BEDA USIA? TAK MASALAH

BEDA USIA? TAK MASALAH
Akhirnya Pindah Rumah


__ADS_3

Hari ini dimana Rendra dan keluarga kecilnya pindah kerumah kedua Kyai Bahri, dan Rendra juga membuat berita berita yang heboh tentang kondisi ekonomi yang sedang di alami saat ini.


Papih Ammar sengaja melakukan itu semua agar tidak ada yang mengganggu lagi rumah tangga anaknya, dia juga kesal dengan perempuan yang mengusik Rendra tentang masa lalu.


Fatimah sekarang sibuk membereskan semua pakaian untuk di simpan ke dalam lemari kayu sederhana, sedangkan Rendra menjaga Rivan. Rumah yang ditempati Rendra dan Fatimah memang sangat sederhana, hanya satu lantai dan tiga kamar, untuk kamar mandi pun akan digunakan bersama sama, tidak ada lagi kamar mandi di dalam kamar dan tidak ada lagi bathup untuk berendam, benar benar rumah yang sangat sederhana.


Pada awalnya Rendra ragu untuk tinggal dirumah ini, tapi demi mempertahankan kedamaian rumah tangganya akan dia lakukan. Dito ikut untuk membatu Fatimah dan Rendra, berhubung Dito masih libur sekolah, Dito membersihkan kamar mandi.


"Maafin ayah ya sayang, insyaa Allah kita akan kembali lagi di kehidupan kita yang sesungguhnya, ini hanya sementara saja" lirih Rendra menciumi kepala Rivan si anak bungsu


Rivan yang di ajak bicara hanya tertawa kecil melihat wajah ayahnya.


"Rivan sudah lapar belum, kita lihat perbekalan yang tadi dibawa yuk, ke dapur sama ayah" ucap Rendra mengangkat Rivan dan di gendong, Rivan mengalungkan tangannya di leher Rendra membuat Rendra merasa senang


"Ayah cari apa?" tanya Dito melihat ayahnya masuk dapur


"Cari makanan Rivan, kasihan ini udah siang dia pasti mau makan" jawab Rendra membuka tas makanan


"Sini Dito bantu, emangnya bunda belum selesai membereskan pakaiannya?" tanya Dito disela mencari makanan


"Ayah belum lihat ke kamar" jawab Rendra apa adanya


"Kalian kok ngumpul semua di dapur?" tanya Fatimah heran


"Ini Rivan lapar, aku lagi nyari makanannya bun" jawab Dito


"Ya Allah, kasihan sekali pada lapar, maaf ya bunda lama beresinnya" ucap Fatimah mengambil alih tas makanan


"Tidak apa apa, harusnya ayah yang minta maaf, tidak bantuin bunda sama sekali" sahut Rendra


"Ayah kan jagain Rivan, itu tandanya ayah bantuin bunda juga, sini Rivannya biar bunda yang pangku, ayah sama Dito juga makan ya" ucap Fatimah siap menyuapi Rivan


Mereka makan dengan tenang, tidak ada yang berbicara saat itu, memang dari awal lebih terbiasa makan tanpa berdiskusi. Selesai makan Dito istirahat di kamarnya yang sudah disediakan sedangkan Rendra dan Rivan juga bermain di dalam kamar.


Fatimah tadi izin pada Rendra untuk ke rumah ayah Bahri, dia ingin meminjam beberapa peralatan masak di rumah orangtua almarhum Sidiq, Kyai Bahri sangat senang karena bisa berdekatan dengan cucunya.


"Suami mu mana?" tanya Kyai Bahri


"Lagi istirahata sama Dito dan Rivan dirumah" jawab Fatimah


"Jujur, ibu senang kalian ada dilingkungan pesantren" ucap ibu Yayi

__ADS_1


"Ini tuh keinginan ibu mu banget Fat, waktu dulu saat masih ada almarhum, ibu mu sering sekali minta padanya untuk pindah kesini, tapi Sidiq tidak mau, katanya pekerjaannya nanti terganggu mengingat jarak pesantren dan tempat kerjanya menjadi jauh" tutur Kyai Bahri


"Sekarangkan Fatimah ada disini, semoga aja dalam waktu yang lama kami tinggal di lingkungan pesantren, bantu doain Fatimah dan keluarga ya bu" ucap Fatimah dengan suara lembutnya


"Pasti ibu akan selalu mendoakan anak dan cucu ibu, agar selalu sehat dan bahagia lahir batin" sahut ibu Yayi memeluk Fatimah


"Aamiin" ucap mereka bertiga


Fatimah kembali ke rumahnya, jarak rumah Fatimah dan Kyai Bahri hanya beberapa langkah saja, apalagi ini masih di lingkungan pesantren, jadi Kyai Bahri bisa memantau cucunya agar lebih paham agama dari usia dini.


