
Rivan kini sudah berusia empat tahun lebih, dia menjadi anak yang aktif dan periang, semakin tumbuh Rivan semakin manja pada Fatimah, terkadang Fatimah ingin ke dapur dia menangis seperti anak yang di marahi.
Ruang gerak Fatimah juga menjadi sedikit, karena kemanjaan Rivan, tidur saja dia masih ingin bersama Fatimah, sudah berapa kali Rendra selalu memindahkan anaknya ke kamarnya sendiri, tetapi Rivan selalu terbangun dan kembali mengetuk pintu kamar ayah bundanya.
Rendra kekurangan waktu bersama Fatimah, anaknya benar-benar menguasai dan tidak memberi kesempatan pada Rendra maupun Dito sekaligus.
Ruang Tv
"Bunda, kapan ayah sama bundanya" bisik Rendra cemberut
"Anaknya belum tidur, gimana" jawab Fatimah membuat Rendra tambah bete
"Kok bisik-bisik ada apa" ucap Rivan dengan suara khas anak kecil menatapnya ayah bundanya
"Ayah mau bobo, Rivan juga bobo yuk" sahut Rendra
"Lipan belum ngantuk tuh, ayah aja bobo duluan" jawab Rivan polos
"Iya, tapi ayah mau bobonya di temani sama Rivan dan bunda" ucap Rendra
"Ayah itu sudah besal loh, kenapa halus ditemani Lipan dan bunda" jawab Rivan sambil meminum susunya
"Bun, bantuin dong, ayah bingung" sahut Rendra meminta tolong istrinya
"Makanya kalau masih ada Rivan jangan suka aneh-aneh" jawab Fatimah tersenyum
"Anak mu saja tuh yang serakah tidak mau berbagi, padahal kan tanpa aku anak itu tidak ada" ucap Rendra kesal
Fatimah memukul lengan suaminya kesal "Anak mu juga, kalau bicara di saring nanti Rivan denger" sahut Fatimah
"Bunda napa pukul ayah?" tanya Rivan
"Hah, itu tadi ada nyamuk di lengan ayah, makanya bunda pukul deh" jawab Fatimah
"Kenapa tidak langsung minta maaf setelah memumul ayah?" tanya Rivan lagi
"I..tu iya bunda lupa, maaf ya ayah sudah pukul tangan ayah" jawab Fatimah bingung
"Lipan sayang bunda" ucap Rivan memeluk Fatimah
"Bunda juga sayang banget sama Rivan" jawab Fatimah mencium pipi gembul Rivan
"Sama ayah tidak ada yang sayang?" tanya Rendra pura-pura sedih
Rivan terkekeh menutup mulutnya melihat sang ayah sedih.
"Diketawain sama Rivan tuh bun" ucap Rendra lagi
"Ayah kaya anak kecil" sahut Rivan terkekeh kembali
"Ya Allah dibilang seperti anak kecil ayah bun, anak bunda yang satu ini memang menyebalkan" ucap Rendra kesal
"Rivan bobo yuk, ini sudah malam, besok kita lanjut lagi menontonnya" sahut Fatimah kasihan melihat Rendra
__ADS_1
"Tapi Lipan belum ngantuk bun" jawab Rivan
"Iya bunda tau, kita mainnya di kamar saja, jadi kalau sudah mengantuk langsung bobo saja deh" ucap Fatimah lemah lembut
"Oh gitu ya, oke deh kita ke kamal" jawab Rivan mematikan tv
"Rivan mau punya adik tidak?" tanya Rendra membuat Fatimah melotot
"Tidak mau" jawab Rivan cepat tanpa berpikir kembali
"Kenapa tidak mau punya adik?" tanya Rendra penasaran
"Lipan sudah punya kaka Ayu dan Abang Dito, jadi Lipan tidak mau punya adik" jawab Rivan
"Kalau Rivan punya adik, berarti Rivan jadi kaka" ucap Rendra berharap
"Berarti Lipan nanti tidak di peluk bunda lagi, yang akan dipeluk bunda hanya adik Lipan, Lipan tidak mau ahh ayah" jawab Rivan rebahan disamping Fatimah
"Haduh bahaya nih bocah" gerutu Rendra melihat anaknya
