
"Kamu bisa tinggalkan aku apabila aku ngga sembuh-sembuh" jawab Rendra tepat kuping Fatimah yang lagi membetulkan posisi leher Rendra
"Maksudnya?" tanya Fatimah yang memang tidak paham
"tidak" lirih Rendra, dia takut membuat kesalahan bila kata-katanya di ulang
"Jangan pernah berpikir negatif, karena dengan pikiran negatif bisa membuat kita rugi sendiri, masih marah sama aku?" tanya Fatimah entah sudah yang keberapa kalinya
Rendra hanya menggeleng tanpa melihat ke arah Fatimah.
"Rumah tangga berantakan itu bukan karena satu pihak, tapi kedua belah pihak" ucap Fatimah mengingatkan suaminya lalu dia keluar kamar kembali ke dapur untuk membereskan sisa-sisa kotoran
Apa aku salah, niat aku kan hanya ingin memberikan apa yang anak-anak butuhkan, tapi Fatimah sepertinya ngga suka. Gumam Rendra dalam hati
Dapur
Huft, kenapa sih mas Rendra menyebalkan lagi, dasar laki-laki labil. Batin Fatimah bete
"Ibu baik-baik saja?" tanya bibi ramah
"Ah iya bi, saya baik-baik saja" jawab Fatimah kaget dan dia pun tersenyum
"Biar bibi yang beresin, ibu istirahat saja" ucap bibi kasihan melihat majikannya
"Mungkin saya butuh istirahat, oh iya bi, nanti tolong kasih air hangat ke mas Rendra ya, saya mau istirahat dikamar tamu" jawab Fatimah tersenyum
"Kenapa di kamar tamu bu?" tanya bibi mulai kepo
"Ngga apa, biasa mas Rendra lagi menyebalkan, lebih baik menghindar dari pada ikutan emosi" jawab Fatimah santai
"Walah dalah, si bapa masih bisa menyebalkan ya, padahal lagi sakit dan masih membutuhkan bantuan ibu" ucap bibi reflek
"Hahaha, sudah bi, fokus aja sama pekerjaan bibi, setelah itu istirahat ya mumpung Nabila lagi nginap di rumah papih Ammar jadi ngga ada yang ganggu bibi" jawab Fatimah mengelus bahu bibi
"Siap bu, habis anter minum buat bapa langsung otw kamar lagi, makasih ya bu" ucap bibi senang
Fatimah berjalan ke kamar tamu, dia lagi malas berdebat dengan suaminya, walaupun suaminya tidak bisa bicara dengan suara lantang, tapi satu kamar saling diam hatinya membuat dia semakin dongkol
"Lebih baik aku istirahat dikamar tamu aja, dari pada satu kamar dengan mas Rendra membuat mood ku ngga baik, padahal hari ini entah kenapa mood aku benar-benar buruk banget, untung masih bisa menahan" ucap Fatimah pada dirinya sendiri dan mulai merebahkan tubuhnya di kasur
Kamar Rendra
Tok...tok...tok ... ketukan pintu
__ADS_1
Ceklek ... pintu terbuka
"Maaf pak bibi hanya ingin mengantar air hangat" ucap bibi mengintip sedikit dari balik pintu, Rendra pun menganggukan kepalanya
"Kata ibu, bibi disuruh mengantarkan ini ke bapa" ucap bibi lagi meletakan gelas di atas meja
"Ibu kemana?" tanya Rendra pelan
"Heh, ibu... ibu di istirahat di kamar tamu pak" jawab bibi ragu
Rendra kembali menganggukan kepalanya, tanda bahwa dia paham.
Segitunya kah Fatimah, hingga dia enggan untuk istirahat disini bersama ku lagi. Gumam Rendra dalam hati
Hari semakin siang, kedua anak Fatimah belum pulang dari kegiatannya.
"Ya Allah rasanya males banget ketemu mas Rendra" ucap Fatimah pelan bersandar di ranjang
"Tapi dia suamiku, dan kondisinya lagi ngga baik" ucap Fatimah lemas, dia turun dari ranjang menyiapkan makan siang untuk suaminya
Ruang makan
"Loh, itu buat siapa bi?" tanya Fatimah melihat bibi membawa nampan berisi makanan
Apa mas Rendra sakit lagi ya. ucap Fatimah pelan
"Bi biar saya aja yang bawa, bibi lanjut yang lain aja, atau makan siang aja" ucap Fatimah mengambil nampak dari tangan bibi
"Baik bu, terima kasih" jawab bibi menyerahkan nampannya
Fatimah berjalan menuju kamar utama.
