
Sekarang adalah jadwal Rendra untuk kembali kontrol ke rumah sakit melakukan terapi dan lain-lain. Fatimah masih setia menemani Rendra, dengan telaten dia membersihkan tubuh Rendra yang penuh dengan keringat habis melakukan terapi.
"Lelah?" tanya Fatimah lembut menatap suaminya
Rendra hanya menatap Fatimah, dari pagi sikap Fatimah berubah lagi menjadi hangat tidak seperti kemarin-kemarin.
"Kok diem? apa ada yang sakit atau apa? jangan buat khawatir" ucap Fatimah cemas melihat suaminya hanya diam
"Aku baik-baik saja" jawab Rendra ada suaranya tapi serak dan berat
"Alhamdulillah, suara mas Rendra sudah keluar tapi masih serak, oh iya habis dari rumah sakit kita jadi berjumpa dengan ayah ngga?" tanya Fatimah penuh harap
"Jadi, atau mau langsung aja ngga perlu pulang dulu" jawab Rendra dengan suara yang sangat serak
"Jangan deh, istirahat sebentar aja dirumah, nanti mas Rendra malah kecapean" ucap Fatima memakaikan baju di tubuh suaminya
"Buang waktu, lebih baik langsung aja" jawab Rendra meyakinkan Fatimah, bahwa dirinya baik-baik saja
"Ya sudah kalo kamu memang yakin, kita ke apotik dulu ya, beli vitamin kamu" ucap Fatimah masih dengan nada yang lembut
Fatimah dan Rendra langsung melakukan perjalan ke pondok pesantren Kyai Bahri, mertuanya Fatimah saat masih menjadi istri Almarhum Sidiq, anak dari Kyai Bahri.
Selama diperjalanan Rendra selalu mendapat perhatian dari Fatimah, Fatimah juga selalu menanyakan apa suaminya haus setiap beberapa menit sekali, bahkan Fatimah tadi sempat mampir ke salah satu mini market membeli buah potong dan beberapa roti untuk cemilan Rendra dan supirnya.
"Anak-anak bagaimana?" tanya Rendra saat lagi makan buah yang disuapi istrinya
"Sudah aku chat, mereka katanya langsung sama Diman dari sekolah Ayu, anak-anak mandiri kok, dia bisa apapun sendiri jadi jangan khawatir" jawab Fatimah lembut membersihkan mulut Rendra
"Mau mampir makan siang dulu ngga?" tanya Rendra lagi dengan pelan
"Drive thru aja ya, nanti pak Ato bisa cari rest area, makan di mobil aja, ngga apa-apa kan pa Ato" tanya Fatimah pada supir pribadi papih Ammar yang dipinjam
"Saya mah santai aja bu, yang terpenting pak Rendra, ini saya lewat jalan yang berbeda supaya lebih cepat, makan di tempat tujuan juga ngga masalah" jawab pa Ato ramah
Fatimah melihat jalanan sekitar dan benar saja jalanan ini penuh dengan perkebunan karet, dan hanya jalanan muat satu mobil saja yang melintas.
"Ini kita lewat mana pak Ato?" tanya Fatimah penasaran dan sedikit takut, Rendra pun melihat sedikit aneh dengan jalanan yang berbeda
"Kita lewat jalan tikus bu, tiga hari lalu pas ibu bilang ingin ke rumah Kyai Bahri, pak Ammar menyuruh saya selama tiga hari mencari jalan alternatif yang lebih cepat dan jarang di lalui, Alhamdulillahnya dapat bu, dua hari ngga pulang" jawab pa Ato apa adanya
__ADS_1
"Astaghfirullah, papih segitunya mas" ucap Fatimah ngga menyangka papihnya benar-benar sayang pada Rendra, dia tidak ingin anaknya kelelahan selama diperjalanan
"Tapi kalo pulang kita sepertinya lewat jalan utama bu, disini soalnya jarang ada yang melintas lawan arah selain motor, jadi buat menghindari hal yang tidak terduga, ngga masalah kan pak, bu?" tanya Pa Ato ramah
"Ngga apa-apa pak Ato, terima kasih sudah mencari jalan ini, kita cari jalan yang aman aja. jawab Fatimah tak kalah ramah
Rendra ternyata terlelap di dalam mobil, tubuhnya memang sudah lelah pas habis terapi, karena dia memaksakan diri untuk langsung ke pondok.
