
Keesokan harinya Ramli dan team sudah tiba di rumah Rendra, mereka membangun tempat khusus kuda, Ramli sengaja membawa banyak orang, karena di ingin prosesnya hanya sehari.
Sedangkan papih Ammar dan mama Alisha sehabis subuh kembali tertidur, mereka terlalu lelah melakukan perjalanan tadi malam, maklum saja usia mereka tidak lagi muda.
Rivan terbangun dari tidurnya dan melihat sekitar untuk mencerna otaknya.
"Ini lumah siapa?" tanya Rivan pelan pada dirinya sendiri
"Kakek sama nenek mana ya, aku kok ditinggal sendilian" ucap Rivan turun dari tempat tidurnya lalu menuju luar
"Bibi, kakek sama nenek mana?" tanya Rivan di dapur melihat bibi
"Tuan muda mau ketemu kakek dan nenek, mereka masih bobo" jawab bibi lembut
"Hai ganteng" panggil Dito tersenyum
"Abang Dito" teriak Rivan belari mendekati Dito dan meminta gendong
"Sedang apa di dapur?" tanya Dito mencium pipi gembul adiknya
"Lagi cali nenek sama kakek" jawab Rivan memeluk Dito melepaskan rindu
"Semalem abang pulang, Rivan sudah bobo di kamar, padahal mau abang ajak bobo bersama" ucap Dito menurunkan Rivan di kursi meja makan
"Kata kakek Lamli, kalau Lipan bobo besok pagi kudanya ada di lumah, makanya Lipan cali kakek dan nenek, Lipan belum lihat kuda hali ini" jawab Rivan antusias
"Rivan beli kuda?" tanya Dito pelan
"Iya, tapi abang jangan bilang bunda ya, itu yang beliin kakek Ammal" jawab Rivan memohon
"Insyaallah ya, semoga saja abang tidak kelepasan saat bicara" ucap Dito menggoda adiknya
"Huhh, abang Dito jahat belalti sama Lipan" sahut Rivan melipat kedua tangannya, Dito pun tertawa melihat tingkah Rivan
"Rivan sudah mandi belum?" tanya Dito
"Belum, tadi Lipan langsung kelual kamal" jawab Rivan jujur
"Sekarang mandi terlebih dahulu, setelah itu kita makan bersama" ucap Dito menuntun adiknya hingga ke kamar
Dito memandikan Rivan dengan telaten, menyabuninya, bahkan menggosok badan Rivan supaya bersih, Rivan juga sangat senang dimandikan oleh Dito, mereka jarang sekali bertemu, sekalinya melihat wajah hanya dari ponsel saja.
Tidak lupa juga Dito memakaikan baju yang sudah di susun di dalam lemari, dan mengambil pakaian santai untuk Rivan.
"Abang kelja tidak" tanya Rivan
"Kerja dong, habis makan abang harus berangkat ke kantor" jawab Dito tersenyum pada Rivan
"Yahhhh, Lipan sama siapa disini" tanya Rivan lagi
"Sementara sama kakek dan nenek dulu ya, nanti abang usahakan pulang cepat dan kita bermain" jawab Dito
__ADS_1
"Lipan mau kuda yang semalem" sahut Rivan menunduk
"Abang belum tau kuda apa, habis ini kita coba bangunkan kakek dan nenek" ucap Dito membuat Rivan berbinar
Dengan langkah semangat Rivan menuju kamar papih Ammar dan mama Alisha, kedua orangtua tersebut benar-benar masih terlelap di dalam kamar.
Ceklek ... suara pintu terbuka
"Masih pada bobo, nanti saja ya banguninnya, setelah sarapan" saran Dito pada adiknya
"Mau sekalang abang" ucap Rivan keras
"Hussttt, pelankan suara Rivan, kasihan mereka lelah" sahut Dito berbisik
Tanpa di duga Rivan berlari masuk ke dalam kamar dan menaiki tempat tidur kakek neneknya, Rivan loncat-loncat di atas sana.
"Kakek bangun, nenek bangun, ayooo, sudah pagi" teriak Rivan sambil loncat
Papih Ammar dan mama Alisha tersentak kaget mendengar suara teriakan dan goyangan di tempat tidur, mereka pikir ada gempa atau bencana alam lainnya.