"Harus perlahan bicara sama Rivan, dia itu sangat sulit untuk di rayu" sahut Fatimah
"Ayah tau caranya" ucap Rendra tersenyum
"Bagaimana?" tanya Fatimah mengelus kepala Rivan agar tertidur
"Kita pindah kerumah lama saja, lagian si cewe pengganggu sudah tinggal di LN, mau ya bun, kita balik lagi ke sana?" tanya Rendra
"Padahal bunda sudah nyaman disini" jawab Fatimah singkat
"Toko dan Apotik nanti bagaimana?" tanya Fatimah bingung dan ragu
"Masing-masing sudah punya karyawan, kalau Apotik nanti aku tambahkan salah satu dokter umum dan membuka klinik disana, jadi terpantau" jawab Rendra meyakinkan istrinya
"Nanti deh bunda pikirkan lagi" ucap Fatimah pelan
"Jangan lama, kasihan juga Rivan, ayah juga masih ingin punya anak lagi dari bunda satu lagi deh" jawab Rendr memelas
"Iya nanti sekalian membujuk Rivan ya" sahut Fatimah
"Malam ini boleh?" tanya Rendra nyengir
"Lihat itu anaknya, mata dia bagaikan handphone yang baru saja di charge full batrenya, seger banget" jawab Fatimah
"Hufftt, tuh anak kenapa sih pelit sekali pada ayahnya" gerutu Rendra
"Anak siapa, ayah?" tanya Rivan
"Anak ayam tetangga tuh" jawab Rendra kesal
"Bunda emang anak ayam bisa pelit ya?" tanya Rivan
"Ayah lagi belajar jadi pelawak, Rivan pura-pura tertawa saja ya" jawab Fatimah
__ADS_1
"Ketawa? kok ketawa bun, pelawak apaan?" tanya Rivan
"Pelawak itu orang yang kerjaannya menghibur oranglain agar tertawa bahagia, yang diucapkan pelawak harus lucu" jawab Fatimah penuh kasih sayang membelai Rivan
"Ayah tadi lucu bun, makanya Lipan tidak ketawa" sahut Rivan
"Bobo ini sudah malam, ayah ngantuk" ucap Rendra menutup dirinya dengan selimut
"Lipan belum ngantuk bun" jawab Rivan sedih
"Rivan mau mainan apa disini, bunda temani ya" ucap Fatimah
"Bukannya suruh tidur, di ajak main, semakin lama nunggunya" gerutu Rendra masih terdengar oleh Fatimah
"Sabar, ini baru satu anak sudah ngeluh, terus minta nambah anak, setelah itu ninggalin aku karena tidak sanggup melihat anak-anak" ucap Fatimah
"Ayah tidak akan pernah tinggalin bunda denger itu baik-baik" jawab Rendra kesal
"Ya sudah, maaf, ayah bobo duluan saja" ucap Fatimah
"Tapi ayah lagi mau sama bunda" jawab Rendra cemberut
"Kata papih Ammar, Rivan ini benar-benar seperti ayah waktu kecil, jadi jangan kesal dengan anak sendiri" ucap Fatimah
"Masa, padahal ayah tidak manja dengan mamih deh" sahut Rendra berpikir
"Karena ayah tidak ingat apa yang ayah lakukan saat masih kecil" ucap Fatimah
"Sudah ah, ayah bobo aja, bunda sama Rivan nyebelin" jawab Rendra kembali menutup dirinya dengan selimut
Fatimah hanya tertawa melihat tingkat sang suami yang seperti Rivan, sedangkan Rivan asik bermain mainan yang disediakan oleh Fatimah.
Fatimah kembali memikirkan Rivan, anaknya juga butuh kehidupan yang lebih layak, apalagi Rendra mampu untuk memenuhi kebutuhan Rivan, Fatimah berpikir Dito dan Ayu pernah merasakan hidup enak dengan Rendra, berarti sekarang Rivan pun saatnya mendapatkan hasil kerja ayahnya selama ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
__ADS_1
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.