
Akhirnya dokter menyarankan agar Fatimah melahirkan dengan cara operasi Caesar, dilihat dari kondisi Fatimah juga sudah sangat kesakitan tapi tidak berteriak, Fatimah menahan sakit dan selalu berdoa.
Perasaan Rendra semakin tidak karuan mendengar Fatimah akan di operasi, tapi dia juga tidak bisa memaksa Fatimah untuk melahirkan normal. Dengan perasaan campur aduk Rendra menandatangi surat-surat persetujuan dari rumah sakit agar Fatimah bisa segera mendapat tindakan.
Rendra sudah mengabari semua keluarga tentang kondisi Fatimah yang sebenarnya. Kyai Bahri dan Istri sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit, sedangkan papih dan mama Alisha masih di luar kota, sedang mencari penerbangan malam ini juga.
Karena Rendra di rumah sakit hanya sendiri sambil menunggu keluarga, dia hanya bisa berjalan mondar mandir dengan perasaan cemas.
"Suster maaf, boleh saya menemani istri saya di dalam?" tanya Rendra pelan
"Maaf dokter Rendra, kebijakan rumah sakit ini melarang keluarga pasien untuk masuk ke dalam ruang operasi" jawab suster ramah
"Tapi saya kan bekerja juga di rumah sakit ini, anggap saja saya sedang melihat kondisi pasien, status saya sebagai dokter bukan sebagai keluarga pasien" ucap Rendra berharap
"Lebih baik dokter Rendra meminta izin langsung pada bagian rumah sakit ini, yang bertanggung jawab semuanya" sahut suster memberikan saran
"Apa kepala rumah sakit hari ini datang?" tanya Rendra
"Beliau ada diruangannya dok" jawab suster
"Baik, terima kasih suster" ucap Rendra ramah
Rendra berlari menuju lift untuk keruangan kepala bagian rumah sakit, ternyata salah satu anak dari pemilik rumah sakit itu ada, Rendra semakin senang, sebab dia sangat berteman baik dengannya.
Temannya sangat terkejut melihat Rendra menghampiri dirinya. Tanpa basa basi Rendra langsung meminya izin agar bisa menemani sang istri di dalam ruang operasi.
Kalau di pikir, padahal Rendra juga mempunyai saham disini tapi belum besar dengan yang lain. Setelah mendapat surat izin memasuki ruangan operasi, Rendra berlari, dia tidak sabar untuk menemani Fatimah di dalam ruang operasi.
Dilorong jalan Rendra bertemu dengan seseorang, dan orang itu menyapa Rendra.
"Hai Rendra" ucap wanita itu dengan senyuman
"Sedang apa kamu disini?" tanya Rendra ketus
"Rumah sakit kan umum, jadi siapa aja bebas dong ke sini" jawab wanita itu dengaj santai
"Terserah, saya permisi" sahut Rendra ketus kembali melanjutkan jalannya menuju ruangan Fatimah
Sombong mu tidak pernah berubah Rendra pada ku, huh, udah segala cara di coba, dari menggoda, obat perangsang, sampai dukun sekaligus, rumah tangga mereka masih baik-baik saja. oke, aku tidak akan menyerah begitu saja, sebab perusahaan ku butuh orang seperti papihnya Rendra, bagaimana caranya aku harus bisa dekat lagi dengan Rendra, agar dia mau membujuk papihnya untuk membantu perusahaan ku.
Diruang operasi Fatimah sudah dalam ke adaan di bius oleh dokter, Fatimah selalu berdzikir, ini adalah pertama kalinya dia melakukan operasi saat melahirkan.
"Sayang" panggil Rendra di telinga Fatimah dengan suara yang lembut
__ADS_1
Fatimah menoleh dan tersenyum melihat wajah suaminya yang terlihat takut.
"Kita sama-sama berdzikir dan bershalawat bersama ya, agar semuanya di permudah oleh Allah SWT" bisik Rendra di telinga Fatimah. Fatimah hanya mengangguk pelan
Mereka berdua sama-sama mengucapkan shalawat Nabi. Menunggu cukup lama terdengar lah suara yang sudah di tunggu-tunggu selama ini.
