
Kamar Rendra
Rendra masih saja meminta maaf pada istrinya, dan dia masih bersimpuh di kaki istrinya, sudah berulang kali istrinya meminta Rendra untuk bangun tapi selalu di abaikan dan terus saja menangis bahkan menyakiti dirinya sendiri.
"Mas Rendra sudah cukup jangan sakiti diri kamu sendiri, ayo bangun" ucap Fatimah berusaha membangunkan suaminya
"Maaf, aku suami bodoh" jawab Rendra pelan terisak
Tok...tok..tok... ketukan suara pintu
"Kaka ipar, kita makan siang dulu yuk, jangan mikirin Rendra terus, nanti kandungan kaka bermasalah" panggil Nabila cemas
Rendra yang mendengar ucapan Nabila langsung menatap istrinya, dia semakin merasa bersalah pada istri dan anak-anaknya apalagi yang ada didalam kandungan.
"Maaf" lirih Rendra menatap istrinya
"Kita makan bersama ya, jangan menangis lagi" ucap Fatimah menghapus airmata suaminya, Rendra hanya menganggukan kepala dan mereka berdua masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka.
Tok...tok..tok
"Kaka ipar, apa baik-baik saja didalam" teriak Nabila khawatir karena tidak dapat jawaban dari Fatimah
"Kaka tolong buka kak, jangan buat aku takut" teriak Nabila lagi menggedor pintu
Ceklek ... pintu kamar terbuka
"Ya Allah kaka ipar baik-baik saja kan? kenapa matanya sembab begini" tanya Nabila panik melihat mata kaka iparnya sembab habis menangis.
"Kaka baik kok Nabila, jangan khawatir ya, ayo kita makan, tapi tunggu mas Rendra ya" jawab Fatimah senyum
"Rendra? emang udah pulang" tanya Nabila heran
"Sudah lagi di kamar mandi sekarang" jawab Fatimah menuntun Nabila ke meja makan
"Kok bisa dia udah pulang, ada angin apa?" tanya Nabila penasaran
"Sepertinya sudah sadar, pulang hanya minta maaf doang atas kesalahan yang kemarin di perbuat" jawab Fatimah santai
__ADS_1
"Jadi benar semua ini gara-gara barang itu" gumam Nabila pelan masih di dengar oleh Fatimah
"Barang apaan Nabila?" tanya Fatimah heran
"Hai semua" ucap Rendra tersenyum pada Nabila dan istrinya
"Hai Rendra, sudah sadar?" sindir Nabila ketus
"Maaf Nabila" lirih Rendra
"Kita makan dulu, ada yang mau aku bicarakan ini penting" ucap Nabila mulai makan
Beberapa menit kemudia Rendra, Fatimah dan Nabila sudah duduk di ruang keluarga, karena Nabila ingin menceritakan sesuatu.
"Ada apa Nabila, dari tadi kamu buat aku penasaran?" tanya Fatimah sudah tidak sabar mendengar Nabila
"Sebelumnya aku mau tanya sama Rendra, Rendra apa kamu sedang dekat dengan wanita selain Fatimah?" tanya Nabila menatap Rendra
"Aku tidak sedang dekat dengan wanita siapa pun, ada apa memangnya" jawab Rendra heran
Rendra sedang berpikir "Kemarin ini yang pernah datang hanya Christine saja tidak ada yang lain, itu pun Fatimah tau kok" ucap Rendra melihat ke arah istrinya
"Oh ya kemarin dipangku sama kamu itu ya mas, ups" jawab Fatimah keceplosan dia langsung menutup mulutnya
"Idih parah sekali sih kamu Rendra pake peluk-peluk ****** itu segala" ucap Nabila sinis menatap Rendra
"Aku berani sumpah bukan aku yang menyuruhnya, tapi dia sendiri yang tiba-tiba langsung duduk tanpa izin ku" jawab Rendra merasa bersalah pada Fatimah
"Sudah lah yang aku mau bahas disini adalah, apa kalian percaya jika rumah tangga ada yang guna-guna atau santet gitu?" tanya Nabila sedikit bingung sebenarnya
