
Rendra masih setia duduk di kantin dan merenungkan semua apa yang diucapkan papihnya sebelum meninggalkan tempat.
"Aku hanya ingin Ayu dan Dito tidak dianggap berbeda dengan Rivan" lirih Rendra mengusap wajahnya dengan kasar dan memikirkan cara agar Ayu serta Dito mempunyai nama Gilbert di akhir.
Dengan langkah gontai, Rendra kembali ke ruang rawat inap Fatimah, dia melihat mama Alisha tertidur di sofa bed yang tersedia di dalam kamar. Fatimah sempat melirik ke arah pintu saat ada yang membuka, dia mengabaikan suaminya masuk ke dalam.
Hati Rendra di selimuti rasa bersalah yang teramat besar pada Fatimah, Rendra duduk di salah satu sofa yang masih kosong, memikirkan yang sudah terjadi hari ini.
Terlalu memikirkan keinginannya Rendra tanpa sadar terlelap di sofa dengan posisi duduk, Fatimah yang melihat suaminya terlelap ada rasa iba dalam hatinya, posisi tidur suaminya tidaklah baik untuk tubuh.
Keesokan hari ini papih tiba kembali dirumah sakit bersama Kyai Bahri dan Ibu Yayi. Melihat mama Alisha yang sudah menggendong baby membuat papih Ammar tersenyum bahagia.
Kyai Bahri tersadar melihat posisi Rendra tertidur dalam ke adaan duduk. Dia heran kenapa Fatimah atau mamanya tidak membenarkan Rendra dalam tidurnya.
Perlahan Kyai Bahri mencoba membangunkan Rendra dengan sedikit menepuk bahunya, Rendra mulai membuka matanya yang terasa sangat berat.
"Ayah sudah disini" tanya Rendra kaget, ruangan sudah ada mertuanya
"Kenapa kamu tidur duduk? nanti sakit semua badan kamu" ucap Kyai Bahri penuh perhatian
"Ini hanya ketiduran ayah" sahut Rendra berbohong
"Mandi lah, Ibu bawa sarapan untuk kamu dan yang lain" ucap Ibu Yayi mengingatkan Rendra agar segera mandi
"Aku pamit pulang dulu, karena tidak bawa baju salin" jawab Rendra pelan melirik istrinya
"Harusnya kemarin bilang untuk di bawakan pakaian bersih" ucap Ibu Yayi lembut
"Maaf, tidak ada yang mengingatkan, jadi Rendra pulang saja terlebih dahulu, nanti kembali lagi kesini" sahut Rendra entah ada perasaan yang tidak karuan dalam hatinya
"Hati hati ya, jangan ngebut saat mengendarai, kamu baru bangun tidur" ucap Ibu Yayi dengan suara lembutnya
"Iya, ayah, ibu semua aku pamit pulang dulu" sahut Rendra menatap Fatimah yang tidak melihat dia sama sekali
Maleskah kamu melihat aku Fatimah?. batin Rendra pergi
__ADS_1
Perasaan Kyai Bahri penuh keganjalan dengan sikap Rendra dan Fatimah, dia berpikir ini semua karena masalah nama kemarin yang mau Rendra tambahkan pada Ayu dan Dito.
Setelah keluar dari rumah sakit, Rendra bergegas untuk pulang kerumah menyegarkan dirinya yang terlihat kusut, dia selalu berdoa disepanjang jalan agar diberikan keselamatan.
Ruangan Fatimah penuh tawa saat melihat Baby R menggeliat lucu, Kyai Bahri mengambil kesempat untuk bicara dengan anaknya.
"Apa perkara nama harus menjadi perkara yang luar biasa, sampai kalian melupakan tugas dan kewajiban seorang suami istri?" tanya Kyai Bahri pelan menatap anaknya
"Ayah paham kan, nama Ayu dan Dito sampai mati ya itu, jangan di tambah lagi, itu nama mas Sidiq yang memberikan dengan rasa percaya diri dan kebahagian mas Sidiq" jawab Fatimah pelan
"Sidiq akan paham, namanya kan tidak di rubah, hanya ditambahkan saja, ini masalah kecil, jadi jangan di perbesar, mana tugas mu sebagai istri, mengabaikan suamimu, hingga dia tidak ingat membawa pakaian bersih, apakah kamu tau dia semalem makan apa tidak?" tanya Kyai Bahri, tidak ingin melihat rumah tangga anaknya hancur begitu saja
"Aku tidak akan mengizinkan Ayu maupun Dito memakai nama mas Rendra" jawab Fatimah tegas tapi pelan
"Dengan mengorbankan rumah tangga kalian?" tanya Kyai Bahri menatap Fatimah
Fatimah hanya menunduk, dia dan Rendra memang sama sama keras kepala, tidak ada yang mau mengalah sama sekali.
"Maafin Fatimah ayah" lirih Fatimah
"Minta maaf lah pada suami mu, Nak." ucap Kyai Bahri ikut bergurau dengan yang lain
Apa mas Rendra masih marah sehingga enggan untuk menerima panggilan dari ku. Gumam Fatimah dalam hati
Rumah Rendra
"Alhamdulillah, sampai juga dirumah" ucap Rendra rebahan di atas tempat tidur untuk memejamkan matanya kembali
Panggilan telepon dia abaikan, matanya sangat lelah dan suaranya sudah tidak sanggup, tidak butuh waktu lama Rendra langsung leessssz tertidur.
Kriinnggg!!!! panggilan telepon rumah
"Assalamu'alaikum dikediaman bapak Rendra" ucap bibi dengan ramah
"wa'alaikumsalam bibi, ini ibu, oh iya bi, bapak ada?" tanya Fatimah to the poin
__ADS_1
"Oh ibu, bapak ada baru sampai, tapi langsung masuk kamar bu" jawab bibi
"Ya sudah tidak apa apa, kirain bapak lagi makan, soalnya ibu telepon tidak bisa, lebih tepatnya tidak diangkat" ucap Fatimah hati hati
"Mungkin sedang mandi, atau tertidur lagi bu, tadi juga pas datang matanya sayu sekali, terlihat seperti orang mengantuk" jawab bibi menjelaskan apa yang dia lihat
"Bapak cape sepertinya bi, habis menemani ibu lahiran kan" ucap Fatimah lembut
"Iya bu, bibi juga senang mendengar kabar ibu sudah melahirkan, jadi penasaran dengan wajah baby boy nya bu" sahut bibi bahagia
"Lusa ya, ibu sudah pulang dari rumah sakit, nanti kamu siapkan semua keperluan ibu boleh?" tanya Fatimah dengan ramah
"Itu semua siap bu, yang penting ibu sehat dulu dan dedek bayinya, oh iya bu Ayu dan Dito rencana mau ke rumah sakit" jawab bibi
"Bilang ga perlu ke Rumah Sakit, semua baik baik saja gitu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
__ADS_1
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.