
"Sudah sudah jangan dilanjut, ayah mandi aja" ucap Fatimah merebut peralatan yang kotor
"Selesai ini, ayah akan mandi, bunda tenang saja, ayah juga mau merasakan lelahnya mengurus rumah" jawab Rendra
"Sebagai gantinya, ayah mau makan siang apa, biar bunda siapin" tanya Fatimah
"Apapun yang bunda masak akan ayah makan" jawab Rendra kembali tersenyum dengan senyuman semanis mungkin
"Mukanya jangan so imut deh" sahut Fatimah
Rendra hanya tersenyum saja, melihat istrinya yang di goda membuat dia semakin yakin, bahwa Rendra tidak pernah salah memilih Fatimah sebagai istrinya, dari awal Rendra tak berdaya hingga sekarang hidup apa adanya Fatimah tetap ada di samping dia tanpa menuntut apapun.
Selesai membersihkan semua peralatan kue, Rendra merapihkan ke tempat yang seharusnya dan dia segera membersihkan diri karena sudah mau memasuki waktu dzuhur.
"Bun, Rivan mana tadi katanya mau mengajak dia pulang" ucap Rendra berjalan ke arah dapur sambil mengancingkan jubah shalatnya
"Tadi bunda kesana, dedeknya bobo, jadi bunda titip lagi sama ibu, nanti setelah masak siang, baru bunda ambil, supaya kita makan sama sama" jawab Fatimah
"Iya ambil saja walau masih bobo, ayah kangen dengannya" ucap Rendra
"Siap ayah, oh iya Dito nanti pulang ke rumah papi sama siapa?" tanya Fatimah
"Masih dua hari lagi dia di sini jadi santai aja, pasti ayah akan antar dia dengan selamat sampai rumah papi" jawab Rendra
Allahuakbar.... Allahuakbar
"Tuh, sudah adzan, jalan sana cepatan" sahut Fatimah menatap suaminya
"Ya sudah ayah ke masjid dulu, Assalamu'alaikum" ucap Rendra
"Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh" sahut Fatimah melanjutkan memasaknya
Masakan sudah siap, Fatimah segera menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim, sambil menunggu Rendra pulang dari Masjid, Fatimah mengambil anaknya di rumah orangtuanya.
"Assalamu'alaikum" ucap Fatimah
"Wa'alaikumsalam" jawab ibu Yayi
"Anak bunda sudah bangun, repotin nenek ya, neneknya pasti belum shalat nih" ucap Fatimah mengambil Rivan dari gendongan ibu Yayi
"Ibu mau ke air dulu ya, terus ibu mau bantuin tetangga katanya mau hajatan" jawab ibu Yayi
"Iya bu, tapi ibu ingat jangan cape cape, ibu sudah usia" ucap Fatimah dengan lembut
__ADS_1
"Ibu ingat nak, justru karena ibu sudah usia, ibu mau membantu siapapun selagi ibu mampu dan sanggup, ibu mau cari pahala aja" jawab ibu Yayi
"Fatimah pulang duluan ya bu, takut Dito dan mas Rendra sudah kembali dari Masjid" ucap Fatimah
"Sudah sana, jaga suamimu baik baik" sahut ibu tertawa
Sampai dirumah Fatimah bermain dengan Rivan, Rivan selalu tertawa jika diajak bercanda, Rivan memang murah tersenyum pada siapapun, tapi entah saat dewasa apakah masih sama atau berbeda, Fatimah selalu berharap Rivan hingga dewasa selalu menjaga sikap dan perilakunya dimana pun dia berada.