Hari semakin malam, keduanya anaknya sedang bercanda, Rendra hanya melihat, betapa bahagianya Rivan di ajak main oleh Dito, sampe terdengar suara tertawa terbahak dari mulut mungilnya itu.


Dan sesekali Rivan memukul wajah Dito dengan tangan mungilnya membuat siapapun pasti akan gemas dengan balita, Rendra berharap ini adalah sebuah awal perjalanan rumah tangganya, tanpa ada kekejaman orang orang yang memiliki kekuasaan.


"Hai, udah malam bobo, masih betah becanda ya sama bang Dito" ucap Rendra, Rivan hanya tertawa dan memainkan kaki mungilnya


"Dito istirahat lah, bunda dan ayah juga mau istirahat" sahut Fatimah


"Siap bunda, pasti nanti subuh KeAbi ke sini deh, hehehe" ucap Dito cengengesan


"Untuk apa?" tanya Rendra membuat Fatimah dan Dito menoleh ke arahnya


"Mengajak kalian subuh berjamaah bersama para santri, itu sudah kebiasaan ayah Bahri" jawab Fatimah tersenyum


Fatimah dan Rendra masuk ke dalam kamar, ternyata Rivan masih segar matanya, dia berguling sana berguling sini, seperti ingin menguasi seutuhnya tempat tidur yang tidak terlalu besar itu.


"Sayang, besok kita ganti kasurnya ya, ini kecil dan sempit, Rivan kasihan sampe tidak leluasa dia" ucap Rendra mengelus kepala Rivan


"Ayah kamar ini tidak terlalu besar, nanti kalau ganti kasur tidak ada space lagi pasti full sama kasur" sahut Fatimah


"Pokoknya harus ganti kasur, ayah ga mau tau" ucap Rendra pada pendiriannya


"Terserah ayah saja, tapi misalkan jadi sempit jangan salahkan oranglain ya" sahut Fatimah


"Insyaa Allah tidak sempit, kasurnya kan kita pepetin ke tembok saja, jadi Rivan posisinya dekat sama tembok" ucap Rendra santai


"Rivan sayang, lagi apa nak" tanya Fatimah saat melihat Rivan masih guling guling


"Sampai merah tuh mukanya, jangan guling guling lagi ya" ucap Rendra memindahkan Rivan ke posisi yang benar


"Bluurrrrrhhhh" suara Rivan memainkan bibirnya

__ADS_1


"Eh apaan sih, anak ayah ini semakin hari semakin aneh tingkahnya" ucap Rendra gemas dengan anaknya


"Rivan kan mau jadi anak cerdas ya, mau cepat cepat bisa bicara dan minta jajan sama ayah" timpal Fatimah


"Nanti kita jajan ya, kalau Rivan sudah bisa makan yang aneh aneh" ucap Rendra menggigit pelan pipi gembul Rivan


Huaaaa.... huaaaa.... suara tangisan Rivan


"Cup... cup... jangan nangis sayang, ayah hanya becanda, maaf ya, mana yang sakit" ucap Rendra mengelus pipi Rivan yang tadi dia gigit


"Lagian ayah tih asal gigit deh, emangnya dia roti di gigit begitu" sahut Fatimah


"Ayah gemas, apalagi nih pipinya, bagaikan bakpao, ingin gigit terus" ucap Rendra


Hikksss.... Hikksss... Rivan masih menangis pelan


"Jagoan bunda tidak boleh nangis, nanti gantengnya hilang deh" ucap Fatimah merayu anaknya


Rivan langsung memeluk leher Fatimah, dia seperti sedang mencari perlindungan dari sang bunda.


"Rivan sayang, itu kan bundanya ayah, peluknya berdua ya" tutur Rendra ikut memeluk Fatimah, dia tidak mau mengalah sama anak sendiri


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara


πŸ‘πŸΌ Like


πŸ“ Komen


🎁 Hadiah


🎟️ Vote


Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :



Cinta Zavier untuk Aisyah πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ


Kesetiaan Cinta Yusuf πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ

__ADS_1



Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.


__ADS_2