
Fatimah selesai diskusi dengan langsung pulang kerumah utama, dia khawatir dengan kondisi Rendra yang saat ini sedang terapi, sebenarnya Fatimah tidak ingin meninggalkan Rendra, tapi ini semua permintaan ustad Ryan agar hanya para lelaki yang ada di dalam kamar Rendra.
"Mas Rendra sudah selesai terapinya, apa yang dirasa saat ini?" tanya Fatimah melihat wajah Rendra seperti kelelahan
"Huft, entahlah, aku jadi merasa kalo kaki ku tidak bisa sembuh, ustad Ryan sendiri bilang untuk kaki harus beberapa kali terapi, karena ini kejadian yang sekian kalinya aku lumpuh" jawab Rendra sendu
"Harus berpikir positif, apapun yang terjadi aku akan selalu mendukung dan mensupport kamu" ucap Fatimah lembut membelai wajah Rendra yang terlihat sedih
Rendra membuang nafas dengan kasar "Apa anak ku ngga akan malu punya ayah cacat seperti ku" tanya Rendra menatap Fatimah dengan sedih
"Sebelum anak kita lahir, insyaa Allah kamu sudah bisa berjalan seperti sedia kala, jadi ayah Rendea harus semangat" jawab Fatimah tersenyum memegang kedua pipi Rendra, dan itu membuat Rendra ikut tersenyum
"Bolehkah aku mendengar tiap hari kamu memanggil aku dengan sebutan ayah, bukan mas Rendra lagi?" pinta Rendra pada Fatimah
"Siap ayah" jawab Fatimah cepat sambil tersenyum
"Mungkin kamu akan bosan mendengarnya, tapi aku benar-benar mengucapkan terima kasih pada kamu, Ayu dan Dito, yang selalu mendukung aku dan menemani aku disaat aku terpuruk" ucap Rendra berkaca-kaca
"Itu semua kita lakukan sebagai tanda bahwa kita sayang dengan ayah, tulus karena Allah" jawab Fatimah mengelus wajah suaminya
Rendra memeluk Fatimah dengan erat, tanpa terasa airmata Rendra mengalir begitu saja, ada perasaan bahagia dan dia bersyukur bisa memiliki keluarga seperti Fatimah, Ayu dan Dito.
"Tugas ayah Rendra saat ini adalah semangat untuk melakukan terapi, agar bisa segera berjalan" ucap Fatimah masih memeluk Rendra
"Iya, aku pasti akan terus berusaha, makasih ya" jawab Rendra semakin mempererat pelukannya
"Sekarang apa yang ayah Rendra butuhkan, hem?" tanya Fatimah tersenyum
"Aku lagi ingin sekali Ronde jahe warna warni" jawab Rendra sedikit berpikir
"Ronde jahe yang bulat isi gula kacang?" tanya Fatimah memastikan
"Iya, kira-kira disini ada yang jual ngga?" jawab Rendra dan bertanya kembali
"Disini tuh jarang ayah, lebih baik aku bikinin aja ya" ucap Fatimah meminta izin
__ADS_1
"No, kamu ngga boleh cape-cape" jawab Rendra cepat
"Aku minta tolong Ayu deh untuk buatin kamu" ucap Fatimah santai
"No, pasti kaka juga cape, kasihan belum tugas sekolah pasti ada" jawab Rendra cepat
"Ya sudah, terakhir, aku minta tolong sama salah satu santri untuk mencarikan Ronde Jahe, bagaimana?" tanya Fatimah sedikit berbohong
"Nah itu baru aku setuju" jawab Rendra senang
"Aku cari santri dulu ya, yang bisa naik motor" ucap Fatimah meminta izin
"Iya, jalannya jangan buru-buru, nanti jatoh" jawab Rendra mengingatkan
Ternyata Fatimah meminta tolong pada Ayu untuk membuatkan Ronde Jahe keinginan Rendra, Ayu yang pada dasarnya suka sekali membuat makanan dia dengan senang hati akan membuatkan khusus untuk ayah sambungnya.
