
"Hahaha, gemes ayah sama kamu nak, tentu tidak sekarang belinya tapi Rivan harus bilang dari sekarang sama kakek, tapi ingat bunda tidak boleh tau kalau yang beli kudanya Rivan dan ayah, anggap saja itu hadiah dari kakek untuk Rivan" jawab Rendra
"Lipan boong dong sama bunda" ucap Rivan melipat kedua tangannya di dada dan menatap Rendra dengan tajam
"Bukan bohong, hanya supaya bunda tidak marah sama ayah dan Rivan, memangnya Rivan mau bunda marah" sahut Rendra
"Lipan tidak mau bunda malah, tapi Lipan juga tidak mau boong ah" jawab Rivan berpikir
"Nanti kita pikirkan sama-sama caranya supaya tidak bohong dan bunda tidak marah, oke. sekarang Rivan bilang dulu sama kakek sana" ucap Rendra
"Oke, Lipan bisikin kakek dulu" jawab Rivan mencium pipi Rendra dan keluar dari kamar
Rendra senang anaknya begitu lucu dan menggemaskan, Rivan juga punya sisi yang perhatian pada orang terdekatnya.
"Rivan darimana? bunda cariin Rivan" ucap Fatimah tergesa
"Lipan dari kamal, temani ayah" jawab Rivan bingung
"Tadi kan bunda bilang jangan kemana-mana, bunda sama kakek dan nenek keluar sebentar" ucap Fatimah
Fatimah dan yang lain mengajak Rivan kerumah Kyai Bahri, ada yang ingin dibicarakan, saat Fatimah dan orangtuanya berdiskusi tiba-tiba Rivan hilang dari pandangan mereka yang tadinya Rivan sedang duduk menonton televisi dirumah Kyai Bahri.
"Gimana Rivan ada?" tanya mama Alisha khawatir
"Ada mam, ini anaknya" jawab Fatimah masih memeluk Rivan
"Rivan darimana kita semua cariin Rivan" ucap papih Ammar masuk kedalam rumah
"Lipan hanya pulang, kan lumah kakek Bahli dan lumah Lipan tidak jauh" jawab Rivan
"Tetap saja tidak boleh jalan pulang sendiri tanpa di dampingi orang dewasa ya nak" ucap Fatimah lembut, Rivan hanya mengganggukan kepalanya
Rivan membisikan sesuatu pada Fatimah. "Bunda, ayah sakit, Lipan mau hukum tidak jadi" bisik Rivan pelan,
Fatimah menatap anaknya dengan serius, Rivan terus saja menganggukan kepalanya.
"Rivan sama kakek dan nenek dulu ya, bunda mau buat minum hangat untuk ayah" ucap Fatimah mengelus kepala Rivan
"Oke bunda" jawab Rivan memantau bunda masuk ke dapur "YES" teriak Rivan senang
"Kenapa habis bisikan bundanya lalu Rivan senang" ucap mama Alisha menatap suaminya
"Papih juga tidak paham, apa Rivan punya rencana ya" jawab papih berpikir
"Kakek, nenek, Lipan mau bicala" ucap Rivan serius tegas tapi lucu
__ADS_1
Papih Ammar dan mama Alisha hanya menahan tawanya melihat tingkah Rivan.
"Mau bicara apa?" tanya mama Alisha biasanya
"Hussttt, jangan kencang-kencang suaranya" jawab Rivan meletakan jari telunjuknya di bibir
"Maaf, mau bicara apa?" tanya mama Alisha dengan pelan suaranya
"Lipan mau kuda, kata ayah Lipan harus bicala sama kakek dan nenek, bunda tidak boleh tau" jawab Rivan pelan
"Untuk apa kudanya" tanya mama Alisha tidak mengerti
"Lioan mau naik kuda, kata ayah Lipan boleh punya kuda dan yang beli kudanya Lipan sama kakek pakai uang ayah, telus kakek halus buatin kandang kuda sekalang di lumah Lipan yang balu" ucap Rivan serius
"Rivan tidak bohongin kakek dan nenek?" tanya papih Ammar
"Bohong itu dosa, jadi Lipan tidak mungkin bohong" jawab Rivan pelan berbisik
"Lalu kapan beli kudanya?" tanya papih Ammar lagi
"Sekalang boleh?" tanya balik Rivan berharap
Mama Alisha dan papih Ammar semakin bingung, permintaan cucunya benar-benar mendadak, membuat kandang kuda dalam waktu singkat mana bisa, apalagi Rivan minta belinya saat ini juga.