Oek...oek... angga saja suara bayi ya (hihihi)
Rendra dan Fatimah mengucap syukur Alhamdulillah, karena anaknya telah lahir ke dunia, melihat baby yang masih merah Rendra sudah gemas dengannya, dan terlihat ada tugu monasnya. hihihi
Suster memberikan pada Rendra agar di adzankan dengan senang hati dan sangat berhati-hati Rendra menggendong anak pertamanya dari darah daging dia.
"Assalamu'alaikum anak ayah, ayah pinjam telinga dede sebentar ya, ayah mau adzanin dede" ucap Rendra dengan pelan
Rendra mengadzankan dengan perasaan bahagia, bahkan dia meneteskan airmata, tidak menyangka hidup bisa merasakan kebahagian yang luar biasa, dan dia bersyukur Allah selalu memberikan kehidupan berikutnya untuk Rendra, setelah beberapa kali mengalami kecelakaan yang nyaris melewatkan nyawanya.
Fatimah juga sudah bersih dan lain-lain, Fatimah di pindahkan ke ruang rawat yang awal. Baby nya setelah di adzankan di kembalikan ke suster terlebih dahulu untuk melakukan cek keseluruhan baby nya.
"Sayang, terima kasih ya" ucap Rendra memeluk Fatimah yang bersandar di bangsal
"Ayah nangis?" tanya Fatimah mendengar suara isakan
Tapi Rendra tidak menjawab pertanyaan Fatimah, dia masih memeluk Fatimah dengan erat.
"Terima kasih, sudah bersabar menghadapi aku selama ini hingga saat ini" ucap Rendra terisak de ceruk leher Fatimah yang terbalut hijab
"Ayah bahagia, karena bunda mau berjuang" jawab Rendra melepas pelukannya dan menatap Fatimah
"Itu sudah tugas ku, untuk melahirkan anak-anak penerus Rendra Gilbert" ucap Fatimah tersenyum
"Oh iya anak kita ada monasnya" jawab Rendra antusias
"Alhamdulillah, semoga dia sehat selalu hingga dewasa menjadi laki-laki soleh" ucap Fatimah ikut bahagia mengetahui anak yang dilahirkan baby Laki-laki
"Assalamu'alaikum" ucap papih, mama Alisha, Kyai Bahri dan Umi Yayi
"Wa'alaikumsalam" jawab Rendra dan Fatimah
"Mana cucu mama?" tanya mama antusias
"Nanti di bawa ke sini mam, kalian kok bisa barengan?" tanya Rendra bingung
"Tadi papih ketemu Kyai Bahri, mobil yang di tumpangi mogok di pinggir jalan, pas papih lihat itu mertua mu langsung berhenti, tadi kita juga pulang dulu kerumah mu untuk bersih-bersih" tutur papih menjelaskan
__ADS_1
"Astaghfirullah, kenapa ayah tidak hubungi Rendra?" tanya Rendra merasa bersalah
"Itu hal biasa, jangan dibahas lagi sudah, kita kesini tuh mau lihat anak kalian" jawab Kyai Bahri santai
"Ayu dan Dito di ajak tidak mau, belum dapat perintah dari kamu katanya Ren" ucap mama Alisha
"Kasihan mereka, habis ikut tes masuk sekolah" sahut Rendra
"Suster lama sekali sih Rend, panggil saja lah" ucap mama tidak sabar
"Fatimah ibu kandungnya aja bersabar, kenapa mama menjadi tidak sabar" sahut Rendra heran
"Mama penasaran, anakmu laki atau perempuan?" tanya mama dengan mata berbinar
"Ada monasnya" jawab Rendra tersenyum
"Alhamdulillah, laki-laki pih cucu ketiga kita" ucap mama Alisha
"Ketiga?" tanya Kyai Bahri bingung
"Iya tidak dong cucu kita, Ayu Dito dan si bayi" jawab mama santai
Terima kasih Ya Allah, orangtua Rendra tidak melupakan Ayu dan Dito sebagai cucunya, semoga mereka tidak membeda-bedakan. Batin Kyai Bahri
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
__ADS_1
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.