BEDA USIA? TAK MASALAH

BEDA USIA? TAK MASALAH
Detik-Detik Menunggu Kelahiran


__ADS_3

Fatimah sudah ditangani oleh tim medis, Rendra dengan setia menemani Fatimah, Rendra terus berdzikir dan bershalawat, agar semuanya di permudah.


Fatimah hanya tersenyum melihat Rendra yang enggan menjauh darinya. Dia juga sangat bersyukur suaminya dengan sabar dan setia menemani.


"Astaghfirullah" ucap Fatimah baru kefikiran


"Ada apa sayang?" tanya Rendra khawatir


"Bunda lupa, apa ayah sudah makan?" tanya balik Fatimah menatap Rendra


"Ya Allah, ayah pikir ada apa, jangan pikiran ayah, makan masalah gampang" jawab Rendra santai


"Jangan menyepelekan, tidak makan juga menyebabkan sakit ayah" sahut Fatimah lembut


"Ayah sudah makanan tadi siang dengan anak-anak, bunda tenang saja ya, tadi juga ayah minta tolong sama bibi agar membawakan makanan untuk kita berdua disini" ucap Rendra


"Kita berdua? bukannya disini dapat makan untuk orang yang di rawat?" tanya Fatimah bingung


"Makanannya tidak enak, nanti kamu semakin mual, jadi lebih baik makanan yang Ayu buat, itu jauh lebih sehat" jawab Rendra mengelus perut Fatimah


"Anak kita cewe atau cowo ya?" tanya Rendra dengan pikiran entah kemana


"Apapun jenis kelaminnya, syukuri saja, banyak orang yang sulit sekali memiliki anak dan ingin segera punya, jadi jangan protes" jawab Fatimah tersenyum


"Siapa yang protes, ayah kan cuma sedang berpikir, untung saja kita beli berlengkapan dengan warna netral tidak terlalu dominan cewe atau cowo" ucap Rendra


"Sayang aku boleh tidak mengganti nama Ayu atau Dito?" tanya Rendra pelan


"Mengganti nama? aneh-aneh saja ayah ini, masa Ayu dan Dito ganti nama" jawab Fatimah heran


"Maksudnya penambahan nama gitu" ucap Rendra


"Penambahan nama apa?" tanya Fatimah bingung


"Tambahin nama Aku di belakang nama Ayu dan Dito" jawab Rendra hati-hati


"Nama Rendra gitu?" tanya Fatimah belum memahami maksud dari suaminya


"Bukan tapi nama Gilbert, mereka kan sudah menjadi bagian keluarga Gilbert sayang" jawab Rendra


"Tidak perlu, sudah cukup nama Ayu dan Dito, jangan di ubah-ubah lagi" sahut Fatimah tenang


"Tapi sayang" ucap Rendra terpotong


"Sudah ya ayah, jangan bahas nama untuk Ayu dan Dito, dari lahir hingga tiada nanti nama mereka tetap itu" sahut Fatimah menegaskan

__ADS_1


Bukannya Fatimah ingin menolak, tapi nama itu adalah pemberian dari mantan suaminya yang sudah tiada, mantan suaminya yang terdahulu sangat menyukai nama Ayu dan Dito tersebut, jadi Fatimah juga tidak akan mengubah atau menambahkan nama Ayu dan Dito.


"Cuma tambahin nama sayang" ucap Rendra memaksa


"Jangan sampai masalah nama doang kita jadi bertengkar" sahut Fatimah mengingatkan suaminya


"Ya sudahlah, apabila kamu tidak setuju" jawab Rendra melepas tangan Fatimah yang dia genggam


"Marah? ngambek? atau apa?" tanya Fatimah pelan, dia tidak mau terbawa emosi


"Tidak apa-apa, ayah ke kantin sebentar, mau makan" jawab Rendra berdiri dari duduknya


"Tadi bilangnya sudah makan?" tanya Fatimah


"Bohong" jawab Rendra singkat, berjalan keluar dari ruang rawat Fatimah.


Fatimah menatap kepergian suaminya dengan perasaan bingung sendiri.


"Cuma masalah nama ngambek, jelek sekali sih sikapnya" ucap Fatimah pelan


Rendra sebenarnya memang sudah makan, dia hanya malas bila terbawa suasana, dia ke kantin hanya ingi meminum kopi saja.


