BEDA USIA? TAK MASALAH

BEDA USIA? TAK MASALAH
Rendra Menyebalkan Lagi


__ADS_3

Rendra sudah bisa makan sendiri di meja makan, tapi masih dengan bantuan Fatimah. melihat perkembangan suaminya Fatimah sangat senang, apalagi bisa langsung melihat perkembangannya.


Untuk berbicara Rendra pun sudah bisa, walau suara yang keluar dari mulutnya sangat kecil hampir tak terdengar.


"Mau tambah sayur ngga?" tanya Fatimah lembut pada suaminya


"Iya" jawab Rendra dengan suara yang lirih, Fatimah mengambilkan sayur yang di inginkan Rendra


"Bu, Dito pagi ini ada jadwal piket, jadi harus berangkat lebih awal, Dito naik sepeda aja ya seperti biasa" tanya Dito pada ibunya


"Pesan ojeg aja deh, kalo memang ada jadwal piket, kalo naik sepeda kamu harus berangkat sekarang, makannya jadi ngga tenang di buru-buru begitu" jawab Fatimah menatap anaknya


"Mahal tau bu ojeg dari sini ke sekolah, kemarin aja Dito mau naik ojeg mahal ya kak?" ucap Dito bertanya pada Ayu


"Ho'oh, sayang duitnya bu, mending naik sepeda aja kaya dulu ya dek" ucap Ayu menyetujui apa yang di bicarakan Dito


Rendra melirik ke Fatimag minta penjelasan, kenapa anaknya naik ojeg atau sepeda.


"Anak-anak ngga aku izinkan naik mobil, aku hanya ngga mau mereka menjadi sombong dan besar kepala, lebih baik mereka naik motor diantar Diman, tapi hari ini Diman mau mengantar Ayu ke tempat seminar yang diadakan sekolah" jawab Fatimah menatap balik tatapan suaminya yang penuh pertanyaan.


"Dito ngga masalah kok, naik apa aja yang penting sampe ke sekolah" ucap Dito membuyarkan tatapan Fatimah pada Rendra


"Hari ini naik mobil aja, biar bisa bareng" ucap Rendra lirih


"Ngga usah, biarkan Dito naik sepeda, Ayu sama Diman naik motor, Dito siap-siap aja ya berangkat" jawab Fatimah cepat


Fatimah hanya tidak ingin melihat anak-anaknya menjadi orang sombong karena pemberian ayah sambungnya itu, Fatimah juga takut bila suatu saat Rendra akan mengulangi hal sebelumnya, yang tidak peduli pada anaknya atau bisa jadi berhitung-hitung apa yang sudah Rendra berikan pada kedua anaknya.

__ADS_1


Dia tidak ingin anaknya memeliki hutang budi yang cukup banyak pada Rendra, biaya sekolah Ayu pun sebenarnya Fatimah masih menggunakan uang Almarhum suaminya yang pertama, begitu juga Dito masih memakai uang ayah kandungnya.


Rendra menatap Fatimah dengan tajam, dia ngga suka Fatimah membatasi anak-anaknya dengan akses yang diberikan Rendra. Fatimah paham dengan tatapan tersebut, tapi seolah dia tidak melihatnya dan memilih fokus pada anak-anak serta makanan yang ada di dalam piringnya.


Merasa diabaikan Rendra semakin kesal, apalagi melihat Dito pamitan yang akan berangkat sekolah menggunakan sepeda, ngga lama Ayu pun pamit pada Ayah ibunya untuk berangkat ke tempat seminar.


Dimeja makan hanya menyisakan Fatimah dan Rendra.


"Maaf ya maaf, sungguh aku ngga ada maksud apa-apa, ini murni karena aku tidak ingin melihat anak-anak aku menjadi sombong, padahal yang dia punya bukanlah miliknya seutuhnya, biarkan mereka menjadi dirinya sendiri seperti sebelum mengenal kamu, menjadi anak yang bertanggung jawab apabila melakukan kesalahan, menjadi anak pekerja keras dan berusaha untuk keinginannya, tidak hanya bisa meminta tapi berjuang untuk keinginannya sendiri" ucap Fatimah menjelaskan dengan hati-hati