"Assalamu'alaikum" ucap Dito dan Rendra
"Wa'alaikumsalam" jawab Fatimah suara seperti anak kecil
"Sini ayah pangku sayang" ucap Rendra mengambil Rivan dari Fatimah
"Ganti pakaian dulu dong kalian berdua, kenapa langsung mengajak Rivan main" sahut Fatimah
"Dito kangen bun sama Rivan, padahal Rivan hanya dititipkan dirumah KeAbi" jawab Dito nyengir
"Kamu dari pagi bukannya main sama Rivan dan Kakek?" tanya Fatimah
"Iya bun" jawab Dito tersenyum
"Ayah yang seharian ini belum main sama Rivan ya, sayang" ucap Rendra mencium perut Rivan, Rivan pun tertawa kegelian
"Ganti baju dulu Dito, ayah" sahut Fatimah
"Ayah juga ganti pakaiannya, setelah itu kita makan siang bersama" ucap Fatimah mengambil lagi Rivan
"Baru sebentar gendong dia, sudah di ambil saja" sahut Rendra bete
"Rumah ini isinya laki laki semua dan beda generasi, hanya aku perempuan, seorang diri, apa aku sanggup menghadapi Rendra, Dito dan Rivan" lirih Fatimah tapi tersenyum
"Bunda, Dito sudah ganti baju, mana Rivan sini biar main sama aku" ucap Dito mengambil Rivan
"Nih Ayah sudah ganti pakaian, jadi jangan larang aku main dengan Rivan" ucap Rendra juga keluar dari kamar
Fatimah terdiam melihat Dito dan Rendra yang berebut Rivan.
Kenapa mereka jadi pada begini semua. batin Fatimah
"Ayo, waktunya makan, jangan ada komplain apapun, titik." ucap Fatimah membuat Dito dan Rendra terdiam karena kesal, lagi asik bermain tapi selalu di ganggu menurut mereka
Mereka makan bersama tanpa berdiskusi, karena itu sudah di terapkan saat Fatimah dan anak anaknya masuk ke dalam rumah Rendra, jadi mereka juga sudah pada terbiasa, selesai makan Fatimah membersihkan semuanya dan Rendra serta Dito kembali bermain dengan Rivan.
__ADS_1
Fatimah masuk ke dalam kamar untuk merebahkan tubuhnya sejenak, rasa lelah yang dirasa sejak tadi dia selalu tahan, agar suami dan anaknya tetap bisa makan masakan dia.
Rendra juga membiarkan Fatimag tertidur, memang dari awal nikah dengan Fatimah, Rendra lebih suka Fatimah berdiam diri di dalam kamar tanpa mengerjakan apapun, dia ingin istrinya hanya menghabiskan uang yang dia punya, tetapi Rendra salah, Fatimah selalu menghemat dalam berbelanja apapun, tapi untuk kebutuhan perut Fatimah memang nomor satu, yang tinggal dengannya tidak pernah merasa kelaparan.
Kira kira sampai kapan ya aku hidup begini, kasihan Fatimah dan anak anak, walaupun aku punya perusahaan yang mereka semua tidak tau, tapi tetap saja sekarang kehidupan ku lagi berpura pura biasa saja. batin Rendra menatap wajah Fatimah yang terlelap
"Ayah sedang mikirin apa?" tanya Dito melihat ke arah kamar ayah bundanya
"Hustt, tidak mikir apa apa, sini masuk" jawab Rendra
"Tadi melamun" ucap Dito
"Apa bunda akan bahagia hidup seperti ini?" tanya Rendra karena hanya Dito yang tau tentang Fatimah
"Kita itu sudah terbiasa hidup begini ayah, jadi jangan khawatir lagi, ayah fokus saja sama orang yang mau menghancurkan rumah tangga ayah, bagaimana caranya orang itu tidak mengusik bunda, aku tidak mau melihat bunda menangis" jawab Dito dengan pelan takut bundanya terbangun
"Ayah sudah membuat rencana tentang itu, dan ayah juga akan mengirim orang tersebut jauh dari sini, kakek Ammar juga udah setuju itu" ucap Rendra tersenyum
"Mantap, ini baru ayah ku yang paling the best" sahut Dito dengan semangat membuat Fatimah mengerjapkan matanya
"Kalian sedang apa di sini?" tanya Fatimah heran
Dito dan Rendra hanya tersenyum saja.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
__ADS_1
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.