BEDA USIA? TAK MASALAH

BEDA USIA? TAK MASALAH
Membuat Rencana


__ADS_3

Selesai makan Rendra kembali ke kamar untuk mengistirahatkan tubuh dan kepalanya yang terasa sakit. belakangan ini kepala Rendra memang sering sakit tapi bukan karena penyakit dalam, tapi banyaknya pikiran.


Rendra masih memikirkan tentang perempuan yang dengan siap menghancurkan rumah tangga dia.


Semoga kamu bisa bertahan, hidup dengan ku penuh dengan penderitaan, maaf Fatimah jika aku banyak kekurangan membuat kamu selalu sedih dan sedih. batin Rendra


Satu minggu berlalu, sikap Rendra semakin terlihat gelisah, Fatimah sudah beberapa kali menanyakan tentang permasalahan yang di alamai sang suami, tetapi sang suami enggan membagi kegelisahannya kepada Fatimah.


Begitu juga Dito merasa khawatir dengan ayahnya selalu terlihat murung, bahkan untuk berbicara saja seperti orang malas.


"Bunda" panggil Dito melihat bundanya sedang duduk di ruang tv bersama baby R


"Iya, ada apa? tanya Fatimah menoleh ke arah Dito


"Ayah semakin hari berbeda bun, apa mungkin ada masalah besar dan ayah tidak ingin kita mengetahuinya" jawab Dito penasaran


"Kamu jangan khawatir, ayah baik baik saja, pekerjaan dirumah sakit sedang padat belakangan ini" ucap Fatimah berbohong


"Bunda yakin?" tanya Dito penuh selidik


"Insyaa Allah, sayang" jawab Fatimah dengan lembut "Lebih baik kamu bersihkan tubuh supaya segar, kalau di nanti nanti keburu sore" ucap Fatimah lagi


"Iya bun, Dito ke atas dulu, bye ganteng" sahut Dito menjawil pipi gembul adiknya, Rivan hanya tertawa saat sang kaka mencolek pipinya.


"Rivan harus menjadi anak soleh ya ganteng, buat ayah dan bunda bangga pada Rivan" ucap Fatimah mencium Rivan, Rivan pun kembali tertawa


"Assalamu'alaikum" ucap Rendra


"Wa'alaikumsalam, ayah sudah pulang, biasa memberi kabar sebelum pulang" sahut Fatimah


"Ayah kan berangkat dari subuh, jadi sebisa mungkin pulang jam segini" ucap Rendra apa adanya


"Ke kamar yuk, bersih bersih lalu ayah langsung istirahat" ajak Fatimah dengan lembut


Rendra, Fatimah dan Rivan masuk ke dalam kamar, Rendra melakukan ritual mandinya, sedangkan Fatimah tadi kembali ke dapur membuatkan minuman yang segar, supaya otak sang suami tidak konslet saat di tanya.


"Ayah, kenapa belakangan ini lebih sering diem, padahal bunda lebih suka ayah yang selalu semangat loh" ucap Fatimah memberikan semangat


"Apa ayah berhenti jadi dokter aja ya?" tanya Rendra lesu, Fatimah terkejut dengan perkataan suaminya


"Ayah ini kenapa, kalau memang ada masalah di Rumah Sakit cerita dong, dari kemarin ayah tak banyak bicara loh, tiba tiba bicara mah berhenti jadi dokter" ucap Fatimah heran


"Gimana kalau kita jadi keluarga yang biasa biasa saja, kita tetap punya mobil satu selebihnya hanya motor, dan rumah kita cari yang sedikit lebih kecil dari sekarang" sahut Rendra mengalihkan pembicaraan

__ADS_1


"Masih punya mobil sama aja hidup mewah lah, hidup biasa itu hanya dengan satu kendaraan yaitu motor" ucap Fatimah yang masih penasaran


"Lalu bagaimana? mobil itu pasti butuh sewaktu waktu" tanya Rendra menatap istrinya


"Cerita dulu, ayah ini kenapa, dan ada apa setelah itu kita mikir yang lain" jawab Fatimah tegas tapi masih terdengar lembut


"Huftt, belakangan ini ada teror yang datang ke ayah, teror itu yang bisa membuat keluarga kita berantakan" jawab Rendra lesu