"Udah sore begini kok masih di dapur" ucap Kyai Bahri mengagetkan Fatimah dan Ayu
"Astaghfirullah, ayah bikin kaget aja" jawab Fatimah pelan
"Mas Rendra lagi ingin Ronde Jahe, sebenarnya dia juga melarang Fatimah dan Ayu untuk membuat ini, dia minta cariin aja minta tolong santri, tapi Fatimah ngga mau, cara buatnya kan ngga tau gimana, lagian disini juga susah carinya" jawab Fatimah santai membuat air Jahe
"Segera selesaikan ya, udah jam segini, jangan sampe menomor duakan Shalat" ucap Kyai Bahri mengelus kepala Ayu dan meninggalkan dapur
"Buat beginian doang mah gampang dan cepat, apalagi yang ngerjain kita berdua, ya ngga bu" ucap Ayu percaya diri
"Benar kamu nak, lagian kita buatnya hanya sedikit, ngga banyak" jawab Fatimah setuju dengan Ayu
"Ibu dan Mba Ayu sedang apa? ini sudah mau maghrib loh" ucap Dito datang lalu mengintip ke arah panci yang sedang dibuat Fatimah
"Lagi buat air jahe, ayah lagi ingin katanya, kamu kan laki sana jalan sekarang ke masjid, cari shaf paling depan" ucap Ayu mengusir adiknya yang suka ribet
"Oke, baiklah Dito ke masjid duluan ya bu" jawab Dito mencium tangan Fatimah dan Ayu secara bergantian, dia langsung keluar rumah menuju masjid yang masih berada di lingkungan pondok pesantren
"Bu, KeAbi dan Dito sudah tau kita buat Ronde Jahe, nanti ayah bisa tau dong" ucap Ayu mengingat tujuan awal dengan ibunya
__ADS_1
"Astaghfirullah, berarti kita memang ngga diizinkan untuk berbohong nak, ya sudahlah nanti ibu bilang sejujurnya kalo ini Ayu yang buat" jawab Fatimah tersenyum
"Ngga lah, Ayu akan bilang ini buatan Ayu dan ibu, jangan nama Ayu doang yang disebut" ucap Ayu ngga mau kena salah sendirian
"Kamu kan tau sendiri, ayah tuh sensitif banget kalo denger ibu masak atau apa, dia pasti ngambek nak" jawab Fatimah meminta tolong pada Ayu
"Gini aja, Ayu akan bilang ini buatan Ayu dan ibu hanya bantuin cuci jahe, dan mengaduk air jahe, gitu aja, jadi kita ngga bohong kan" ucap Ayu santai
"Ibu setuju, ayo segera selesaikan, sebelum ba'da maghrib berkumdang dan terdengar oleh telinga kita" jawab Fatimah secepat mungkin menyelesaikan olahan Ronde Jahe
"Bagaimana, kalo ibu sekarang ke kamar aja, jadi ayah akan mengira ibu tidak terlalu banyak membantu, selagi ayah belum tau diem-diem aja dulu" ucap Ayu mengusir ibunya secara halus
"Benar ngga apa, kalo di tinggal?" tanya Fatimah memastika
"Iya ibu ku yang cantik, ini mah kecil lah" jawab Ayu sombong tapi ngga ada maksud apapun hanya menggoda ibunya
"Jangan sombong, ngga baik" ucap Fatimah meninggalkan Ayu
"Hahaha, ibu bisa baper juga ya" jawab Ayu masih membuat olahan
Kamar Rendra
Cekle.... suara pintu
"Ayah, mau shalat di masjid ngga?" tanya Fatimah hati-hati
"Mau, tapi gimana jalannya" jawab Rendra bingung
"Aku dorong sampai masjid ya, supaya ayah bisa berjamaah disana, Dito dan Ayah Bahri sudah berangkat dari tadi" ucap Fatimah mengambilkan baju koko
"Minta tolong aja sama santri putra, untuk mendorong, jangan kamu, ngga baik udah mau maghrib" jawab Rendra mengganti baju di bantu Fatimah
"Ayo, sudah rapih, kita lihat keluar ada santri apa ngga, kalo ngga ada terpaksa Fatimah yang antar ayah ke masjid" ucap Fatimah mulai mendorong
"Sebut dirimu dengan bunda ya, jadi aku akan menyebut diriku ayah, misalnya bunda ayah mau ke masjid minta tolong aja sama santri" jawab Rendra melihat wajah Fatimah yang sedang mendorong
__ADS_1