
Sore hari Rendra dan Dito berbelanja ke pasar tradisional untuk membeli bahan bahan kue, Rendra awalnya ragu memasuki pasar karena banyaknya orang berkeringat di dalam sana.
Dito meyakinkan ayahnya bahwa di dalam pasar aman dan tidak terjadi apa apa, selesai belanja Rendra dan Dito berjalan menuju parkiran untuk mengambil motornya.
"Hai Rendra" ucap seseorang
Rendra dan Dito menoleh ke sumber suara.
"Christine" lirih Rendra
"Sedang apa kalian di tempat kumuh begini" ucapnya merasa jijik
"Kami sedang belanja untuk keperluan berjualan esok hari" jawab Dito santai
"Jualan? jualan apa?" tanya Christine
"Ayah ku dagang donat keliling, ibu ini siapa?" jawab Dito dan berbalik tanya, Rendra hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Dito
"Ibu? kamu pikir saya ibu ibu, Hah" bentak Christine pada Dito
"Jangan pernah kamu bentak anak saya" ucap Rendra dengan tegas
"Aku tidak bentak anak kamu Rendra hanya saja dia mengejek aku, dan bilang aku ibu" jawab Christine membela diri
"Ayo Dito, kita pulang" ucap Rendra menarik tangan Dito
"Rendra, apa kamu semiskin itu harus berjualan donat keliling?" tanya Christine sedikit teriak
"Ini lah aku sekarang, hanya tukang donat keliling, dan rumah ngontrak di dalam gunung, lebih tepatnya bukan rumah tapi gubuk" jawab Rendra datar
"Aku bisa mengembalikan kamu lagi dengan berjaya seperti dulu, asal kamu mau menikah dengan ku dan ceraikan istrimu" ucap Christine dengan santai
"Lucu sekali kamu, saya tidak butuh bantuan mu, lebih baik saya susah tapi bahagia dengan keluarga saya" jawab Rendra tegas
"Apa yang kamu harapkan dari perempuan miskin itu" teriak Christine kesal
"JANGAN PERNAH MENGHINA BUNDA SAYA" teriak Dito lebih keras membuat Rendra dan Christine kaget
"Sudah Dito kita pulang saja" ucap Rendra
"Anak kecil sudah berani teriakin orang yang lebih dewasa, apa orangtua mu dulu tidak mengajarkan sopan santun" ejek Christine
__ADS_1
Plakk.... suara tamparan
Rendra menampar Christine di depan banyak orang, mereka semua melihat ke arah Rendra dan mulai berbisik bahkan menjelekan Rendra yang terlalu kasar dengan perempuan.
"Saya tegaskan sama kamu Christine, sekali lagi kamu menghina istri dan anak saya, saya pastikan hidup mu tidak akan tenang seumur hidup, justru saya yang harus bertanya sama anda, apa orangtua anda tidak mendidik anaknya agar menjadi lebih baik, dan tidak menjadi perusak rumah tangga orang, harga dirimu terlalu murah Christine, rela melakukan segala hal untuk sebuah ambisi, yang haram akan menjadi halal untuk anda, dan untuk semua orang yang melihat ini semua, silahkan kalian berpikir dan menilai saya, tapi saya sarankan kepada kalian semua untuk tidak ikut campur, karena salah satu dari kalian ikut campur saya pastikan juga hidup kalian hancur" tutur Rendra penuh dengan amarah
Dito yang melihat ayahnya setegas itu menjadi takut, selama ini Rendra kalau marah hanya biasa saja tidak sampe menyakiti fisik seseorang, dan ini hal pertama baginya melihat sisi lain Rendra, Dito menarik tangan ayahnya agar segera mengambil motor yang terparkir dan langsung pulang.
Dengan perasaan yang masih kesal, Rendra mengendarai motor kecapatan sedang, dia juga memikirkan Dito yang sedang di boncengi.
