
Ayu gemas dengan Rivan, Rivan senang Ayu membelanya di depan Rama.
"Enak saja, Lipan bobo sama bunda sana" ucap Rama tidak mau kalah
Huaa.... huaaa... suara tangisan Rivan keras
"Eh, kenapa menangis" ucap Rama panik
"Hayo loh bang Rama" ledek Dito sudah paham dengan sikap adik bungsunya
"Ini kenapa nangis" ucap Ayu
Huaa.... huaa... suara tangisan
Fatimah yang baru saja keluar kamar panik mendengar Rivan menangis.
"Rivan kenapa nangis" ucap Fatimah menggendong Rivan
Huaa.... huaa... suara tangisan
"Semakin kencang nangisnya" sahut ibu Yayi ikutan panik
"Ada apa?" tanya Rendra berlari ke arah Rivan
"Itu, abang Dito memanggil Rivan tapi panggilnya Lipan, dari tadi sudah marah dia" tutur Dito menjelaskan dan tertawa
"Cari perkara kamu Ram" ucap Rendra
"Kirain tidak akan sampai menangis, maaf ya bunda Fatimah" jawab Rama nyengir
"Rivan itu memang sedikit berlebihan sih, tapi itulah Rivan, harus banyak-banyak bersabar" timpal Dito menambahi
Fatimah masih menenangkan Rivan di dalam rumah.
"Hukum abang Lama, bunda" ucap Rivan terisak
"Iya nanti bunda yang hukum" jawab Fatimah agar Rivan tenang
Ayu mendekati bunda dan adiknya, dan memeluk bundanya.
"Ini bunda Lipan" ucap Rivan mendorong tangan Ayu
"Bunda bersama, sudah nanti bunda yang marah sama Rivan kalau menangis terus" jawab Fatimah, Rivan langsung terdiam
"Hukum abang Lama" lirih Rivan
"Iya, nanti kaka Ayu hukum" ucap Ayu membersihkan airmata Rivan
"Bunda bawa makanan kesukaan mu" sahut Fatimah
"Mana" jawab Ayu
"Tadi dibawa sama NeUmi ke dapur" ucap Fatimah
"Bunda, Lipan mau susu" sahut Rivan
"Rivan tunggu sini sama kaka Ayu, bunda buatkan dulu" jawab Fatimah
"Bunda, bola kalet Lipan juga ya" teriak Rivan
"Rivan lelah tidak di jalan kerumah kaka Ayu" tanya Ayu menemani adiknya
"Lipan nangis mau pulang" jawab Rivan
"Dasar tukang nangis kamu tuh" ucap Ayu gemas
Fatimah memberikan susu pada Rivan, dia rebahan di kasur lantai yang sudah disediakan.
__ADS_1
"Panggil suami kalian untuk makan bareng" ucap ibu Yayi
"Bunda saja yang panggil mereka, titip Rivan ya" sahut Fatimah
Fatimah memanggil suami, anak dan mantunya.