"Makan dulu mas" ucap Fatimah meletakan nampan di atas meja dan mengambil piring isi makanan, dia berniat menyuapi suaminya
"Makan sendiri aja" jawab Rendra tanpa suara
Kemana suara mas Rendra, kemarin ada suaranya walaupun kecil. Batin Fatimah bingung
"Aku suapin aja ya" ucap Fatimah memaksa untuk menyuapi Rendra, tapi Rendra mengambil sendok dari tangan Fatimah
"Mas, tolong banget aku benar-benar ngga mau ribut sama kamu, jadi kali ini nurut aja ya" ucap Fatimah kesal, apa mungkin bawaan baby membuatnya jadi sensitif
Rendra kaget mendengar suara Fatimah berbeda dari biasanya, akhirnya Rendra mengalah, dan menerima suapan dari istrinya hingga habis.
__ADS_1
"Minum dulu air hangatnya" ucap Fatimah memberikan gelas berisi air hangat untuk Rendra
"Maaf, aku ngga bermaksud membentak kamu mas, tapi hari ini aku benar-benar lagi bete, mood ku ngga bagus, jadi tolong jangan tambah ke betean aku ini" ucap Fatimah menatap suaminya, dia ngga bermaksud kurang ajar atau bagaimana pada Rendra.
Rendra hanya mengangguk saja dengan tatapan sedih, satu sisi dia ngga mau Fatimah meninggalkan dirinya, apalagi kondisinya seperti ini.
"Habis makan jangan tidur dulu ya, aku ambil obat-obat kamu" ucap Fatimah meninggalkan Rendra dengan perasaan ngga karuan
Maaf mas, aku juga ngga tau kenapa begini. Gumam Fatimah dalam hati
Setelah Rendra makan dan minum obat, Fatimah hanya duduk di ruang tv, emosinya lagi ngga bisa ke kontrol.
"Assalamu'alaikum bu" ucap Dito datang mengampiri ibunya di ruang tv dan mencium tangannya
"Wa'alaikumsalam, bersih-bersih dulu sana, setelah itu temui ayah di kamar" jawab Fatimah mengelus kepala Dito
"Oke bu" ucap Dito berlari kecil naik ke lantai dua menuju kamarnya
"Assalamu'alaikum" ucap Ayu tersenyum melihat ibunya duduk diruang tv
"wa'alaikumsalam, kok bisa bareng Dito" tanya Fatimah bingung
"Tadi aku ke sekolah Dito dulu, karena satu arah, biar bisa naik angkot bareng" jawab Ayu santai memeluk ibunya
"Mandi, setelah itu istirahat" ucap Fatimah memeluk Ayu
"Bu, aku kangen ayah Sidiq" ucap Ayu tiba-tiba sedih
"Kasih lah ayahmu doa, dan jadilah anak yang sholeha, biar ayah mu mendapatkan mahkota yang di impikannya" jawab Fatimah ikut terbawa sedih mengenang almarhum suaminya
"Ayu besok libur, Ayu izin ke makam ayah ya?" tanya Ayu menatap ibu yang mulai berkaca-kaca
"Iya, tapi lebih baik nunggu adikmu libur juga, dia pasti ingin kesana" jawab ibu tenang mengelus kepala anaknya
"Besok Ayu kesana sendiri aja dulu, Ayu ingin curhat sama ayah Sidiq, kalo Dito libur baru Ayu ajak dia bu" ucap Ayu memelas pada ibunya
"Kenapa ngga curhat sama ibu aja?" tanya Fatimah melihat anaknya dengan mata berkaca-kaca juga
"Berbeda bu, aku kan biasa curhat sama ayah Sidiq" jawab Ayu sedih
"Jangan sampai adikmu tau kalo kamu mau ke makam ayah" ucap Fatimah memeluk anaknya
Selama pembicaraan antara ibu dan anak, dibelakang mereka ada yang mendengarkan dengan perasaan yang campur aduk serta bingung harus berbuat apa.
__ADS_1