"Nenek punya ide, bagaimana kalau hari ini Rivan ikut sama kakek dan nenek, menginap dirumah kakek nanti Rivan bobonya sama abang Dito, pasti abang senang ada Rivan datang" ucap mama Alisha memberikan usul
Papih Ammar menepuk dahinya, karena di pikiran Rivan hanya kuda.
"Apa Fatimah mengizinkan?" tanya papih Ammar pada istrinya
"Coba saja, Rivan suruh bilang pada bundanya" jawab mama Alisha
"Kalian bicala apa sih" tanya Rivan bingung
"Rivan izin dulu sana sama ayah dan bunda kalau hari ini mau ikut kakek menemui abang Dito" ucap mama Alisha
"Oke" jawab Rivan berlari ke dalam kamar
Tok.. tok.. suara ketukan
"Ayah, bunda" panggil Rivan
"Masuk sayang" jawab Fatimah
"Ayah, bunda, Lipan ikut kakek ya, kakek mau pulang" ucap Rivan memohon
__ADS_1
"Nanti merepotkan kakek dan nenek" jawab Fatimah halus
"Lipan kangen abang Dito, mau main sama abang Dito, abang Dito besok tidak kuliah kata kakek dan nenek" ucap Rivan sedih, Fatimah jadi sampai hati melihat anaknya sedih
"Biarkan saja Rivan menginap, lagi pula lusa kita pindah kesana" sahut Rendra lemas
"Ayah Bahri pasti ingin bermain seharian dengan Rivan sebelum kita pindah" ucap Fatimah tau keinginan ayahnya
"Sehari sebelum pindah kita bawa semua barang, lalu ajak Rivan menginap seharian di rumah ayah Bahri, setelah itu kita kembali ke rumah lama" jawab Rendra
"Ya sudah, bunda siapkan dulu pakaian Rivan, tapi Rivan pamitan sama kakek Bahri ya" ucap Fatimah mengelus wajah Rivan
"Iya bunda, Lipan minta antar nenek kerumah kakek Bahli dan nenek Ayi" jawab Rivan
Rivan kembali menemui kakek dan neneknya, tidak lupa juga Rivan bilang ingin menginap di kota bersama abang Dito, awalnya Kyai Bahri kaget cucunya mau pergi mendadak, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, melihat Rivan yang senang akan menginap di kota.
Kyai Bahri hanya mengingatkan Rivan agar selalu belajar mengaji dengan Dito, dan menghafalkan ayat ayat Al Qur'an, dan Rivan menyanggupi itu, setiap Kyai Bahri berkunjung ke kota Rivan harus setoran hafalan pada Kyai Bahri ataupun Umi Yayi.
"Lipan akan belajal mengaji telus, kakek tenang saja, disana ada abang Dito yang ngajalin Lipan" ucap Rivan yakin
"Baiklah, kakek dan nenek percaya pada Rivan, jadi jangan mengecewakan kita" jawab Kyai Bahri mencium cucunya dengan tulus, cinta dan kasih sayang, Umi Yayi juga melakukan hal yang sama pada Rivan
"Kakek sama nene Ayi, jaga kesehatan ya, tidak boleh sakit halus main telus kelumah Lipan di kota" sahut Rivan menatap kakek dan neneknya
"Insyaallah, kita akan sering main ke rumah Rivan yang baru" ucap Kyai Bahri
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
__ADS_1
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.