"Tapi setidaknya berikan aku kesempatan untuk bisa membahagiakan mereka" jawab Rendra lirih dengan tatapan seperti memohon pada Fatimah


"Mereka sudah bahagia kok, dengan tinggal disini dipenuhi fasilitas yang lengkap, makanan yang bergizi, uang saku yang mencukupi, kesehatan mereka disini juga terjaminkan, walaupun aku yakin mereka bukanlah anak-anak yang gila harta dan memanfaatkan apa yang kamu punya" ucap Fatimah melindungi kedua anaknya


"Biarkan mereka berangkat kemana pun pergi dengan Diman pakai mobil, kalo hujan bagaimana? ini aja dari semalem udah hujan, pasti diluar masih hujan" jawab Rendra sedih, istrinya masih mempertahankan keinginannya


"Berarti kamu tidak menganggap aku sebagai ayahnya tapi kamu menganggap aku orang lain untuk anak-anakmu?" tanya Rendra terlihat kesal dengan Fatimah dengan suaranya yang hampir tidak keluar


"Bukan begitu maksud aku" jawab Fatimah terpotong melihat suaminya membuang muka ke arah piring yang buah yang sedang dia makan


"Kamu marah?" tanya Fatimah pelan, tapi Rendra tidak menjawab dia sibuk makan buah yang disediakan


"Mas Rendra" panggil Fatimah lembut, Rendra tetap tidak menjawabnya


"Huft, terserah mas Rendra deh, yang penting sampai kapanpun aku tidak memberikan izin pada anak-anak menggunakan mobil yang disediakan kamu" ucap Fatimah membereskan bekas makan anaknya dan menuju dapur


Segitu ngga percayanya kamu sama aku, Fatimah. Batin Rendra

__ADS_1


Setelah membereskan meja makan Fatimah mendorong kursi roda Rendra dan bawa ruang Tv agar tidak bosan di dalam kamar, Fatimah juga tidak banyak bertanya pada suaminya, takut suaminya semakin marah pada dia.


Rendra juga tidak mempermasalahkan Fatimah mendorong kursi rodanya dan membawa dia ke ruang tv, pikiran Rendra semakin ngga karuan karena istrinya pun tidak lagi bicara padanya.


Apa kamu lelah dengan aku, Fatimah. Gumam Rendra dalam hati


Fatimah memberikan remot tv pada suaminya, agar lebih mudah mengganti chanel yang di inginkan, sedangkan Fatimah kembali lagi ke dapur untuk membuat cemilan siang hari hari.


Tanpa banyak bicara dengan Rendra, Fatimah meninggalkan Rendra seorang diri di ruang tv, tidak seperti biasanya, Fatimah akan selalu menemani suaminya, kali ini tidak, membuat pikiran Rendra semakin yakin bahwa Fatimah memang sudah lelah pada dirinya.


Rendra menjalankan kurni rodanya dengan satu tangan untuk masuk ke dalam kamar, dia bete dicuekin istrinya.


Tiga puluh menit Fatimah membuat puding di dapur, dia berjalan menuju ruang tamu untuk menemui suaminya.


"Mas Rendra kemana" ucap Fatimah pada dirinya sendiri, dia mencari keruangan lain dan tidak ketemu, pikiran dia Rendra hanya bosan dan pindah ke ruang lain tapi tidak ada juga


"Apa masuk kamar ya, lebih baik aku cek" ucap Fatimah khawatir dengan suaminya


Fatimah melihat Rendra yang sedang berusaha naik ketempat tidur, membuat dia semakin panik.


"Astaghfirullah, mas Rendra mau apa? mau tiduran? kenapa ngga samperin aku dulu ke dapur" ucap Fatimah membantu suaminya, Rendra yang diajak bicara hanya diam saja dan menerima bantuan istrinya, tubuh dia tidak bisa menolak


"Kalo mau marah boleh, tapi jangan menyiksa diri sendiri, kalo ngga sembuh-sembuh bagaimana" ucap Fatimah membenarkan posisi suaminya untuk rebahan


"Kamu bisa tinggalkan aku apabila aku ngga sembuh-sembuh" jawab Rendra tepat kuping Fatimah yang lagi membetulkan posisi leher Rendra


"Maksudnya?" tanya Fatimah yang memang tidak paham

__ADS_1


__ADS_2