
"Tanyakan pada bunda mu sana, kasihan bu Lingga sudah menunggu" jawab Bu Yayi
"Baik NeUm, Dito tanya dulu sama bunda ya" ucap Dito berlari
Dito masuk ke dalam rumahnya memanggil Fatimah.
"Ayah, bunda mana?" tanya Dito melihat ayahnya masih menyusun kue di dalam box
"Lagi mandi tuh, kamu kenapa lari begitu" tanya Rendra
"Itu ada yang mau beli kue nya lagi" jawab Dito
"Nih bawa aja semua, keluarin sudah ayah susun" ucap Rendra dengan santai memberikan kue yang sudah di susun
"Beneran boleh dijual lagi?" tanya Dito tidak yakin
"Kue ini dibuat memang untuk dijual sama bunda, pasti boleh lah" jawab Rendra bingung melihat Dito
"Ya sudah, Dito bawa lagi keluar" ucap Dito mengambil kuenya
Ceklek ... suara pintu kamar mandi terbuka
"Oh, sudah mau dibawa ya, bagus deh, cepat sana nak, nanti di tungguin" ucap Fatimah
"Ok bun" jawab Dito
Apa bunda lupa ingatan ya, katanya untuk di bagikan ke santri, ini kok malah disuruh jualan lagi, plin plan deh. batin Dito menatap kue kue yang ada
"Ayah, aku mau ambil Rivan dulu ya, ayah kalau sudah selesai simpan aja peralatannya disana, supaya tidak berantakan" ucap Fatimah meninggalkan Rendra
Fatimah berjalan keluar rumah, dan melihat Dito masih di toko membungkus beberapa kue dan diberikan kepada bu Lingga, Fatimah segera berjalan menuju tokonya.
"Dito sedang apa? bunda kan sudah bilang tolong rapihkan dan masukan box kosong ke rumah untuk dibersihkan" tanya Fatimah
"Tadi kan Dito bilang sama ayah ada yang mau beli kuenya lagi, lalu kata ayah bawa aja kue ini, terus kan bunda juga bilang cepatan nanti ditungguin" jawab Dito
"Astaghfirullah, maksud bunda cepat bagikan bukan di jual lagi Dito" ucap Fatimah
"Hah" sahut Dito
__ADS_1
"Bunda bilang tadi kue yang di dalam untuk santri, masa Dito lupa" ucap Fatimah
"Dito tidak lupa, hanya saja tadi Dito bingung, dan Dito pikir bunda juga tidak jadi membagikan ke santri" jawab Dito
"Di dalam masih ada kan?" tanya ibu Yayi yang dari tadi hanya mendengarkan
"Masih ada, tapi tidak akan cukup untuk semua santri bu" jawab Fatimah
"Tidak apa apa, tambahannya beli saja" ucap ibu Yayi
"Bener tuh kata NeUmi, bun" jawab Dito nyengir
"Terserah Dito deh, sekarang sisanya gabung dengan yang lain langsung antar ke ruang makan sebelum Dzuhur, jadi habis dzuhur mereka langsung makan dan mencicipi kue buatan bunda" ucap Fatimah
"Bunda mau kemana?" tanya Dito
"Mau ambil adik mu, kasihan nanti kakekmu kelelahan" jawab Fatimah
Setelah di rumah ayah Bahri, Fatimah melihat anaknya dan ayahnya sedang tidur di kasur lantai yang sedikit tebal, Fatimah hanya tersenyum dari Ayu sampe Dito dia tidak pernah melihat momen ini, jadi Fatimah berinisiatif untuk memfoto Ayah Bahri dan Rivan saat tidur bersama dengan posisi yang sama juga.
"Kenapa senyum senyum begitu?" tanya ibu Yayi
"Ayah mu tuh sangat senang, tadi pagi kamu menitipkan Rivan padanya, sampe di ajak ke sana ke mari lihat pesantren" ucap Ibu tersenyum senang
"Semoga ayah tidak kapok jagain Rivan yang super aktif ini ya bu" sahut Fatimah
"Kita berdua senang melihat kamu dan anak anak bahagia, apalagi bisa setiap hari bersama dengan cucu kita" jawab Ibu Yayi terharu
"Doain Fatimah terus ya bu, supaya selalu bisa membahagiakan ibu dan ayah, dan juga almarhum mas Sidiq, Fatimah tidak bermaksud ..." ucap Fatimah terpotong
"Husstt, jangan bahas itu ya, semua orang itu sudah ada takdirnya masing masing, dan sudah di atur oleh sang maha kuasa jalan hidup kita, jadi jangan pernah kamu merasa bersalah, atau kurang, lupakan masa lalu ya" jawab ibu Yayi memeluk Fatimah dengan hangat
"Terima kasih ya bu, ibu dan ayah selalu baik dengan Fatimah, hingga Fatimah tidak dilupakan sama kalian berdua, status Fatimah kan sebenarnya hanya menantu ibu dan ayah" ucap Fatimah
"Kamu anak kami, jadi jangan pernah bilang hanya mantu, ibu tidak suka itu" jawab ibu Yayi, masih hanya menganggukan kepalanya
"Bangunkan saja ayahmu, sebentar lagi dzuhur, biar Rivan disini dulu, kamu sendiri bantu suamimu menyiapkan keperluannya untuk ibadah" ucap ibu Yayi lagi
"Ya sudah, Fatimah bantuin mas Rendra dulu ya bu, titip Rivan lagi sebentar" jawab Fatimah tersenyum
__ADS_1
"Tenang saja, ibu pasti akan menjaga Rivan dengan baik" ucap ibu Yayi
Setelah Fatimah kembali kerumahnya, dia melihat suaminya yang sedang membereskan peralatan kue yang tadi dia gunakan.
"Ayah sedang apa, tidak perlu di cuci, itu nanti bunda saja yang urus, sekarang lebih baik ayah mandi sebentar lagi dzuhur" ucap Fatimah
"Tanggung sayang, ini sedikit lagi" jawab Rendra tersenyum ke arah Fatimah
"Sudah sudah jangan dilanjut, ayah mandi aja" ucap Fatimah merebut peralatan yang kotor
"Selesai ini, ayah akan mandi, bunda tenang saja, ayah juga mau merasakan lelahnya mengurus rumah" jawab Rendra
"Sebagai gantinya, ayah mau makan siang apa, biar bunda siapin" tanya Fatimah
"Apapun yang bunda masak akan ayah makan" jawab Rendra kembali tersenyum dengan senyuman semanis mungkin
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.
__ADS_1