
"Lusa ya, ibu sudah pulang dari rumah sakit, nanti kamu siapkan semua keperluan ibu boleh?" tanya Fatimah dengan ramah
"Itu semua siap bu, yang penting ibu sehat dulu dan dedek bayinya, oh iya bu Ayu dan Dito rencana mau ke rumah sakit" jawab bibi
"Bilang ga perlu ke Rumah Sakit, semua baik baik saja gitu" ucap Fatimah pelan
"Nanti pasti akan bibi sampaikan bu, pada Ayu dan Dito" jawab bibi dengan suara lembut
Fatimah mencoba menghubungi Rendra, dia masih penasaran tidak ada jawaban dari Rendra.
Rendra di dalam kamar sangat nyenyak tidurnya, panggilan dari telponnya saja sampai tidak di dengar olehnya.
Karena sudah cukup lelah menghubungi Rendra, Fatimah fokus kembali pada anaknya. Kini anaknya menjadi pusat perhatian keluarga besar.
Papih Ammar sampai menghubungi kerabat terdekat, memberitahukan tentang kelahiran anak Rendra dengan wajah bahagianya.
Melihat itu semua Fatimah sangat bersyukur, selama menjadi istri Rendra keluarga papih Ammar dan kerabat sangat baik, tapi tidak tau bagaimana dengan orangtua Nabila, dia belum bertemu sama sekali dengannya.
Rumah Rendra
"Assalamu'alaikum" ucap Nabila datang dengan semangat
"Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah non Nabila sudah kembali ke sini" jawab bibi tersenyum
"Memang ada apa bi, sampai bibi sangat mengharapkan aku datang?" tanya Nabila dengan sikap Percaya Dirinya
"Tidak ada apa apa, hanya sepi aja rumah ini kalau tidak ada non Nabila" jawab bibi jujur
"Kirain ada yang buat masalah lagi, aku benar sampe ada, aku Uleg tuh manusia" sahut Nabila dengan gemas
"Hihihi, Non Nabila ini lucu" jawab bibi tertawa pelan
"Kok, rumah sepi, pada kemana?" tanya Nabila melihat sekeliling rumah
"Ayu dan Dito sekolah, Ibu kan melahirkan dirumah sakit, bapak tapi pulang tapi di kamar, bibi belum panggil takut" jawab bibi santai
"Oh iya aku sudah mendengar kaka Ipar melahirkan, makanya aku kesini, aku temui Rendra dulu deh" ucap Nabila melangkahkan kakinya menuju kamar Rendra
Tok... tok... tok (suara ketukan pintu)
"Ini orang mati ya, udah di ketok tidak dibukain" gerutu Nabila
Ceklek ... (suara pintu terbuka)
"Ya Allah, Ya Rabb, dia tidur, meninggalkan istrinya dirumah sakit" ucap Nabila mendekati Rendra
"Bangu... Bangun...." ucap Nabila menggoyangkan lengan Rendra
"Buset, Kebo banget nih tidurnya" lirih Nabila kesal
__ADS_1
"BANGUNNNNN" teriak Nabila dengan kencang.
Mendengar suara teriakan Rendra terbangun dari tidurnya dengan mata yang masih mengantuk, dan melihat wajah Nabila dengan perasaan dongkol.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Rendra ketus merebahkan tubuhnya kembali
"Eh, harusnya aku tanya, sedang apa kamu disini, bukan temani istri yang habis melahirkan dan menyusui" jawab Nabila kesal
"Banyak orang dirumah sakit" ucap Rendra santai
"Kamu mau dibilang ayah yang tidak bertanggung jawab sama istri dan anaknya?" tanya Nabila duduk di sisi Rendra
"Jangan sembarangan kalau bicara" ucap Rendra kesal menutup wajahnya dengan bantal
"Ih, Rendra bangun, temani istrimu di sana" sahut Nabila menarik bantal yang menutupi wajah Rendra
"Aku lagi sama Fatimah, puas kamu" jawab Rendra membentak Nabila
"Bete? Bete kenapa, coba jelasin yang benar" ucap Nabila bingung
Rendra duduk dan bersandar melihat ke arah Nabila.
