BEDA USIA? TAK MASALAH

BEDA USIA? TAK MASALAH
Rivan Mau Naik Kuda


__ADS_3

Rendra yang sudah tiba di rumah mendengar semua ucapan papihnya pada Fatimah, Rendra juga merasakan apa yang papihnya rasakan.


Rasa sakit kehilangan mamih dan adiknya, membuat sikap Rendra berubah, awalnya dulu Rendra bukanlah laki-laki yang kasar atau bodo amat pada sesuatu hal, dan Rendra juga lebih sering tidak pulang kerumah semenjak kepergian mamih dan adiknya, Rendra berubah jadi laki-laki kasar dan kurang bertanggung jawab.


Kehadiran mama Alisha mengubah lagi sikap dan sifat Rendra, tapi tidak semuanya berubah hanya sebagian saja, itupun papih Ammar sudah sangat beruntung mama Alisha bisa sedikit mengembalikan Rendra.


Fatimah melihat ke arah pintu, ada bayangan di luar sana, lalu Fatimah menghampiri keluar rumah.


"Ayah sedang apa disini?" tanya Fatimah mengagetkan Rendra, Rendra segera menghapus airmatanya yang ikut mengalir


"Hah, a..yah mau masuk ini" jawab Rendra terbata


"Ayah menangis?" tanya Fatimah menyentuh wajah suaminya yang basah karena airmata


"Tidak, ini kelilipan saja, sudah jangan dibahas ya" jawab Rendra berusaha senyum


"Hari ini kita buat acara doa bersama ya sama anak-anak santri, nanti bunda bilang ke ayah Bahri" ucap Fatimah menenangkan suaminya


"Iya, nanti kita tanya papih dan mama Alisha terlebih dulu" sahut Rendra


"Ayo masuk, nanti kita makan siang sama-sama" ajak Fatimah


"Bunda" panggil Rendra pelan


"Iya" jawab Fatimah


"Maafkan ayah, ayah tau perasaan bunda sakit atas sikap ayah pada Dito dan Ayu, ayah hanya berharap bunda tetap bersabar menerima semua keburukan ayah, dan saat ini ayah akan bilang menerima keputusan bunda jika suatu saat bunda sudah tidak sanggup hidup bersama ayah, kalaupun terjadi itu semua diantara kita, ayah harap hubungan kita akan tetap baik-baik saja" tutur Rendra berkaca-kaca mengungkapkan ini semua yang sudah dipikirkan sejak pagi tadi


Fatimah hanya mendengar perkataan suaminya dia belum bisa berkomentar apapun, Fatimah memang berpikir hidup sama Rendra harus lebih banyak sabar dan kuat mental, karena apa yang keluar mulutnya begitu tajam jika sedang marah.


"Bahasnya nanti saja ya, saat ini kita tenangkan dulu perasaan papih yang sedang tidak baik-baik saja" ucap Fatimah


"Baiklah" sahut Rendra singkat


Dalam Rumah


"Kakek, bantuin Lipan dong" ucap Rivan


"Bantuin apa sayang" jawab papih tersenyum


"Lipan mau hukum ayah, tapi Lipan belum tau hukaman apa untuk ayah" sahut Rivan


"Memang ayah kenapa harus dihukum?" tanya mama Alisha gemas dan penasaran


"Tadi pagi Lipan di nakalin sama ayah, sampai Lipan nangis, telus kata bunda, Lipan boleh hali ini hukum ayah" jawab Rivan semangat


"Wah seru tuh kita hukum ayah, tapi hukum apa ya" ucap papih Ammar


"Gimana kita hukum ayah untuk jadi kudanya Rivan" sahut mama Alisha


"Kuda untuk Lipan, kaya gimana itu Nek" ucap Rivan tidak paham

__ADS_1


"Ayah jadi kuda terus Rivan naik ke punggung ayah, Rivan main deh sampai puas sama ayah" sahut mama Alisha


"Lipan mau naik kuda, pasti selu, haya... haya" ucap Rivan senang


"Haya... haya apaan?" tanya papih Ammar tidak mengerti


"Itu kalau naik kuda kan begitu, kalau tidak salah ya kan Nek" jawab Rivan ikut bingung


"Hahaha, iya deh untuk cucu nenek yang tampan ini" ucap mama Alisha mencium Rivan


