
Rendra kembali kerumah, sekian lama di rumah sakit, masih dengan keadaan yang sama tidak bisa menggerakan tubuhnya dan hanya duduk di kursi roda saja.
sesekali Fatimah membantu memindahkan Rendra ke kursi roda tapi rendra selalu menggeleng dengan pelan, dia tidak mau Fatimah kelelahan mengurus dirinya yang tak berdaya.
Akhirnya Fatimah pun menurut, jadi setiap Rendra pindah posisi Fatimah memanggil Dito untuk membantu ayahnya, Dito sangat senang bisa membantu ayahnya melakukan ini itu.
Ayu turut membantu ibunya dari menyediakan makanan untuk Rendra, dan menyiapkan obat-obatan. Kalo untuk menyuapi Rendra itu hanya Fatimah, Fatimah tidak memperbolehkan yang lain menyuapi Rendra.
Bukan karena posesif atau apa, tapi Fatimah sudah banyak larangan dari anaknya tidak boleh ini dan itu, jadi dia hanya bisa membersihkan Rendra dan menyuapi Rendra.
Rendra terlihat senang, istri dan anak-anaknya membantu mengurusi dirinya yang tak bisa melakukan apapun, setiap kali Rendra ingin sesuatu dia meniup-niup wajah Fatimah, makanya Fatimah selalu di dekat Rendra.
Huf...huf... angin tiupan dari mulut Rendra
"Mas Rendra butuh sesuatu?" tanya Fatimah lembut Rendra pun mengedipkan matanya dan tatapannya ke arah botoh air mineral.
"Oh ayah mau minum bu" sahut Dito cepat melihat lirikan ayahnya, Fatimah tanpa bertanya lagi langsung membukakan botol minum dan membantu suaminya untuk minum
"Ayah makan buah mau?" tanya Fatimah senyum menutup kembali botol minumnya
Kali ini Rendra menganggukan kepalanya dengan pelan.
"Jangan dipaksa untuk menggerakan sesuatu, nanti kamu kesakitan kita kan ngga tau apa yang kamu rasa" ucap Fatimah mengingatkan Rendra
Rendra berusaha menggerakan mulutnya untuk mencoba berbicara, tapi terasa berat, lagi-lagi Rendra gagal.
Susah sekali untuk bicara doang, Ya Allah. Batin Rendra sedih
Fatimah melihat Rendra meneteskan airmata dan langsung menghapusnya.
"Kenapa menangis? jangan memaksa apapun, jika saatnya tiba kamu seperti dulu pasti akan terjadi kok, jangan terlalu dipaksa, apalagi menyakiti diri kamu sendiri" ucap Fatimah masih membersihkan airmata suaminya menggunakan tissu.
"Iya ayah, biarkan semua berjalan apa adanya, toh sesekali juga ayah belajar menggerakan sesuatu kan, Allah Maha Baik kok, jika hambanya mau berdoa dan berusaha pasti Allah juga yang memberikan jalan keluar disetiap masalah yang kita hadapi" ucap Ayu kasihan pada ayahnya yang selalu berusaha untuk bisa melakukan sesuatu
"Ho'oh kalo ayah memaksanya terus sakit lebih parah yang sedih kita semua, jadi ayah dengerin kata-kata ibu ya kali ini" timpal Dito tersenyum manis membuat hati Rendra tenang
__ADS_1
Mereka semua masih dalam perjalanan menuju rumah Rendra, kondisi jalan pun cukup padat jadi memerlukan waktu sedikit lama dari biasanya.
Rumah Rendra
"Bagaimana bi, kira-kira kamar Rendra sudah bersihkan, dan siap ditempati" tanya Nabila pada bibi
"Sudah non, insyaa Allah ngga ada lagi begituan, lagi pula ketika sudah mengganti pintu dengan sidik jari, jadi saat ini yang bisa masuk kamar tuan Rendra hanya non Nabila" jawab bibi tersenyum
"Hahaha, benar juga ya, tapi tenang aja bi, ya kali kamar privasi mereka hanya aku yang bisa buka, setelah mereka datang akan kita setting ulang menjadi sidik jari Rendra dan ka Fatimah" ucap Nabila tertawa
"Pak Rendra jangan non, lebih baik Ibu aja, bapa kan belum bisa apa-apa, jadi sangat mudah buat di kerjai orang" jawab bibi yakin
"Apa iya sampe begitu?" pikir Nabila serius
"Selagi kita belum menemukan siapa orang jahat yang sudah berniat jelek pada keluarga ini, jadi cukup sidik jari ibu dan kalo bisa 2 non, sidik jari dan pin" ucap bibi ikut serius dan bibi memang belum tau siapa yang melakukan ini semua
"Aku ikuti saran bibi, hanya sidik jari ka Fatimah, kadang-kadang bibi pinter ya" ledek Nabila pada bibi
"Pintar ajaran bos besar pak Ammar" sahut bibi tertawa bersama Nabila
Halaman Rumah
"Itu Rendra bi, ayo kita bantuin mereka" ucap Nabila berlari kecil, bibi pun mengikutinya
Disaat Rendra turun dibantu oleh Dito dan Diman untuk duduk dikursi roda, bibi terlihat sedih karena majikannya yang dari kecil hingga saat ini terlihat tidak berdaya sekarang.
