
"Kenapa pada senyum di tanya" ucap Fatimah
"Bun, Dito boleh tidak pindah sekolah kesini?" tanya Dito membuat Fatimah dan Rendra terkejut
"Sekolah mu disana tanggung nak, masa iya harus ikut pindah, lebih baik selesaikan saja ya disana" jawab Fatimah penuh pengertian
"Dito pasti kangen terus sama Rivan" sahut Dito lesu
"Seminggu sekali kamu kan pulang ke sini, jadi setiap kesini bisa bermain dengan adikmu, lagi pula hitung hitung kamu menjaga kakek dan nenek Alisha di sana" ucap Fatimah dengan lembut
"Ayah bisa aja pindahin kamu ke dekat dekat sini" jawab Rendra merasa tidak tega
"Tetap bunda tidak setuju, biar saja Dito disana sementara" ucap Fatimah
"Baiklah, Dito tinggal sama kakek Ammar saja" sahut Dito
"Itu jauh lebih baik, tidak ada salahnya kamu bantuin kakek dan nenek Alisha disana, siapa tau mereka butuh tenaga laki laki" jawab Fatimah
"Ada satpam dan yang lain, kenapa harus Dito" ucap Rendra menatap istrinya
"Papih Ammar itu suka malas minta tolong sama satpam, karena mereka harus masuk ke area yang sebenarnya tidak boleh dimasuki satpam, minimal kalau ada Dito, papih Ammar bisa minta bantuan padanya" jawab Fatimah
"Ayo Rivan kita main saja di luar" ucap Dito mengangkat Rivan membawanya keluar dari kamar pasutri tersebut
"Jangan dibawa dong, ayah juga masih mau bersamanya" sahut Rendra
"Ayah sama bunda aja, aku sama Rivan, aku izin bawa Rivan ke pesantren ya" ucap Dito berdiri di ambang pintu
"Asal jangan ganggu santri yang lain" ucap Fatimah
"Siap bunda" jawab Dito
"Kenapa diizinkan?" tanya Rendra
"Terus harus bunda larang? atau bunda panggil lagi mereka berdua" jawab Fatimah
"Tidak perlu, berarti bunda harus temani ayah dikamar sampe puas" ucap Rendra
"Sampe puas apanya?" tanya Fatimah
"Apa ya" jawab Rendra berpikir
"Pikirannya jangan kesana terus, ayah nanti sore mau belanja bahan kue tidak di pasar?" tanya Fatimah mengalihkan pembicaraan
__ADS_1
"Harus ayah?" tanya balik Rendra
"Kalau ayah tidak mau, bunda saja" jawab Fatimah
"Siapa yang bilang tidak mau, ayah kan bertanya harus ayah, bukan tidak mau" ucap Rendra kesal
"Selain ayah, emang bunda bisa minta tolong sama siapa lagi?" tanya Fatimah
"Baiklah ayah akan belanja bahan tapi sama Dito, ayah belum ingat banget posisi tukang bahan bahan kue" jawab Rendra memeluk istrinya
"Terima kasih ayah" ucap Fatimah
"Pakai terima kasih segala, emangnya aku tukang ojeg" sahut Rendra
"Bunda mau istirahat lagi boleh" ucap Fatimah
"Boleh dong" sahut Rendra ikut rebahan bersama istrinya "Sayang, rasanya kok aku tidak sanggup ya hidup seperti ini, lihat bunda harus bekerja, dagang kue" ucap Rendra dekat telinga istrinya
"Bersyukur saja, insyaa Allah akan indah pada waktunya" sahut Fatimah dengan tenang
"Kita kembali saja yuk, ayah juga kasihan dengan Dito dan Rivan" ucap Rendra memang tidak tega dari awal pada anaknya
"Berarti ayah sudah harus siap, jika terjadi hal yang tidak di inginkan, walaupun bunda selalu berdoa dan berharap rumah tangga ini terakhir untuk bunda" sahut Fatimah
"Ini akan menjadi pernikahan terakhir bunda, akan ayah pastikan itu, ayah juga janji akan selalu setia kok sama bunda" ucap Rendra membelai pipi Fatimah
"Kenapa bunda jadi membahas ini, akan ayah sudah bilang, ayah janji akan selalu setia sama bunda dan kita akan terus bersama sama, hingga maut yang memisahkan kita" ucap Rendra tersenyum
"Manusia hanya bisa berencana, tapi selanjutnya biarkan lah Allah yang menentukan Rencana lainnya" sahut Fatimah
"Ayah itu cinta dan sayang sekali sama bunda serta anak anak, bila ayah melakukan kesalahan, tolong ingatkan ayah, tapi jangan tinggalkan ayah" ucap Rendra
"Manusia tempatnya bersalah, bunda juga masih banyak sekali kekurangan dan kesalahan" jawab Fatimah
"Kita sama sama saling melengkapi, agar kekurangan kita tertutup oleh kelebihan yang kita miliki" ucap Rendra sudah mengelus bagian bi**ir Fatimah
"Apa orang itu masih meneror ayah?" tanya Fatimah
"Belum, bisa jadi dia lagi mencari tau tentang kehidupan ayah yang sekarang" jawab Rendra menatap Fatimah dengan dalam
"Tidur lah, kalau memang ayah mengantuk" ucap Fatimah melihat mata suaminya mulai merem melek
"Baru mau sesuatu dari bunda, tapi mata ayah jadi berat begini rasanya" jawab Rendra
__ADS_1
"Ayah mau apa? nanti bunda ambilkan" ucap Fatimah
Rendra mencium bi**ir istrinya sekilas dan tersenyum, membuat Fatimah terkejut.
"Hanya mau itu, eh salah deh sebenernya mau yang lebih tapi entah kenapa mata ayah mengantuk sekali" ucap Rendra
"Untung tidak ada yang masuk ke kamar, pasti tadi ayah melakukan itu," sahut Fatimah kesal
"Rumah sepi sayang, jadi tidak ada yang ganggu" ucap Rendra
"Iya sepi, tapi kalau ada Dito asal masuk bagaimana?" tanya Fatimah
"Dito itu anak yang sopan, tata krama yang dia miliki masih dipegang teguh olehnya, jadi dia tidak mungkin asal masuk, apalagi dia tau ini kamar orangtuanya" jawab Rendra ada rasa bangga pada anak sambungnya itu
"Sok tau" sahut Fatimah pura pura
"Tau dong, ini kan ayahnya, masa seorang ayah tidak tau sikap dan sifat anaknya" ucap Rendra
"Iya, iya, bunda percaya sama ayah, kita dari tadi ngobrol, yang ada tidak istirahat keburu anak anak pulang" jawab Fatimah mengingatkan
"Ayo bobo, ayah peluk sini, supaya bunda tidak kabur" ucap Rendra memeluk Fatimah
Mereka tertidur hingga terlelap, rasa pegal dan lelah yang membawa mereka masuk ke alam yang bernama alam mimpi, begitu juga Authornya mau ikutan bobo karena sudah lelah dengan pekerjaan yang ada di kehidupan real ππ€
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
__ADS_1
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.