"Ayah baik baik saja?" tanya Dito bertanya sedikit teriak, terdengar suara bising motor
"Harusnya ayah yang bertanya padamu, apa kamu baik baik saja" jawab Rendra melirik Dito dari spion motor
"Alhamdulillah, Dito baik ayah" ucap Dito
"Maaf ya, ayah tidak bisa melakukan apa, ketika perempuan itu mengjelekan dan menghina bunda mu" sahut Rendra
"Lupakan saja, lebih baik kita tidak perlu di ungkit lagi, biar hati dan pikiran kita tenang fan damai" jawab Dito
"Iya, kamu benar, tujuan kita untuk bahagia bukan?" ucap Rendra tersenyum
"Betul sekali, nanti kalau Dito sudah pulang ke rumah kakek Ammar, Dito titip bunda pada ayah ya, jangan sakiti bunda dan jangan buat bunda bersedih" sahut Dito
"Bunda tidak akan setuju, jadi biarkan Dito selesaikan sekolah Dito dan tinggal bersama kakek Ammar" ucap Dito yakin
"Kamu akan jauh dari bunda, jaga diri baik baik, setelah lulus sekolah pikirkan juga mau kuliah dimana dan jurusan apa, biar ayah mempersiapkan itu semua dari sekarang" sahut Rendra
"Siap ayah, masih satu setengah tahun lagi, mendingan mikir yang lain dulu, sepertinya Dito habis lulus kerja dulu baru nanti sekolah kalau sudah ada tambahan uang" ucap Dito yakin
"Ayah tidak setuju, apapun jurusan kamu saat kuliah, semua akan ayah biayai, kamu tidak boleh bekerja sampe pendidikan mu selesai minimal S1" jawab Rendra
"Ayah, sebenarnya almarhum ayah Siqid juga sudah mempersiapkan tabungan untuk aku dan mba Ayu, untuk mba Ayu kan sudah selesai pendidikannya dan di bantu ayah juga, jadi pendidikan untuk aku juga pakai uang ayah Sidiq saja" ucap Dito hati hati
"Uang almarhum di sedekahkan saja, supaya pahalanya mengalir pada beliau, Dito kan anak ayah juga, jadi ayah harus menyelesaikan tugas ayah untuk anak anaknya, jadi Dito cukup belajar yang baik dan benar, buat lah kita semua bangga pada prestasi prestasi Dito yang akan datang" jawab Rendra
"Baiklah ayah, semoga Dito tidak membebankan ayah" ucap Dito
"Tidak ada anak jadi beban orangtuanya, justru anak menjadi rezeki untuk orangtuanya" sahut Rendra tersenyum
"Ayah kita beli gula gula itu, Rivan pasti suka, gula gulanya di bentuk minion" ucap Dito menunjuk ke arah gula gula
__ADS_1
"Kenapa harus minion?" tanya Rendra heran
"Tidak apa apa, hanya lucu saja bentuk minion itu, Rivan pasti suka" jawab Dito sudah memesan satu gula gula untuk adik tersayangnya
Mereka melanjutkan pulang, waktu sudah menunjukan setengah enam sore, waktu maghrib sebentar lagi berkumandang, sementara Rendra dan Dito masih di perjalanan.
"Assalamu'alaikum" ucap Rendra dan Dito
"Wa'alaikumsalam, kalian dari mana saja, berapa menit lagi adzan, lebih baik kalian mandi sana" jawab Fatimah heboh
"Maaf bun, tadi ban motornya muter dengan kencang, jadi kita bingung dan lama deh jadinya" ucap Dito asal, Rendra menahan tawanya mendengar jawaban Dito
"Ya sudah kalian mandi saja, ini belanjaan bunda yang urus" jawab Fatimah tidak sadar dengan ucapan Dito tadi
"Aman, mandi ah" lirih Dito masih terdengar oleh Fatimah
"Apanya aman?" tanya Fatimah heran
"Aman masih keburu shalat berjamaah dengan yang lain" jawab Dito nyengir
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
__ADS_1
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.