BEDA USIA? TAK MASALAH

BEDA USIA? TAK MASALAH
Tanpa Judul


__ADS_3

Sebenarnya Fatimah tidak mau berbicara seperti itu, tetapi melihat sikap Rendra belum ada perubah dan ketegasan membuat dia terpaksa berkata itu.


Rendra pun hanya terdiam, dia bingung harus berkomentar apa, memang belakangan ini juga Rendra lebih mendengarkan ucapan papih dibandingkan istrinya.


"Maaf mungkin selama ini bunda bukanlah istri yang baik menurut standarnya ayah, sekarang apa yang ayah mau lakukan dan menurut ayah itu benar silahkan, selama ini bunda memberitahu juga tidak pernah di gubris oleh ayah" tutur Fatimah, ada rasa sedih dalam hatinya


"Bunda" teriak Rivan berlari ke dalam kamar menghampiri Fatimah


"Bunda, Lipan mau ikut abang Dito, boleh ya?" tanya Rivan semangat


"Mau kemana?" tanya balik Fatimah


"Katanya abang Dito mau beli kotak ikan" jawab Rivan


"Kotak ikan? kotak apa?" tanya Fatimah tidak mengerti


"Itu loh bunda, kotak yang walna putih telus dikasih ail lalu diisi ikannya deh kasih glubuk-glubuk" jawab Rivan dengan gaya lucunya


"Akuarium? lalu glubuk-glubuk itu apaan?" tanya Fatimah


"Ih bunda tidak ngelti dali tadi, itu kan suala ail di dalam kotak glubuk-glubuk" jawab Rivan kesal


"Masa suara air begitu" ucap Fatimah tersenyum


"Nanti kalau abang sudah beli kotaknya lalu isi ail bunda halus lihat suala ailnya" jawab Rivan


"Suara itu di dengar bukan di lihat, sayang" ucap Fatimah semakin gemas


"Boleh kan bunda, nanti Lipan di tinggalin" pinta Rivan dengan mengedip-ngedipkan matanya


"Iya, tapi jangan nakal, harus nurut apa kata abang" ucap Fatimah


"Oke siap bunda, muach" jawab Rivan mencium pipi bundanya dan ayahnya


Setelah kepergian Rivan suasana di dalam kembali hening, Rendra juga hanya diam saja, dia tidak ingin salah bicara dan membuat istrinya semakin kesal padanya.


Malam hari suasana rumah sedikit ramai, karena ada Kyai Bahri dan istri serta ada tiga orang santri yang di ajak oleh Kyai Bahri untuk menemani perjalanan.


"Gimana kabar kamu nak?" tanya ibu Yayi


"Alhamdulillah baik bu, semoga ibu juga selalu sehat dan bisa terus menemani Fatimah" jawab Fatimah tersenyum


"Kamu harus selalu sehat untuk bisa memperhatikan anak dan suamimu" ucap ibu Yayi

__ADS_1


"Bu" panggil Fatimah pelan


"Ada apa?" tanya ibu Yayi mengelus bahu Fatimah


"Belakangan ini papih Ammar sedikit berbeda" jawab Fatimah


"Tidak apa-apa, disini kamu yang harus mengalah dan bersabar, setidaknya kita sudah tau sifat dan sikapnya bagaimana, jangan banyak pikiran nanti kamu tambah sakit" ucap ibu Yayi menenangkan anaknya


"Fatimah serba salah bu, Fatimah harus bagaimana?" jawab Fatimah sedih


"Percayalah, bahwa Allah selalu ada untuk kita umatnya, dan Allah memberikan cobaan sesuai dengan batas kemampuan umatnya, anggap saja Allah ingin melihat mu naik kelas dari sebelum-sebelumnya, perbanyak dzikir dan istighfar" ucap ibu Yayi tenang


"Fatimah sadar kok bu, kalau Fatimah banyak sekali kekurangan, Fatimah hanya ingin Rivan tidak ketergantungan oleh barang mewah yang ada disini, dan Fatimah juga tidak mau melihat Rivan meminta sesuatu dan langsung dituruti, selama ini Fatimah akan menuruti keinginannya dengan cara mengajarkan Rivan harus melakukan sesuatu lebih dulu, tapi itu semua tidak diperbolehkan lagi oleh papi Ammar, menurutnya itu akan membuat Rivan lelah dan lain-lain" tutur Fatimah tidak tahan menahan airmata yang keluar mengalir


"Lakukan caramu di saat mertua mu tidak ada, agar tidak terjadi ketersinggungan juga" ucap ibu Yayi memeluk anaknya


Sejak tadi mama Alisha yang kebetulan datang juga kerumah Rendra mendengar obrolan antara ibu dan anak, ada perasaan kasihan pada Fatimah, yang hubungannya jadi kurang akur dengan papih Ammar.


