
"Ah, sudah-sudah, Fatimah bawa aku ke kamar, ah ini ribet lagi sarung" ucap Rendra merapihkan sarung yang menutup bagiannya
"Ayah, ustad saya dan suami permisi dulu" ucap Fatimah ramah, mendorong kursi roda Rendra meninggalkan Ayah dan teman ayahnya.
Kamar Fatimah
"Tangannya benaran ngga sakit lagi mas?" tanya Fatimah menghilangkan kecanggungan
"Alhamdulillah, sudah ngga sakit, tapi jadi pegal sekali" jawab Rendra pelan memegang tanganya
"Kompres air hangat aja ya mas?" tanya Fatimah yang sebenarnya khawatir apalagi ini diluar medis
"Nanti malam aja deh" jawab Rendra lemas
"Mas mau panggil dokter ngga? kok aku takut ya ini bukan pengobatan medis" ucap Fatimah menatap suaminya dengan rasa cemas
"Hubungi aja Dokter Surya, besok suruh datang ke sini" jawab Rendra lemes
"Eh tunggu, aku aja deh yang menghubungi jangan kamu, kamu sudah keseringan berkomunikasi dengan Surya" ucap Rendra lagi mengingat tatapan mata Surya pada Fatimah
"Terserah kamu mas, lagian aku komunikasi dengannya murni untuk kesehatan kamu, ngga ada niat aku sedikitpun untuk melakukan hal bodoh" jawab Fatimah meyakinkan Rendra
"Fatimah sayang, aku sama kamu percaya, tapi sama Surya aku ngga percaya" ucap Rendra menatap Fatimah
"Ya udah, kamu mau mandi lagi ngga, tadi tubuhmu di guyur minyak semua sama ustad Ryan" jawab Fatimah lembut
"Mau deh mandi lagi, tapi masih di mandiin kan?" tanya Rendra dengan wajah nyebelin menurut Fatimah
"Mandi sendiri dong, tangannya udah bisa bergerak dua-duanya" jawab Fatimah memancing suaminya
"Huft mendingan ngga ...." ucap Rendra terpotong oleh Fatimah
"Eh, jangan ngomong sembarang, bersyukur kata ustad Ryan" sahut Fatimah mengingatkan suaminya
"Iya...iya maaf, lagian kamu begitu, aku sembuh malah diabaikan" ucap Rendra bete
"Bisa bicara, nyebelinnya kambuh" jawab Fatimah menyiapkan air hangat untu Rendra mandi
Anak-anak Fatimah sudah pada datang, mereka mendapat kabar bahwa ayahnya sudah bisa bicara dan menggerakkan tangannya.
"Bu, ayah mana?" tanya Dito menemui ibunya di dapur yang sedang menyediakan makan malam
__ADS_1
"Ada dikamar, kamu sudah mandi" jawab Fatimah lembut pada Dito
"Sudah dong bu, aku dan Mba Ayu kan datang dari sebelum maghrib, kata KeAbi ayah habis diobati ustad Ryan terus istirahat" ucap Dito mengambil tempe goreng
"Habisin dulu tempenya, cuci tangan baru temui ayah" jawab Fatimah melihat Dito makanin tempe goreng
Setelah makan tempe, Dito menemui ayahnya di dalam kamar, Fatimah masih menyiapkan beberapa alat makan dan di tata di meja makan.
"Assalamu'alaikum" ucap seseorang
"Wa'alaikumsalam, siapa ya, kok suaranya ngga asing" jawab Fatimah heran, lalu dia berjalan ke arah pintu utama
"Fatimah" panggil orang tersebut tersenyum
"Mas Iqbal ya" tanya Fatimah ragu melihat wajah laki-laki di depannya
"Iya, aku Iqbal, Alhamdulillah kamu masih kenal sama aku" jawab Iqbal santai dan ramah
"Eh, mas Iqbal ada apa ke sini, Mba Sinta ngga ikut?" tanya Fatimah bingung
"Aku sudah bercerai dengan Sinta beberapa tahun yang lalu, dan anak yang di kandung sinta ternyata bukan anak ku, tapi anak dari selingkuhannya" jawab Iqbal terpesona melihat Fatimah
"Oh gitu, tapi ayah lagi di pondok mas, bersama ustad Ryan sedang mengajar anak-anak santri" ucap Fatimah belum menyuruh tamunya masuk
Iqbal adalah teman Sidiq, dari dulu Iqbal sudah suka dengan Fatimah, tapi sayangnya Fatimah di jodohkan oleh Sidiq, Iqbal sempat benci dengan Sidiq, dia menganggap Sidiq mengambil Fatimah darinya.