"Ayoo bangun, bangun, bangun, jangan malas" teriak Rivan lagi
"Kakek, nenek, maafin Dito ya tadi Rivan lepas dari pegangan Dito dan berlari mendekati ke kasur" ucap Dito tidak enak
"Ya Allah, ternyata Rivan yang loncat-loncat" sahut papih Ammar masih mengantuk
"Tidak apa Dito, kamu sarapan duluan ya, sebelum berangkat kerja" ucap mama Alisha mengingatkan cucunya yang lain
"Hati-hati Dito" ucap papih Ammar dan mama Alisha
Semenjak Dito mengurus perusahaan sambil kuliah, papih Ammar jadi banyak waktu istirahat dirumah bersama istrinya, tidak sesibuk waktu lalu.
"Kakek kuda ku mana?" tanya Rivan
"Kuda ya ada dirumah Rivan dong, tidak mungkin disini" jawab papih Ammar setengah sadar
"Lumah Lipan?" lirih Rivan berpikir
"Iya, ada di rumah baru Rivan" jawab papih Ammar
"Let's go kita pelgi sekalang" sahut Rivan menarik tangan papih Ammar
"Mama mandi dulu ya pih, jagain Rivan sebentar" ucap mama Alisha menuju kamar mandi
"Kakek juga harus mandi terlebih dahulu, lalu sarapan setelah itu kita berangkat kerumah Rivan ya" tutur papih Ammar
"LIPAN MAU SEKALANG LIHAT KUDANGNYA" teriak Rivan lebih keras dari biasanya, membuat mama Alisha dan Dito menghampiri.
Karena posisi kamar mereka ada dibawah dan pintu kamar tidak ditutup, makanya Dito sampai mendengar teriakan Rivan yang sangat keras
"Ada apa sayang" ucap mama Alisha melihat mata Rivan berkaca-kaca
__ADS_1
"Rivan kenapa, sini sama abang" sahut Dito merentangkan tangannya, Rivan pun memeluk Dito dan menangis dengan keras
"Papih, Rivan kenapa sampai begitu" tanya mama Alisha marah
"Papih hanya bilang mau mandi juga lalu sarapan, setelah itu lihat kuda, dia tiba-tiba teriak, papih juga kaget" jawab papih masih terkejut dengan cucunya
"Rivan tidak boleh berteriak lagi ya, nanti tenggorokan Rivan sakit dan tidak ada suaranya" ucap Dito menenangkan adik ya
"Huaa... hua... Lipan mau pulang, mau bunda, antelin Lipan pulang" sahut Rivan terisak di dalam gendongan Dito, mama Alisha juga mengelus punggung Rivan supaya semakin tenang
"Nanti bunda jemput Rivan, Rivan sabar ya" jawab Dito perhatian
"Mau bunda, hikkss... bunda, hiksss" sahut Rivan menangis sendu
"Sayang, maafin kakek ya, ayo sekarang kita siap-siap lihat kuda" rayu papih Ammar pada cucunya
"Tidak mau, Lipan mau pulang, mau bunda aja" jawab Rivan masih menangis
"Bagaimana kalau hari ini Rivan ikut sama abang Dito ke kantor, disana bagus loh, gedungnya tinggi sekali" ucap Dito masih mencoba menenangkan adik bungsunya
"Iya, Lipan ikut abang saja, kakek jahat sama Lipan" sahut Rivan masih memeluk Dito
"Kek, Nek, Rivan aku bawa ya, nanti jika sudah tenang, kakek bisa jemput Rivan di kantor" ucap Dito pelan
"Ya sudah, bawa saja dulu, bilang sama bibi bawain bekal untuk Rivan, dia belum makan, nanti kami berdua ke kantor" jawab mama Alisha mencium kepala Rivan begitu juga papih Ammar ikut mencium cucunya.
Kenapa sifat dan sikap Rivan mirip sekali dengan Rendra, harus segera di rubah ini. batin papih Ammar melihat cucunya keluar dari kamar
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.
__ADS_1