Pukul 15.00 Fatimah dan Rendra tiba di kediaman Kyai Bahri, ternyata Kyai Bahri sudah menunggu di bangku luar untuk membantu mantunya.
"Assalamu'alaikum ayah" ucap Fatimah mencium tangan ayahnya begitu juga dengan Rendra
"Wa'alaikumsalam, bagaimana perjalanan, lelah Ndra?" tanya Kyai Bahri tersenyum
"Sedikit" jawab Rendra serak, Kyai Bahri tersenyum hangat mendengar suara mantunya walau masih serak
"Kalian istirahat dulu, shalat setelah itu kalian akan ayah kenalkan ke salah satu yang pandai meregangkan otot-otot" ucap Kyai Bahri lembut dan berwibawa
"Kami masuk duluan ya ayah, kasihan mas Rendra dari pulang terapi belum istirahat" jawab Fatimah ramah
Selama di dalam kamar Fatimah kembali membersihkan tubuh Rendra memberikan sedikit oil terapi agar tubuhnya segar.
"Aku shalat dulu ya, kamu enak udah shalat duluan" jawab Fatimah hangat
Setelah selesai shalat dan lain-lain, Fatimah ke dapur untuk mengambil minum.
"Ayah, ibu kemana? aku belum lihat ibu" tanya Fatimah melihat ayahnya duduk sambil membaca buku
"Lagi bantuin tetangga, 40harian, biasanya sebelum maghrib sudah pulang kok, perkembangan Rendra seperti apa?" tanya Kyai Bahri menutup buku yang di bacanya
"Seperti yang ayah lihat, masih satu tangan yang bisa bergerak, lalu suara pun masih serak begitu bahkan kadang ngga kedengeran hanya hembusan angin" jawab Fatimah apa adanya
"Saran dokter bagaimana untuk tubuh Rendra?" tanya lagi Kyai Bahri
"Harus sering berlatih, digerakin tapi tidak memaksa, karena kalo dipaksa kasihan sampe keringatan" jawab Fatimah mengambil kue di dalam toples untuk dimakan
"Masalah rangsangan bagaimana?" tanya Kyai Bahri pelan
"Dokter juga udah menyuruh Fatimah untuk merangsang mas Rendra, ingin tau alat reproduksi nya berfungsi apa tidak, seminggu ini sudah Fatimah coba tapi masih belum" jawab Fatimah sedikit malu, karena secara tidak langsung dia menceritakan dirinya harus menggoda Rendra
__ADS_1
"Ini semua demi kebaikan suami mu, jangan berhenti mencoba, ya sesekali coba melakukan, siapa tau Rendra terangsang" ucap Kyai Bahri tersenyum membuat Fatimah menahan malu
"Sepuluh menit lagi bawa Rendra ke ruang tamu ya" ucap Kyai Bahri lagi meninggalkan Fatimah di ruang tv
"Apa yang mau dilakukan ayah ya" pikir Fatimah penasaran
10 menit sudah, Fatimah mencoba membawa Rendra ke ruang tamu menggunakan kursi rodanya.
"Assalamu'alaikum" ucap seseorang
"Wa'alaikumsalam" jawab serempak
"Ayo masuk ustad Ryan" ucap Kyai Bahri pada ustad tersebut dan usianya terlihat sepantar dengan Kyai Bahri
"Kenalkan ini Ustad Ryan di akan mencoba membantu Rendra, jadi Rendra siap-siap ya" ucap Kyai Bahri membuat Rendra saling pandang dengan Fatimah, Fatimah pun bingung ngga tau apa-apa tentang rencana ayahnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.
__ADS_1