sudah sering kali bilang, tidak semua yang dia inginkan harus dipenuhi, semua ada batasnya, hal yang berlebihan juga tidak baik" ucap Fatimah tegas
"Maaf bun" jawab Dito pelan
Hikss... hikss... suara isakan tangis
"Dia nangis bun, tapi matanya menutup" sahut Dito mendengar dan melihat adiknya
"Biarkan saja, tidak akan lama" ucap Fatimah
Rivan menangis pelan di tutupi Minions nya, Rendra hanya menatap anaknya sendu, Fatimah melirik suaminya, apakah kuat suami melihat Rivan seperti itu.
"Ayah keruang tv dulu ya" ucap Rendra tidak kuat melihat Rivan, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kamar supaya tidak melihat anaknya nangis
"Kenapa dengan ayah bun?" tanya Dito heran
"Tidak kuat melihat anaknya menangis, sudah sana kamu istirahat, besok harus perjalanan jauh ke desanya Rama" jawab Fatimah
Dito meninggalkan kamar bundanya, dia kembali ke kamar sendiri untuk mempersiapkan keperluannya besok.
"Rivan kenapa sedih?" tanya Fatimah membelai rambut sang anak
__ADS_1
"Lipan mau ikut nenek Ayi, hikss" jawab Rivan pelan terisak
"Nanti kita ke sana ya, setelah bunda lebih baik lagi" ucap Fatimah lembut
"Kapan? Lipan mau besok sama abang juga" jawab Rivan menggosok-gosok matanya dengan tangan mungil dia
"Matanya jangan digituin, nanti merah dan sakit" ucap Fatimah memegang tangan Rivan
"Tidak apa-apa Lipan sakit aja" jawab Rivan
"Bicaranya begitu, tidak baik sayang, kasih waktu untuk bunda 2 hari, bagaimana?" tanya Fatimah dengan jari tangan angka 2
"2 hali lagi bunda sehat?" tanya balik Rivan
"Kalau bisa sekarang sehatnya, maafin bunda ya tidak bisa menuruti permintaan Rivan" jawab Fatimah
"Besok Lipan boleh makan daging?" tanya Rivan
"Boleh, sekalian nanti besok bunda yang buatkan, sekarang Rivan bobo dulu ya, tidak baik kalau sering bobo malam-malam" jawab Fatimah
Rivan tidur memeluk bundanya, walaupun permintaan dia jarang dituruti Fatimah, dia selalu merasa kehilangan bundanya jika tidak ada di dekat dia.
Anak kecil memang manja, itu hal yang sangat wajar, tetapi itu semua masih bisa di ajarkan secara perlahan dan diberikan ilmu-ilmu yang tepat di usianya yang masih kecil.
Rivan tidur terlelap, Fatimah mencari suaminya, sekarang harus menenangkan bayi besarnya setelah bayi kecilnya tidur, anggap saja Fatimah punya dua baby yang setiap hari harus dia bujuk dan di rayu supaya hatinya selalu damai.
"Ini kelelahan apa pingsan ya" ucap Fatimah sendiri, karena suaminya tak kunjung bangunh
"Ayah bangun, tidurnya pindah ke kamar" ucap Fatimah mengelus wajah sang suami
"Hemm, masih ngantuk" jawab Rendra serak
"Iya lanjutkan di kamar tidurnya, nanti badan ayah pada sakit semua" ucap Fatimah sedikit menggoyangkan tangan Rendra
"Jam berapa?" tanya Rendra dengan mata terpejam
"Sudah tanya jam saja, ini masih jam sepuluh malam, pindah ke kamar" jawab Fatimah
Rendra duduk terlebih dahulu sebelum berdiri, mengumpulkan semua nyawanya.
"Rivan sedang apa?" tanya Rendra pelan masih mengantuk
"Dia bobo dong, masa jam segini masih main" jawab Fatimah masih bersabar
"Sudah tidak menangis lagi?" tanya Rendra lagi
__ADS_1
"Tidak, dia terlelap malam ini, ayo pindah ke kamar" jawab Fatimah memegang lengan Rendra untuk berdiri
Saat masuk ke kamar, Rendra mengganti pakaiannya yang sudah di siapkan Fatimah, lalu dia ikut bergabung tidur dengan anak istrinya, Rendra menciumin wajah dan kepala Rivan dengan kasih sayang.
"Jangan di uyel-uyel, kalau bangun repot lagi nidurinnya" sahut Fatimah melihat suaminya masih gemas dengan Rivan
"Ayah hanya gemas saja" jawab Rendra
"Iya, tapi kasihan dia, tidurnya berarti baru sebentar kalau sampai terbangun" ucap Fatimah
"Jangan cepat gede ya nak, ayah masih mau bersama mu seperti ini" lirih Rendra di telinga Rivan, Fatimah hanya tersenyum saja
"Bun, minggu besok ayah kembali bekerja dirumah sakit, doain ya semoga tidak ada kejadian seperti yang lalu" ucap Rendra menatap istrinya yang terlihat lelah
"Aamiin, yamg terpenting jaga ibadahnya saja, bunda hanya bisa mendukung dan mendoakan yang terbaik, terutama untuk ayah, bunda percayakan sama ayah sepenuhnya untuk masalah kerja" tutur Fatimah mengantuk
"Lalu kapan kita main ke rumah Ayu?" tanya Rendra pelan
"Lusa saja ya, lagipula Dito dan yang lain menginap satu minggu disana, jadi kita masih bisa kumpul sama mereka" jawab Fatimah mulai memejamkan matanya
"Ngantuk banget" tanya Rendra lagi
"Hemm" jawab Fatimah yang tidak kuat menahan kantuknya
"Di ajak diskusi dia terlelap, jadi aku yang tidak bisa tidur, gimana ceritanya ini, ditinggalin sendirian" ucap Rendra
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
__ADS_1
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.