BEDA USIA? TAK MASALAH

BEDA USIA? TAK MASALAH
Penyesalan Lagi


__ADS_3

"Jika kamu ingin anakmu tidak menderita, kamu tidak akan melakukan hal itu Fatimah" jawab Rendra


Fatimah tersenyum, Rendra yang berawal memanggil kamu sekarang menjadi hanya nama.


Seketika Rendra terdiam, dia menyadari dirinya sudah kelewat batas terhadap Fatimah, Rendra menatap istrinya dengan perasaan bersalah.


"Bunda, maaf ayah tidak bermaksud membeda bedakan anak-anak kita, ayah minta maaf berkata kasar pada bunda" ucap Rendra memegang tangan Fatimah


Pada dasarnya Fatimah sudah sangat paham dengan karakter yang Rendra miliki, dia bisa menjadi orang yang sangat baik dan juga dibisa menjadi bumerang untuk kedua anak Fatimah


Rendra terus saja meminta maaf pada istrinya, sedangkan Fatimah hanya diam saja melihat Rendra, ada rasa sakit hati dalam diri Fatimah pada Rendra, apabila dia mengingat Dito dan Ayu.


"Ayah sama bunda kenapa?" tanya Rivan tidak mengerti apapun


Rendra dan Fatimah menatap Rivan yang sedang menatapnya juga.


"Bunda gendong" ucap Rivan takut melihat ayah bundanya saling diam


Tapi Fatimah masih belum menggendong Rivan, kondisi hatinya benar-benar sangat tidak baik saat ini.


"Bunda, huaa... huaa... hua... " tangis Rivan dengan keras, merasa dirinya di abaikan orangtuanya


Fatimah mengangkat Rivan dan memangkunya sambil memeluk anak bungsunya.


"Anak laki-laki tidak boleh menangis" ucap Fatimah mencoba menenangkan Rivan


"Hikss... hikss bunda malah dengan Lipan ya" jawab Rivan terisak


"Tidak sayang, bunda tidak pernah marah pada Rivan, stop ya menangisnya, nanti Rivan sakit kebanyakan menangis" ucap Fatimah membersihkan air mata Rivan


"Rivan, ayah gendong yuk" sahut Rendra


"Mau bunda aja" jawab Rivan memeluk Fatimah


"Bunda" panggil Rendra, Fatimah pun menoleh menatap suaminya


"Bisa tinggalkan aku berdua saja dengan Rivan di kamar" tanya Fatimah pelan


Rendra menganggukan kepalanya dengan lesu dan pasrah dan meninggalkan Rivan serta Fatimah


Apa yang telah aku perbuat, bodoh kamu Rendra, lagi-lagi menyakiti istri dan anak-anakmu. batin Rendra


Rendra mencoba menghubungi Dito, dia ingin tau apakah Dito marah padanya.


πŸ“² Rendra


Assalamualaikum nak


πŸ“² Dito


Wa'alaikumsalam


πŸ“² Rendra


Kamu sedang apa?


πŸ“² Dito


Lagi mengerjakan tugas saja


πŸ“² Rendra


Sudah makan malam?


πŸ“² Dito

__ADS_1


Alhamdulillah sudah


πŸ“² Rendra


Dito marah dengan ayah?


πŸ“² Dito


Marah? maksudnya?


πŸ“² Rendra


Beberapa hari yang lalu, ayah mengabaikan panggilan dari Dito, apa Dito marah dan membenci ayah saat ini


πŸ“² Dito


Iya


Mendengar kata "Iya" perasaan bersalah Rendra semakin besar pada mereka semua.


πŸ“² Rendra


Ayah cuma bisa bilang maaf pada Dito atas kesalahan yang ayah lakukan, selebihnya terserah Dito mau memaafkan ayah atau tidak, ayah tutup dulu ya telponnya, terima kasih Dito sudah bersedia menerima panggilan dari ayah, semoga kamu selalu sehat, Assalamualaikum


πŸ“² Dito


Wa'alaikumsalam Wr. Wb


"Ada apa dengan ayah Rendra" lirih Dito menatap ponselnya


Rendra mencoba menghubungi Ayu, dan pertanyaan serta ucapan sama seperti yang di katakan pada Dito, itu juga membuat Ayu bingung, apa yang terjadi.


Mata yang mulai mengantuk, Rendra tertidur di sofa sederhananya yang berada di ruang tv, Fatimah di dalam kamar menidurkan Rivan setelah Rivan tidur, Fatimah mencari Rendra.