"Guna-guna? aku pribadi percaya tidak percaya sih Nabila, memangnya ada apa sih, bikin penasaran aja deh" tanya Fatimah semakin penasaran
"Jadi semalem itu aku dirumah sama kakenya Ayu dan Dito, dia menyuruh aku cari barang ciri-cirinya yang dia sebutkan, akhirnya aku dan bibi berhasil menemukan itu, barang itu ada di dalam bantal yang biasa di pakai oleh Rendra, dan kake menyuruh bakar barang tersebut dan bantalnya, ya sudah aku bakar aja langsung" tutur Nabila serius
"Seperti apa model barangnya?" tanya Rendra mulai panik
"Kebetulan aku foto, lihat deh ini barang tersebut yang membuat kamu marah-marah dan membenci Dito serta Ayu" jawab Nabila memperlihatkan foto yang ada diponselnya
__ADS_1
"Barang apa ini, ko seperti kain kafan?" tanya Rendra takut
"Ya gitulah, aku pegangnya aja merinding" ucap Nabila bergidik
"Jadi ini penyebabnya, tapi siapa yang masukan ke dalam bantal, ini ngga masuk akal deh" ucap Fatimah tidak percaya
"Nah kake juga menyuruh Rendra pasang cctv disetiap sudut tanpa sepengetahuan para pekerja, kake sebenarnya tau tapi dia takut menjadi su'udzon, yang pasti katanya orang yang selalu berada di luar, kalo aku pikir berarti kan satpam, karena kalo Diman sering bantu bibi didalam, jarang diluar" jawab Nabila santai
"Baiklah besok aku akan menyuruh mereka libur setelah itu aku akan panggil tukang pasang cctv" ucap Rendra yakin
"Itu jauh lebih baik, selamat deh kamu udah sadar kembali, kuatin iman kenapa sih Rend, lemah banget iman lu" sindir Nabila kesal menatap Rendra
"Iya maaf, Iman gua memang lemah" jawab Rendra ketus menatap balik Fatimah
"Sudah jangan ribut ngga jelas akh" ucap Fatimah malas melihat saudara ini seperti tom & jerry
"Kita jemput Ayu dan Dito sekarang, aku mau ketemu mereka" ucap Rendra sungguh-sungguh
"Betul itu, aku ikut, karena info yang aku dapat Dito di rawat gara-gara DBD" timpal Nabila tersenyum
"Dirawat? ayo sayang di ke pondok" ucap Rendra bangkit dari duduknya
"Kok pondok sih, orang dirumah kakenya" sahut Nabila bingung
"Makanya kalo ngga tau apa-apa jangan ikut campur" ucap Rendra sinis
"Idih sudah aku bantuin kamu tau, kalo aku malas mencari barang itu, udah aku pastikan kamu akan di tinggalkan Fatimah untuk selamanya, karena kamu sudah menyakiti kedua anaknya" jawab Nabila emosi, Rendra langsung diam tidak bicara lagi.
"Jadi pergi apa mau ribut, jika jadi lebih baik Nabila siap-siap kita ngga mungkin pulang pergi, pasti menginap semalam, kamu bawa salin" ucap Fatimah menengahi mereka berdua
"Aku tunggu kamu di mobil" jawab Rendra pada Nabila
Rendra dan Fatimah tidak perlu membawa salin, di sana sudah ada beberapa baju Rendra dan juga baju Fatimah, jadi mereka hanya menunggu Nabila saja.
Selama di perjalanan Rendra selalu tersenyum, dan Nabila fokus sendiri pada ponselnya, entah ada hubungan apa antara Nabila dengan Haikal, tapi belakangan ini memang Nabila sangat lengket dengan Haikal sahabatnya Rendra.
Perjalanan cukup panjang dan macet membuat mereka baru tiba di pondok sekitar jam tujuh malam habis ba'da isya, mereka langsung menjalankan ibadah shalat isya yang sudah terlambat, setelah itu mereka kerumah utama yaitu Kyai Bahri untuk menanyakan Dito dan Ayu.
__ADS_1