
"Kakek sama nene Ayi, jaga kesehatan ya, tidak boleh sakit halus main telus kelumah Lipan di kota" sahut Rivan menatap kakek dan neneknya
"Insyaallah, kita akan sering main ke rumah Rivan yang baru" ucap Kyai Bahri
Rivan, Papih Ammar dan mama Alisha menuju ke kota kerumah papih Ammar, Rivan sangat senang selama diperjalanan banyak hal yang dia tanyakan saat melihat sesuatu aneh baginya.
Papih Ammar dan mama Alisha pun ikut senang melihat Rivan bahagia, mendengar celotehan Rivan yang polos dan cadelnya semakin membuat orangtua itu selalu tersenyum.
"Kakek, kapan kita beli kuda nya?" tanya Rivan mulai lelah
"Besok ya sayang, insyaallah, dan Rivan juga harus lihat halaman rumah terlebih dahulu untuk tempat kudanya" jawab papih Ammar bersuara lembut
"Lipan sudah tidak sabal" sahut Rivan cemberut
"Cucu kakek tidak boleh cemberut begitu" ucap Ammar
"Lipan mau belajal kuda, kalau kudanya tidak ada gimana" sahut Rivan melipat kedua tangannya di dada
"Hari ini karena sudah malam jadi Rivan harus bobo terlebih dahulu, esok kita lihat-lihat kuda, ok sayang" ucap mama Alisha menenangkan Rivan
"Lipan mau pulang saja deh ke lumah bunda" sahut Rivan ingin menangis
Papih Ammar dan mama Alisha mulai panik dengan tingkah Rivan.
"Bunda dan ayah lagi di jalan juga mau kerumah kakek malam ini" ucap mama Alisha berbohong
"Ya sudah, Lipan pindah ke mobil bunda dan ayah saja" jawab Lipan dengan mata berkaca-kaca
"Gimana ini mam?" tanya papih Ammar panik
"Sabar, ini juga pertama kali kita membawa Rivan tanpa Fatimah dan Rendra, mama coba membujuknya" jawab mama Alisha ikut panik
"Huaa... huaa... Lipan mau bunda" teriak Rivan kencang dan menangis
"Cup... cup... cup, jangan menangis sayang, sini duduk sama nenek ya" ucap mama Alisha menggendong Rivan dari kursi belakang dan memangkunya
"Hikkss... hikkss... bunda, Lipan mau pulang" tangis Rivan sendu
"Pih, kita kerumah teman papih saja dulu yang punya kuda" ucap mama Alisha tidak tega melihat cucunya menangis
"Sebentar papih hubungi Ramli dulu" jawab papih mencoba menghubungi sahabatnya yang punya banyak kuda
Selama papih Ammar menelpon, mama Alisha menenangkan Rivan yang masih terisak memanggil bundanya, Rivan memang sulit di jauhkan dari Fatimah, makanya sebelum berangkat Fatimah sempat khawatir meninggalkan anaknya hanya bersama mertuanya.
"Sayang sudah dong nangisnya, hari ini kita beli kuda" ucap papih Ammar
"Hikkss.. be..nelan" sahut Rivan sedikit tenang
"Iya dong, mana mungkin kakek bohong dengan Rivan" ucap papih Ammar tersenyum
__ADS_1
"Lipan boleh pilih sendili kudanya tidak" tanya Rivan berharap
"Boleh sayang, tetapi Rivan harus patuh sama kakek, jika nanti Rivan memilih kuda dan kudanya belum cocok dengan Rivan maka besok kita cari kuda lain" tutur papih Ammar hati-hati, takut cucunya kembali menangis
"Iya, Lipan akan nulut sama kakek dan nenek" jawab Rivan
Mereka bertiga sudah tiba dirumah Ramli, sahabat papih Ammar. Ramli pun menyambut kedatangan sahabatnya itu.