"Ini masakan dari mana? perasaan mba tidak masak ini" tanya Rama
"Pasti bunda yang bawa untuk Mbak Ayu" jawab Dito
"Pantas saja, Rivan tidak makan?" tanya Rama melihat Rivan menyusu
"Lipan lagi malah sama abang Lama, jangan ganggu Lipan" jawab Rivan teriak
"Hahaha, marah kok menjawab" ucap Rama gemas
"Gimana kehamilan Ayu, apa ada keluhan?" tanya Rendra, biasanya dia paling marah kalau lagi makan bicara
"Alhamdulillah sehat-sehat semuanya, Ayu minta doa terbaik saja sama kalian" jawab Ayu senyum
"Doa itu sudah pasti, tidak akan lupa untuk mendoakan mu" ucap Fatimah
"Mau ada syukuran tidak untuk empat bulanan" tanya Rendra lagi
"Gimana mas Rama saja" jawab Ayu, Rendra menatap tajam Rama
"Aku belum bicara loh, tatapan mu sudah membuat aku jatuh cinta" ucap Rama tertawa melihat Rendra
"Di adakan atau tidak, bukan suatu masalah" sahut Fatimah
"Bunda, habis" ucap Rivan menunjukan botonya
"Simpan di dapur nak, nanti bunda cuci" jawab Fatimah
Rivan berlari kearah dapur dan meletakannya di sisi meja makan, yang lain makan lesehan di tengah rumah. Rivan lari-larian sambil bermain bola karet dan mobilan
"Menurut dia itu salah, nama dia Rivan" jawab Rendra
"Padahal dia aja nyebut namanya salah" ucap Rama
"Menurut kita salah, tapi menurut dia benar" jawab Rendra
"Dasar bocil" ucap Rama
"Lihat aja nanti anakmu juga begitu, apalagi kalau pas baru belajar bicara" sahut Rendra
"Kakak Ayu, nyalain tv dong" ucap Rivan
"Jangan, dia tukang nangis" jawab Rama
Rivan melempar bola karetnya ke arah Rama, dan mengenai wajahnya.
"Aws, buset dah nih bocah" ucap Rama kaget bukan sakit
"RIVAN" panggil Fatimah tidak suka, Rivan yang mendengar namanya di panggil dan ada penekanan menundukan kepalanya takut
"Maaf abang Lama" ucap Rivan pelan menunduk
"Uluh-uluh, kasihan banget, sini, abang tidak apa-apa" jawab Rama kasihan dengan Rivan yang ketakutan melihat sang bunda
Rivan menolak di pegang Rama, dia memeluk bundanya.
"Lah, aku pikir dia takut sama bundanya, tapi di peluk" ucap Rama bingung
"Dia memang takut, tapi dia juga tidak mau bundanya marah, makanya dia peluk" sahut Rendra
"Unik juga ya anak mu" jawab Rama
__ADS_1
"Masih mau nakal?" tanya Fatimah pelan
"Tidak bunda" jawab Rivan pelan memainkan hijab Fatimah
"Rivan kan tau bunda tidak suka kalau Rivan kasar sama orang, apalagi itu sama abang Rivan sendiri" ucap Fatimah
"Iya bunda, Lipan sudah minta maaf sama abang Lama" jawab Rivan
"Kamu sih mas, godain aja Rivan" ucap Ayu menyalahkan suaminya
"Aku tidak tau kalau Rivan begitu" jawab Rama tidak enak juga
Rivan cemberut lihat wajah Rama, Rendra tiba-tiba saja tertawa terbahak, membuat yang lain memandangnya.
"Kenapa ketawa" tanya Kyai Bahri
"Lihatlah wajah Rivan menatap Rama, bagaikan musuh" jawab Rendra gemas sekali dengan Rivan
Yang lain melihat wajah Rivan, benar saja dia cemberut lihat Rama.
"Nonton tv di kamar saja ya" ucap Fatimah membujuk anaknya
"Ayo, cepatan" jawab Rivan menarik tangan Fatimah
"Benar-benar mirip ayahnya sikap dan sifat Rivan" ucap Rama
"Masa iya" tanya Ayu tidak yakin
"Beneran, itu Rendra versi kecilnya, ya ampun bunda Fatimah harus banyak-banyak stok sabar menghadapi Rendra dan Rivan" jawab Rama geleng-geleng kepala
"Semoga anakku tidak mirip mas Rama sikapnya" ucap Ayu membuat Rama menatapnya
"Kenapa, aku bapaknya masa tidak boleh sama" jawab Rama tidak terima
"Kalau mirip mas Rama, nanti anaknya selengean tidak bisa diam" ucap Ayu
"Bahasa apa itu?" tanya Rama kurang paham
Hahahaha, Rendra dan Dito tertawa ngakak bersama
"Diam" ucap Rama kesal
"Sabar ya bang Rama" timpal Dito senyum
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.
__ADS_1