Fatimah kembali masuk ke dalam kamar untuk menenangkan hati dan perasaannya, dia tidak mungkin juga berantem terus menerus dengan Rendra, jadi lebih baik dia melupakan masalah yang terjadi.


Dito menghubungi bundanya dan bercerita bahwa ayahnya habis menelpon dan meminta maaf pada Dito dan juga Ayu, tapi Dito dan Ayu belum tau kenapa Rendra meminta maaf, jadi Fatimah hanya bilang karena Rendra pernah mengabaikan panggilan dari kalian makanya meminta maaf lebih dulu.


Keesokan paginya Rendra pulang dari masjid langsung masuk ke dalam kamar dan merebahkan dirinya di samping Rivan yang tertidur nyenyak.


Suara pintu terbuka, Fatimah masuk dan membawakan minuman teh hangat untuk suaminya, Rendra hanya menatap Fatimah dengan pilu.


"Mau sarapan di rumah atau di apotik?" tanya Fatimah bersuara lembut


"Apa bunda masak untuk ayah?" tanya balik Rendra


"Iya" jawab Fatimah singkat


"Sarapan dirumah saja" ucap Rendra pelan


"Nanti makan siang dimana?" tanya Fatimah lagi, dia tidak ingin cape-cape masak sedangkan suaminya sudah makan diluar bersama oranglain


"Dirumah, jika kamu memasak lagi" jawab Rendra


"Tolong bangunin Rivan dan mandikan dia" ucap Fatimah keluar kamar


Kamu masih mau melayani ku, setelah apa yang aku perbuat pada mu, Fatimah. batin Rendra


"Anak ayah, bangun dong sudah siang ini" ucap Rendra mencium wajah Rivan


Rivan menggeliat dengan mata terpejam


"Kalau tidak bangun ayah gigit nih perutnya" ucap Rendra lagi sengaja


Tetapi Rivan masih enggan untuk membuka matanya, dia berguling-guling tersenyum dan matanya masih menutup rapat.

__ADS_1


"Mulai jahil ya anak ayah, oh Rivan tidak mau bangun, berarti ayah mau menculik bunda saja ah" ucap Rendra mengancam anaknya


"Huaa... huaa... huaa..." tangisan Rivan tiba-tiba


"Waduh nangis, sayang stop nangisnya, ayah hanya bercanda" ucap Rendra panik


"Ada apa?" tanya Fatimah masuk tergesa mendengar suara tangisan


"Bunda, ayah mau culik bunda katanya, huaa... huaa.." jawab Rivan menangis


"Tidak ada yang menculik bunda, Rivan salah dengar mungkin, apa Rivan mimpi" ucap Fatimah


"Kata ayah, kalau Rivan tidak mau bangun bunda akan diculik sama ayah" sahut Rivan


"Ayah hanya bercanda, sekarang Rivan dimandiin ayah, oke" ucap Fatimah memberi pengertian


"Bunda aja" sahut Rivan cemberut


"Nanti masakan bunda gosong, terus kita makan apa? Rivan kan laki-laki jadi kalau mandi harus sama ayah" ucap Fatimah


"Ayah nakal bunda" sahut Rivan


"Habis Rivan mandi, kita hukum ayah sesuai gang Rivan mau" ucap Fatimah


"Benelan boleh" tanya Rivan


"Iya boleh untuk Rivan hari ini" jawab Fatimah


"Bebas deh Rivan mau hukum ayah apa, ayah salah" sahut Rendra


"Bagus, ayo mandi" jawab Rivan semangat


"Tapi jangan yang susah hukumannya" ucap Rendra memelas


"Telselah Lipan dong, ayah halus nulut sama Lipan" sahut Rivan semangat


"Rivan itu anak yang baik, masa mau jahatin ayah" ucap Rendra


"Ayah saja jahat sama Lipan dan bunda, masa Lipan tidak boleh jahat juga dengan ayah, tidak adil itu" sahut Rivan melipat kedua tangannya di dada


"Ajaran dari mana ini" ucap Rendra bingung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara


πŸ‘πŸΌ Like


πŸ“ Komen


🎁 Hadiah


🎟️ Vote


Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :



Cinta Zavier untuk Aisyah πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ


Kesetiaan Cinta Yusuf πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ



Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.

__ADS_1


__ADS_2