"Mama sedang apa?" tanya Rendra melihat mama Alisha berdiri di depan pintu kamar Rendra


"Mama mau ke dapur, menyajikan cemilan, kamu gimana ada tamu sedikit sekali menyediakan suguhan" jawab mama Alisha menegur anaknya


"Semenjak Fatimah sakit, rumah ini jarang ada cemilan mam, berbeda kalau Fatimah sehat, pasti akan banyak cemilan yang tersedia" ucap Rendra sendu


"Rendra kan seorang dokter, untuk apa Fatimah ke dokter lagi" ucap Rendra kesal


"Tidak ada salahnya memeriksa ke dokter lain, orang itu suka cocok-cocokan sama dokter" jawab mama Alisha


"Bukan sama dokternya, tapi sama obatnya, sudah lah mama menyebalkan" ucap Rendra meninggalkan mamanya


Tok... tok... suara ketukan


"Ibu, ayah memanggil" ucap Rendra memunculkan kepalanya


"Baik, kamu temani istrimu ya" jawab Ibu Yayi senyum, Rendra menganggukan kepala


Rendra mendekati istrinya, lalu duduk di samping sang istri.


"Bunda habis menangis?" tanya Rendra menghapus sisa airmata Fatimah


"Tidak, tadi hanya kemasukan debu" jawab Fatimah pelan


Kemasukan debu? itu hanya alasan lama. batin Rendra

__ADS_1


"Apa yang harus ayah lakukan, supaya bunda tidak menyesali menikah dan menjadikan ayah sebagai suami" ucap Rendra sendu


"Ini rumah tangga kita, kita yang jalani, bisa tidak masalah apapun termasuk urusan Rivan, itu hanya kita berdua saja yang mendidiknya, hampir setiap hari dan setiap waktu Rivan diambil oleh papih dan mama, dikembalikan lagi setelah Rivan tidur larut malam, tugas kita sebagai orangtua apa? Rivan semakin hari meminta hal yang aneh dan itu harus serta wajib dituruti, kita hidup tidak selamanya berada di atas, ada masanya kita juga pasti dibawah" tutur Fatimah pelan dan lembut


"Ayah akan buat peraturan baru dirumah ini kalau seperti itu, termasuk larangan dan jam-jam bermain Rivan" ucap Rendra serius


"Setelah ayah sudah membuat aturan itu berarti ayah harus tegas dan jangan lupa peraturan yang ayah buat harus berlaku untuk semua, maksudnya untuk bunda, ayah Dito dan Rivan" jawab Fatimah


"Iya, ayah berharap bunda tidak pernah mengeluarkan kata menyesali menikah dengan ayah, rasanya itu sungguh sakit bun, walau ayah tau bunda pun merasa sakit belakangan ini dengan keadaan yang ada" ucap Rendra


"Bunda" panggil Rivan menutup pintu kamar lagi


"Bunda pernah bilang apa ya sama Rivan?" ucap Fatimah


Rivan hanya menyengir berjalan ke arah Fatimah dan Rendra, "Ketuk pintu tellebih dahulu, jika tidak ada yang menyaut maka Lipan boleh langsung masuk" jawab Rivan menatap dan mengedipkan matanya di depan Fatimah


"Lalu, kenapa tidak Rivan lakukan" ucap Fatimah


"Lipan lupa, maaf ya bunda" jawab Rivan memeluk Fatimah


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara


πŸ‘πŸΌ Like


πŸ“ Komen


🎁 Hadiah


🎟️ Vote


Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :



Cinta Zavier untuk Aisyah πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ


Kesetiaan Cinta Yusuf πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ



Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.

__ADS_1


__ADS_2