"Assalamualaikum, Li" ucap papih Ammar memeluk sahabatnya
"Wa'alaikumsalam, tamu kehormatan berkunjung juga" jawab Ramli senang
"Maaf ya jadi ganggu waktumu malam-malam begini" ucap papih Ammar tidak enak hati
"Santai saja, kenapa kaku begitu sih" jawab Ramli
"Ini cucu ku ingin sekali membeli kuda, aku bilang kandangnya belum ada, tetapi dia menangis keras sekali, aku kasihan jadinya takut dia sakit juga" tutur papih Ammar
"Kamu datang kesini itu tempat yang tepat, aku punya beberapa kuda yang kecil, cocok buat cucu mu, tapi jika kamu mau ambil yang besar sekalian juga tidak apa-apa" jawab Ramli tertawa menepuk pelan bahu papih Ammar
"Yang kecil saja lah, nanti dirawat juga jadi besar" sahut papih Ammar
"Sepasang ya, kalau sendiri nanti kasihan kudanya" ucap Ramli
"Kamu gila ya, satu saja kandangnya belum ada, apalagi sepasang" jawab papih Ammar
"Masalah kandang gampang, besok kamu kasih alamat yang mau di buat kandang, aku akan mendesain langsung disana" ucap Ramli
"Dibawa malam ini kan?" tanya Ramli menggoda Ammar
"Sudahlah jangan bercanda lagi, lihat tuh cucuku sudah cemberut begitu, jadi sebelum dia menangis dan membangunkan keluarga mu segera temui kudamu dengan cucuku" jawab Ammar kesal dengan sahabatnya
"Baru bertemu sudah marah-marah saja, hahaha" ucap Ramli mengajak Ammar, mama Alisha dan Rivan ke halaman belakang rumah Ramli yang di rubah menjadi halaman untuk berkuda dan banyak kandang kuda
"Kakek, Lipan mau kuda itu" teriak Rivan saat melihat banyaknya kuda
"Yang mana sayang" ucap papih Ammar menggendong cucunya
"Itu, yang walna colat, lucu" jawab Rivan senang
"Coklat sayang, bukan colat" sahut papih Ammar membenarkan ucapan Rivan
"Boleh ya, Kek?" tanya Rivan memohon
"Rivan harus tanya dengan kakek Ramli, kuda itu cocok dengan Rivan atau tidak" jawab papih Ammar
"Kakek Lamli, Lipan mau itu, kudanya baik tidak?" tanya Rivan tanpa malu dan ragu
"Lipan hebat memilih kuda yang sangat baik, itu kuda paling kalem dari yang lain" jawab Ramli mencubit pelan pipi Rivan
__ADS_1
"Aku Lipan namanya" ucap Rivan karena menurut dia Ramli salah memanggil namanya
"Iya, kakek Ramli tau, kamu namanya Lipan" jawab Ramli
"Bukan Lipan, tapi Li..pan" ucap Rivan kesal
"Hahaha, maklum cucuku masih cadel, namanya Rivan, kamu salah menyebut, dia paling tidak suka ada orang memanggil dia begitu" sahut papih Ammar melihat Ramli bingung
"Ya ampun, repot juga ya cucu mu, sama seperti Rendra" jawab Ramli
"Gimana kakek Lamli, itu kudanya boleh Lipan bawa tidak?" tanya Rivan lagi tidak sabar
"Besok kakek Ramli akan antar kerumah Rivan" jawab Ramli
"Hali ini kakek Lamli" ucap Rivan tegas dengan suara polosnya
"Siap, malam ini kakek bawa ke rumah Rivan, tapi Rivan harus bobo dulu, ini sudah malam, nanti setelah Rivan bangun tidur, pasti kudanya sudah ada" tutur Ramli sabar
"Oke, kakek, nenek ayo pulang, Lipan mau bobo" ajak Rivan semangat
"Terima kasih ya Li, besok kamu bawakan kerumah Rendra" bisik papih Ammar supaya Rivan tidak dengar
"Siap, kirim saja alamatnya" jawab Ramli
"Tidak di diskon kah?" tanya papih Ammar
"Astaghfirullah, orang yang bergelimang harta seperti mu masih minta diskon pula" jawab Ramli geleng-geleng kepala
"Harga sama sahabat itu jangan mahal-mahal, Li" ucap papih Ammar mulai meninggalkan Ramli
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
__ADS_1
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.