"Assalamualaikum" ucap Rendra tersenyum


"Wa'alaikumsalam" jawab semuanya


"Asikk ayah pulang, Lipan mau hukum ayah sekalang" sahut Rivan tidak sabar


"Sayang, ayahnya mandi terlebih dahulu lalu istirahat sebentar ya, terus kita makan siang bersama" ucap Fatimah memberikan pengertian pada anaknya


"Hahhh, bunda dali pagi halangi Lipan telus, katanya boleh Lipan hukum ayah" sahut Rivan cemberut


"Bukan menghalangi, Rivan lihat sendiri ayah baru sampai, apalagi ayah habis dari luar pasti banyak kumannya" ucap Fatimah


"Jangan lama-lama istilahatnya" jawab Rivan ketus


"Siap boy, ayah tidak akan lama deh istirahatnya" ucap Rendra masuk kedalam kamar


Didalam kamar Rendra merenungkan dan mengintropeksi dirinya sendiri, selesai mandi Rendra merebahkan tubuhnya di kasur.


Ucapan ku tadi, aku harap tidak akan pernah terjadi, tidak akan pernah aku berpisah dari Fatimah. batin Rendra


Rendra sibuk berdebat dengan pikirannya sendiri, sampai-sampai rasa sakit dikepalanya hadir.


"Awwss, sakit sekali kepala ku" lirih Rendra menarik rambunya dengan kuat


"Aku akan mencoba mempertahakan rumah tangga ini dengan Fatimah, aku tidak akan melepaskan Fatimah" ucap Rendra pelan sambil menahan tasa sakit yang dia rasa


Ceklek ... suara pintu terbuka


"Ayah" panggil Rivan pelan


"Ya sayang" jawab Rendra tersenyum melihat Rivan hanya memunculkan kepalanya saja dan nyengir padanya


"Lipan masuk ya" ucap Rivan pelan


"Boleh sayang" jawab Rendra bingung anaknya bersikap seperti itu


Rivan menutup pintu dan berlari mendekat ke arah tempat tidur.


"Ayah sudah istilahatnya?" tanya Rivan


"Ada apa dengan anak ayah yang tampan ini, hemm" jawab Rendra

__ADS_1


"Lipan mau hukum ayah" sahut Rivan nyengir


"Kirain ada apa, ternyata masih ingin menghukum ayah ya" sahut Rendra gemas


"Iya, Lipan mau ayah jadi kuda" jawab Rivan


"Kepala ayah sakit sayang, boleh tidak hukum ayahnya besok saja" ucap Rendra memelas


"Ayah sakit? tapi Lipan mau naik kuda ayah" sahut Rivan sendu


"Ayah janji deh sama Rivan, kalau ayah sembuh ayah akan menjadi kuda untuk Rivan, dan juga kalau ayah ada rezeki kita beli kuda yukk" ucap Rendra merayu Rivan


Mata Rivan langsung berbinar mendengar mau membeli kuda.


"Kuda benelan ayah?" tanya Rivan


"Hemm, kuda benaran yang bisa jalan, loncat dan makan sendiri, nanti Rivan juga bisa naik ke atas kudanya" jawab Rendra serius


"Hooaaaa, Lipan pasti kelen naik kuda" sahut Rivan membayangkan dirinya naik kuda


"Anak ayah selalu keren" ucap Rendra


"Kapan beli kudanya?" tanya Rivan semangat


"Rivan bisikin kakek, supaya rumah yang di kota ada tempat untuk kuda, dan Rivan ajak kakek untuk membeli kudanya nanti ayah kasih uangnya pada kakek" jawab Rendra pelan


"Boleh sekalarang belinya?" tanya Rivan mengedipkan matanya berkali-kali


"Hahaha, gemes ayah sama kamu nak, tentu tidak sekarang belinya tapi Rivan harus bilang dari sekarang sama kakek, tapi ingat bunda tidak boleh tau kalau yang beli kudanya Rivan dan ayah, anggap saja itu hadiah dari kakek untuk Rivan" jawab Rendra


"Lipan boong dong sama bunda" ucap Rivan melipat kedua tangannya di dada dan menatap Rendra dengan tajam


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara


πŸ‘πŸΌ Like


πŸ“ Komen


🎁 Hadiah


🎟️ Vote


Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :



Cinta Zavier untuk Aisyah πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ


Kesetiaan Cinta Yusuf πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ

__ADS_1



Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.


__ADS_2