
Rendra sudah beberapa hari ini tinggal di kediaman Kyai Bahri, proses pengobatan kakinya pun masih berlanjut. Rendra sudah hampir putus asa, karena tidak ada perubahan sama sekali dengan bagian kakinya.
Malam hari dikamar Fatimah
"Besok kita pulang saja" ucap Rendra pelan
"Pengobatan ayah kan belum selesai, masih ada dua kali lagi kata ustad Ryan" jawab Fatimah heran
"Semua tidak akan berhasil, sepertinya akan cacat seumur hidup" ucap Rendra sedih tanpa menoleh ke istrinya
"Jangan bicara begitu, kan kita lagi berusaha" jawab Fatimah membangunkan rasa keinginan Rendra agar sembuh
"Ustad Ryan aja sudah main mata dengan temannya, sepertinya mereka juga kesulitan" ucap Rendra menunduk
"Sekali lagi ya, jika ngga ada perubahan juga, kita pulang" jawab Fatimah setenang mungkin
"Ngga mau, besok mau pulang" ucap Rendra meneteskan airmata
"Kok ayahnya anak-anak malah nangis, nanti baby yang dalam perut akan bilang, ayah aku kok cengeng" jawab Fatimah menirukan suara anak kecil
"Apa ini azab untuk ayah?" tanya Rendra menatap istrinya
"Azab apa? memang ayah melakukan hal yang sangat fatal, sehingga Allah murka?" jawab Fatimah kembali bertanya
"Entahlah, merasa ini sebuah hukuman" ucap Rendra pelan
"Makanya kita harus berpikir baik kepada Allah, jangan setiap kita punya masalah, lalu menyalahkan Allah, itu salah" jawab Fatimah lembut
"Apa yang harus ayah lakukan?" tanya Rendra pelan
"Dalam hal apapun memintalah pada Allah, lebih baik ayah banyak-banyak beristighfar, shalawat dan dzikir, agar hati tenang, pikirin pun tenang, jadi kita akan selalu berpikir Allah itu baik dengan kita, walaupun banyaknya cobaan yang silih berganti, Allah rindu pada kita untuk meminta dan memohon padanya" jawab Fatimah pelan menenangkan suaminya
"Kita istirahat aja sekarang" ucap Rendra mencoba rebahan
"Ingat jangan pikir yang aneh-aneh, biar tidurnya bisa mimpi indah" jawab Fatimah menyelimuti Rendra
"Ngga mau mimpi indah" ucap Rendra cepat
"Kenapa ngga mau?" tanya Fatimah bingung
"Ayah maunya mimpin bunda Fatimah bukan indah" jawab Rendra santai
"Hahaha... emang indah itu nama orang apa, ayah ini semakin lucu, gitu dong becanda, jadi ngga bosen di dalam kamar ini" ucap Fatimah tertawa kecil
Malam itu Fatimah tidur dengan lelap, berbeda dengan Rendra, dia ternyata tidak bisa tidur, memikirkan kondisinya yang sekarang.
Mami, Rendra rindu sekali dengan mami dan Nisya, sekarang kalian sedang apa? Apa Rendra akan secepatnya juga menemui mami dan Nisya. Gumam Rendra dalam hati menangis
Rendra kembali mencoba memejamkan matanya.