"Jangan nangis ya bi, Rendra sekarang baperan" bisik Nabila yang paham dengan reaksi bibi
"Siap non" jawab bibi pelan
"Selamat datang dan selamat kembali lagi Rendra" teriak Nabila bahagia
"Akhirnya pak Rendra kembali" ucap bibi senyum
"Ayo masuk, jangan kelamaan diluar, nanti ada yang nguping" sindir Nabila terang-terangan di depan satpam baru tersebut
__ADS_1
"Maksud kamu apa Nabila?" tanya Fatimah yang tidak paham maksud sepupunya Rendra itu, Ayu yang melihat biasa saja karena dia sudah tau
"Tidak ada apa-apa, kita itu hanya WASPADA takut ada yang nguping lalu nanti laporan deh ke bos keduanya" jawab Nabila santai.
Rendra pun masih menatap Nabila dengan tajam, dia ingin tau apa yang terjadi, dia pun ingat dengan cctv, pasti ini semua berhubungan, makanya Nabila bisa sampai bicara begitu.
"Terserah kamu deh Nabila, Mas Rendra dan kamu kalo lagi menyebalkan bikin pusing" ucap Fatimah yang malas dengan sepupuhnya, Rendra pun langsung melihat ke arah Fatimah yang tadi mengucapkan dirinya menyebalkan
"Kenapa mas? ada yang salah sama omongan aku? memang benarkan kalian itu menyebalkan, apalagi kalo udah ribut" jawab Fatimah santai
"Iya...iya terserah kk ipar juga deh, ayo masuk, tapi sebelum masuk kak Fatimah sini dulu jarinya" ucap Nabila meminta tangan Fatimah
"Buat apa?" tanya Fatimah bingung
"Sekarang pintu utama ini pakai sidik jari, disini udah ada sidik jari aku, tinggal tambah Dito, Ayu dan kamu, Rendra ngga usah" jawab Nabila masih meminta sidik jari yang lain
"Sip, sidik jari beres, tinggal pinnya nanti aku kasih tau ya, sekarang masuk dulu kasihan Rendra pasti lelah" ucap Nabila lagi
Fatimah langsung mendorong kursi roda ke arah kamar utama, yang biasa mereka tempati, Dito masih mengikuti Fatimah dari belakang, dia ingin membantu ayahnya untuk berbaring di kasur.
"Mas Rendra istirahat ya, tadi kan kita diperjalanan cukup lama, tubuh mas Rendra butuh tenaga lagi, aku siapin jus, biar tambah segar tubuhnya" ucap Fatimah mengelus pipi suaminya yang telah bersandar dan sedikit berbaring diatas tempat tidur
Fatimah menuju dapur, dia ingin membuat yang segar-segar untuk suaminya.
"Ayu sedang apa?" tanya Fatimah melihat anaknya sibuk di dapur
"Ini buat puding, terus ini jus stroberi di campur mangga dan susu, plus yogurt jadi seger deh" jawab Ayu memotongin buah
"Untuk siapa?" tanya Fatimah lagi
"Buat ayah lah bu, yang butuh segar-segar saat ini ayah, supaya pencernaannya juga bagus, ibu mau sesuatu juga jus apa gitu sekalian aku buat" jawab Ayu melirik ke ibunya, dia sibuk memoting buat untuk puding dan jus
"Boleh deh ibu mau jus melon aja, ini yang masak siapa?" tanya ibu melihat meja makan sudah rapih dengan makanan yang berjejer.
"Katanya sih bibi dan ka Nabila" jawab Ayu senyum aneh dia tidak yakin ini Nabila yang buat
__ADS_1
"Nabila? emang bisa masak" tanya Fatimah menatap Ayu dengan senyuman
"Kalian ini bukannya berterima kasih malah mengejek, dasar ibu dan anak sama saja"