"Penambahan nama saja tidak di kasih" lirih Rendra


Selesai dari kantin, Rendra memaksakan diri masuk lagi keruangan Fatimah untuk menemani. Rendra langsung duduk di sofa yang memiliki jarak dengan Fatimah. Fatimah hanya terdiam melihat Rendra duduk begitu saja tanpa menyapa dirinya terlebih dahulu.


"Tidak" jawab Rendra sambil memainkan ponsel


"Ayah, apabila ayah marah lebih baik ayah pulang saja, bunda disini sendiri aja tidak apa-apa, disini banyak orang ada suster dan dokter" ucap Fatimah, Rendra yang mendengar semakin jengkel diusir istrinya sendiri, tetapi Rendra tidak menjawab apa yang di lontarkan istrinya.


"Punya suami pundungan" sahut Fatimah dengan lirih tetapi dapat di dengar oleh Rendra


"Ya, aku pulang, Assalamu'alaikum" ucap Rendra keluar dari ruangan Fatimah


"Wa'alaikumsalam" jawab Fatimah


"Beneran pergi" lirih Fatimah melihat Rendra telah tidak ada di dalam ruangannya


Diruang tunggu Rendra sedang duduk santai, dia tidak benar-benar meninggalkan Fatimah, dia hanya menunggu di luar.


Di dalam kamar Fatimah gelisah, tidak ada suaminya yang menemani, ada perasaan sedih menyelimuti dirinya, dia juga tidak bermaksud mengusir Rendra, hanya saja dia kesal Rendra yang mudah sekali marah.


Padahal sudah lama Rendra jarang ngambek pada Fatimah, tapi hari ini dia kembali menjadi Rendra yang pundungan, bila keinginannya tidak dipenuhi.


Tak terasa saat sedang memikirkan Rendra, airmata Fatimah menetes, dan dia juga merasakan sedikit pegal di bagian belakangnya, posisi tidur pun tidak nyaman.

__ADS_1


Diluar ruangan Rendra juga memikirkan Fatimah, bagaimana jika Fatimah membutuhkan sesuatu, atau sekedar ingin ke toilet, setidaknya harus ada yang menjaga.


Rasa sayangnya lebih besar Rendra kembali ke ruangan Fatimah dan melihat Fatimah sedang memejamkan matanya, tapi mulutnya berdzikir, tangan Fatimah juga mengelus perutnya.


Apa Fatimah sedang merasakan sakit? tapi dengan bodohnya aku meninggalkan dia dalam kondisi seperti ini. gumam Rendra dalam hati


Rendra mendekari Fatimah, dia mengelus perut Fatimah, seketika Fatimah membuka mata dan menatap Rendra ada di sampingnya.


"Apa sakit lagi?" tanya Rendra dengan lembut menatap Fatimah


"Ayah balik lagi?" tanya Fatimah lirih, dia mengabaikan pertanyaan Rendra


"Ayah akan menjadi orang bodoh dan tidak berguna apabila meninggal bunda seorang diri disini, berjuang seorang diri untuk anak kita" jawab Rendra


"Bukannya tadi ayah marah dengan bunda?" tanya Fatimah


"Ayah hanya badmood, ayah minta maaf, sudah menyakiti perasaan bunda" jawab Rendra sedih


Fatimah tidak lagi memberikan pertanyaan pada Rendra, sakit di perutnya menjadi lebih sering terasa.


Dokter masuk kedalam ruangan Fatimah untuk memeriksa kondisi Fatimah dan kondisi anaknya. Menurut dokter ini sudah membukaan terakhir tapi posisi kepala baby nya belum juga berpindah.


Akhirnya dokter menyarankan agar Fatimah melahirkan dengan cara operasi Caesar, dilihat dari kondisi Fatimah juga sudah sangat kesakitan tapi tidak berteriak, Fatimah menahan sakit dan selalu berdoa.


Perasaan Rendra semakin tidak karuan mendengar Fatimah akan di operasi, tapi dia juga tidak bisa memaksa Fatimah untuk melahirkan normal. Dengan perasaan campur aduk Rendra menandatangi surat-surat persetujuan dari rumah sakit agar Fatimah bisa segera mendapat tindakan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara


πŸ‘πŸΌ Like


πŸ“ Komen


🎁 Hadiah


🎟️ Vote


Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :



Cinta Zavier untuk Aisyah πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ


Kesetiaan Cinta Yusuf πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ

__ADS_1



Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.


__ADS_2