"Terus ayah dapat teror seperti itu hanya diam saja?" tanya Fatimah melihat suami seperti orang lain, bukan lagi Rendra yang tegas


"Ayah sudah selidik, bahkan ayah meminjam orang yang biasa membantu papih, tapi mereka masih belum dapat petunjuk" jawab Rendra


"Apa yang di takuti dari ancaman itu?" tanya Fatimah semakin penasaran


"Masa lalu ayah itu buruk, bahkan mengerikan, kamu ingat masalah flashdisk yang bilang itu bukti perselingkuhan ayah, tapi ayah yakin itu flashdisk masa lalu ayah yang kelam" jawab Rendra mengelus kepala Rivan yang sedang bermain mobilan karetnya


"Semua orang punya masa lalu, baik ataupun buruk, masa lalu hanya untuk di kenang, ibarat itu seperti kaca spion yang hanya di lirik sesekali untuk menengok ke belakangan sisanya kita fokus kedepan, lupakan teror itu biarkan saja, atau ayah mengenal siapa yang meneror?" tanya Fatimah


"Masih ragu" jawab Rendra singkat


"Jadi tujuan ayah ingin hidup biasa apa?" ucap Fatimah


"Ayah hanya meyakini jika yang teror ayah ingin apa yang ayah punya saat ini, tapi di saat ayah tidak punya apapun, ayah juga yakin pasti dia berhenti meneror" sahut Rendra


"Dito bagaimana? lalu Rivan?" tanya Rendra


"Boleh tidak sementara, sampe Dito lulus numpang di rumah papih Ammar dan mama Alisha? tanya balik Fatimah


"Jelas boleh dong, masa tinggal dirumah kakeknya sendiri tidak boleh, nanti ayah akan bicara sama papih dan mama ya" jawab Rendra mencium kening Fatimah


"Lain kali ada masalah itu cerita bukan di umpetin, itu juga kalau memang ayah masih menganggap bunda ini istri ayah, kalau sudah tidak menganggap istri juga tida apa apa" ucap Fatimah pura pura kesal


"Astaghfirullah, jangan bicara seperti itu, iya ayah salah, ayah itu selalu melakukan kesalahan pada kalian semua, tapi jangan pernah bilang ayah tidak anggap bunda istri" sahut Rendra


"Habisnya sikap ayah tuh begitu, tidak pernah berubah, terkadang emosional, terkadang baik dan lembut dan terkadang bisa menjadi orang lain bagi bunda" jawab Fatimah


"Maaf ya, ayah tidak bermaksud seperti itu sayang" ucap Rendra memeluk Fatimah


Plukkk .... suara timpukan


"Awwsss" jerit Rendra merasakan sakit


Ternyata Rivan yang melemparian mainan robot ke arah Rendra yang sedang memeluk Fatimah, Rivan hanya tertawa dan bertepuk tangan melihat ayahnya kesakitan.

__ADS_1


"Kenapa Rivan timpuk ayah?" tanya Rendra gemas dan menciumi perut Rivan hingga anak itu tertawa keras


"Ayah jangan begitu, nanti susah makan anaknya" ucap Fatimah dengan lembut


"Rivan yang salah kenapa ayah yang dimarahi" sahut Rendra


"Dia hanya cemburu saat ayah memeluk bunda" ucap Fatimah


"Oh ya, apa benar, kita ulangin" sahut Rendra memeluk kembali Fatimah


Huaaa..... huaaaa .... tangisan Rivan dengan keras


"Astaghfirullah, eh malah nangis nih bocil" ucap Rendra panik


"Tuh ayah sih, sengaja segala, udah tau anaknya sensitif sama kaya bapaknya" sahut Fatimah menenangkan Rivan


"Ayah nakal sama Rivan" ucap Fatimah mengelus punggung anaknya


"Bunda kan punya ayah nak, masa mau dikuasain Rivan sih" sahut Rendra cemberut


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara


πŸ‘πŸΌ Like


πŸ“ Komen


🎁 Hadiah


🎟️ Vote


Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :



Cinta Zavier untuk Aisyah πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ


Kesetiaan Cinta Yusuf πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ



Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.

__ADS_1


__ADS_2