"Ayo jelaskan ada apa?" tanya Nabila pelan
Rendra menjelaskan semua keinginannya yang di tolak oleh Fatimah dengan tegas, Nabila pun mendengarkan cerita Rendra agar dia tidak salah membela orang.
"Yang dikatakan papih Ammar tuh benar, ini hanya perkara nama, jadi jangan begini dong" ucap Nabila kesal
"Bikin Rendra ku sayang, Fatimah habis melahirkan dia butuh dukungan full dari suaminya, tapi kamu mengabaikan dia, masalah nama gampang Rendra, setelah 40hari bayi kamu, kamu bicarakan lagi baik baik, siapa tau pikiran Fatimah tidak seruwet sekarang, BODOH kamu jadi manusia, pakai Emosi tidak pakai otak" jawab Nabila
"Apa setelah 40 hari, Fatimah akan menyetujui penambahan nama pada Ayu dan Dito?" tanya Rendra menatap Nabila
"Apabila Fatimah masih belum setuju, berarti ada hal lain yang memberatkannya, tanya pakai perasaan jangan pakai emosi, sudah sana mandi dan kita pergi kerumah sakit bareng" jawab Nabila berjalan keluar dari kamar Rendra
"Rumit sekali" lirih Rendra masih terdengar oleh Nabila
Plukkk.... (suara timpukan)
"Awwwsss, apaan sih lempar barang, kena kepala tau" ucap Rendra meringis sambil mengambil mainan bayi yang tergeletak di meja dekat pintu
"Punya ucapan di jaga" sahut Nabila santai
Nabila dan Rendra ke rumah sakit bersama, Nabila juga mengingatkan Rendra agar tidak membahas nama pada Fatimah, Nabila juga kesal sama Rendra kenapa dia begitu memaksa ingin menambahkan nama Ayu dan Dito, dasar aneh menurut Nabila.
Tiba di rumah sakit Rendra ragu untuk masuk ke dalam kamar Fatimah, tapi Nabila memaksa dan menarik tangan Rendra agar segera masuk.
"Assalamu'alaikum" ucap Nabila menggandeng tangan Rendra
"Wa'alaikumsalam" jawab semuanya dan menoleh ke arah pintu
__ADS_1
"Ya Allah, sayangnya papih, datang sama siapa?" tanya papih memeluk Nabila
"Sendiri Pih, aku kesal dengan orangtua ku" jawab Nabila cemberut
"Sudah nanti aja bahas itu" sahut mama Alisha tidak enak dengan besannya
Rendra langsung mendekati Fatimah dan mencium kening Fatimah. Fatimah merasa aneh dengan sikap Rendra, padahal yang dia tau suaminya sedang marah padanya.
"Kamu sudah makan?" tanya Rendra duduk di sisi Fatimah
"Sudah, Mas Rendra sendiri sudah makan?" jawab Fatimah pelan
"Belum, tadi di paksa sama Nabila ke sini" ucap Rendra menatap Fatimah "Kamu masih marah dengan ku?" tanya Rendra lagi
"Tidak, aku minta maaf" ucap Fatimah pelan
"Kita tidak perlu bahas itu lagi, kalau kamu memang benar benar tidak mengizinkan, lupakan saja, lagian aku juga cukup sadar diri, aku bukan siapa siapa buat Ayu dan Dito" sahut Rendra pelan
Perkataan Rendra semakin membuat Fatimah bersalah. Rendra berjalan mendekati anaknya yang sedang di pangku Ibu Yayi.
"Ibu, Rendra mau coba gendong baby Rivan dong, tapi ibu jagain takut Rendra salah" ucap Rendra duduk di samping mertuanya
"Sini, kamu kan ayahnya jadi harus bisa gendong anak sendiri" sahut Ibu Yayi memberikan baby R pada Rendra dengan hati hati
"Pelan pelan bu, aku takut" ucap Rendra menggendong baby R dengan kaku
"Tenang aja, jangan kaku begini, biar anakmu nyaman, santai ya" sahut Ibu Yayi menengkan Rendra
"Halo anak ayah, sudah minum susu belum?" tanya Rendra bahagia bisa dekat dengan anaknya seperti saat ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
__ADS_1
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.