"Hai, kaka ku yang tampan" ucap Nisya
"Hai, sayang, kaka kangen sekali dengan mu" jawab Rendra
"Aku juga kangen sekali dengan kaka" ucap Nisya bahagia memeluk kakanya
__ADS_1
"Nisya, Rendra" panggil mami lembut
"Iya mam" jawab mereka berdua
"Kalian sedang apa disini?" tanya mami pelan
"Nisya mau ajak kaka main untuk temani Nisya mam" jawab Nisya manja
"Tidak boleh sayang, kaka mu masih hidup panjang sampai dia memiliki seorang anak yang lucu dan menggemaskan, jadi kamu tidak boleh mengajak kakamu, seharusnya kamu memberikan semangat, agar kaka mu mampu bangkit seperti dulu menjadi superhero kita" ucap mami menjelaskan pada Nisya
"Yah jadi kaka tidak boleh ikut kita ya mam" jawab Nisya sedih
"Belum saatnya sayang, kaka mu ikut dengan kita" ucap mami tersenyum "Dan kamu Rendra, kembalilah kepada istri dan anak-anakmu, berlaku lah adil pada semua anakmu, mami dan Nisya bahagia, melihat kamu bangkit dan memciptakan keluarga yang harmonis" ucap mami mengingatkan Rendra
"Tapi Rendra kangen dengan mami dan Nisya" jawab Rendra pelan
"Doakan lah mami dan Nisya sayang, maka mami dan Nisya akan merasakan yang namanya bahagia, ditambah dengan keutuhan rumah tangga mu, jaga baik-baik" ucap mami perlahan menghilang dengan Nisya
"Mami jangan tinggalin Rendra" ucap Rendra sedih
"Dadah kaka, I Love You" ucap Nisya perlahan menjauh seperti mami
"Mami" ucap Rendra
"Nisya" ucap Rendra lagi
"MAMI, NISYA JANGAN TINGGALIN RENDRA" teriak Rendra berlari
Dan itu semua hanyalah mimpi.
"Mami, Nisya" gumam Rendra dengan mata terpejam dan meneteskan airmata
"Ayah bangun, mimpi apa?" tanya Fatimah mencoba membangunkan suaminya yang mulai terisak dalam tangisnya
"Ayah bangun, jangan buat bunda cemas" ucap Fatimah menepuk pipi suaminya dengan lembut
"MAMI, NISYA" teriak Rendra membuka mata dan langsung duduk ngos-ngosan
"Istighfar ayah" ucap Fatimah mengelus dada Rendra
"Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah" ucap Rendra pelan
"Minum dulu, biar tenang" ucap Fatimah memberikan air mineral, Rendra meminumnya dengan cepat
"Mimpi apa, sampe teriak dan menangis begitu?" tanya Fatimah lembut
Rendra melihat Fatimah, dia memeluknya sangat erat membuat Fatimah bingung.
"Maafkan aku, jangan tinggalkan aku seperti mami dan Nisya" ucap Rendra pelan
"Ayah harus tenang, apa yang terjadi, ayah mimpi apa" tanya Fatimah masih dalam pelukan suaminya
Rendra melepaskan pelukan istrinya "Ayah ngga apa-apa" jawab Rendra pelan
"Ayah kangen dengan mami dan Nisya? apa kita berkunjung ke makam mami dan Nisya, biar tenang" ucap Fatimah mengelus dada suaminya
__ADS_1
"Nanti aja, ayah kan masih harus terapi disini, ayah ke kamar mandi dulu ya" ucap Rendra santai berjalan ke kamar mandi
"Hati-hati ya" jawab Fatimah pelan
Fatimah tersadar, saat ini suaminya dalam keadaan lumpuh, tidak bisa berjalan, dan dia melirik ke kursi roda masih ada di dekat ranjang, tapi suaminya sudah masuk kedalam kamar mandi.
"Astaghfirullah, apa yang kekamar mandi itu mas Rendra?" ucap Fatimah bingung ngga percaya
"Kok bisa jalan" ucap Fatimah lagi mencoba berjalan ke kamar mandi
Tok....tok...tok... suara ketukan pintu
"Ayah, masih lama ngga di dalam?" tanya Fatimah pelan
"Sebentar lagi bun" jawab Rendra sedikit teriak
Ceklek ... suara pintu terbuka
"Kenapa ngga langsung masuk aja, kalo mau ke kamar mandi" tanya Rendra melihat istrinya
Fatimah masih dalam keadaan melamun melihat suaminya dari ujung kepala hingga ujung kaki yang saat ini sedang berdiri di depannya.
"Ini mas Rendra kan?" tanya Fatimah seperti orang bodoh
"Iyalah ini suami kamu, ada apa sayang" jawab Rendra masih belum sadar
"Bukan hantu" ucap Fatimah pelan membuat Rendra tersenyum
"Emang ada hantu bisa jalan seperti ini" jawab Rendra berjalan bolak balik di depan Fatimah
"Kamu jalan" ucap Fatimah melihat Rendra
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.
__ADS_1