Fatimah sendiri dulu tidak pernah tau kalo Iqbal menyukainya, walaupun Iqbal memang sering memberikan perhatian pada Fatimah, tapi semua perhatian yang diberikan, Fatimah anggap sebagai biasa saja.
Disaat Iqbal mendapat kabar baru-baru ini, jika Fatimah sudah menjadi janda, niat Iqbal semakin besar untuk menikahi Fatimah dan bertanggung jawab atas kedua anak Fatimah, makanya dia memberanikan diri datang ke rumah Kyai Bahri untuk meminang Fatimah.
"Iya, mas Iqbal terima kasih sudah menyempatkan datang kemari dan ...." ucap Fatimah terpotong saat Rendra memanggilnya
"Sayang kamu lagi ngapain" panggil Rendra mendekati Fatimah dengan kursi roda otomatisnya
"Ah, i..ini mas ada tamu" jawab Fatimah bingung
"Kok ngga disuruh masuk" ucap Rendra menyentuh tangan Fatimah dan melirik ke arah Iqbal, Rendra pun tersenyum ramah pada laki-laki itu
"Mas Rendra butuh apa?" tanya Fatimah pelan melihat ke arah Rendra
"Butuh kamu" jawab Rendra tersenyum manis
__ADS_1
"Maaf, dia siapa Fatimah?" tanya Iqbal penasaran
"Oh ini, ini mas Rendra, suami aku" jawab Fatimah santai
"Mas Rendra, kenalin ini mas Iqbal temannya almarhum mas Sidiq" ucap Fatimah lagi menatap Rendra
"Saya Rendra" ucap Rendra mengulurkan tangannya, Iqbal segera membalas uluran Rendra
"Iqbal" jawab Iqbal tersenyum
Jadi Fatimah sudah menikah lagi, tapi dia terlihat masih sangat muda. Gumam Iqbal dalam hati
"Maaf sebelumnya, kamu benaran suami Fatimah?" tanya Iqbal lebih penasaran
"Iya saya suaminya, ada yang salah gitu" jawab Rendra menatap Iqbal penuh arti
"Kamu terlihat terlalu muda untuk Fatimah, jadi seperti adik Fatimah" ucap Iqbal menyinggung masalah usia
"Usia itu tidak ada masalah, mau saya lebih muda atau saya aki-aki, kalo Fatimah jodoh saya dia lari kemana pun akan kembali pada saya" jawab Rendra ketus
"Lucu aja sih, Fatimah menikah dengan brondong" ucap Iqbal tersenyum sinis
"Brondong begini justru bagus, onderdilnya masih alami, buktinya Fatimah mengandung benih saya" jawab Rendra semakin kesal
Iqbal menoleh ke arah perut Fatimah yang membuncit itu, dia baru menyadari Fatimah ternyata sedang mengandung.
"Kok bisa?" tanya Iqbal menatap Rendra, Fatimah mendengar perkataan Iqbal bingung Rendra pun sama bingungnya
"Ini lah orang ngga punya otak, pake nanya kok bisa, udah tau tiap hari disentuh dan tidur satu kamar pake nanya kok bisa, aneh anda ini" jawab Rendra emosi
"Jelas saya bertanya, kamu kan lumpuh apa iya bisa alat kamu bisa bangun" ucap Iqbal merendahkan Rendra
"Manusia ngga punya otak, gua lumpuh juga baru tau sebelumnya sehat, lumpuh-lumpuh begini justru keuntungan buat gua, Fatimah bisa menjadi agresif" bentak Rendra pada Iqbal, mendengar kata Fatimah Agresif membuat Fatimah jadi malu, kenapa juga Rendra pake ngomong begitu, Iqbal menatap Fatimah penuh arti dimatanya.
Plak ... suara pukulan
"Jaga tuh mata, tatap istri orang sembarangan, di ajarin ngga sama orangtua buat jaga mata" teriak Rendra kesal
"Mas Rendra jangan berteriak, nanti suaranya hilang dan sakit lagi" ucap Fatimah lembut mengelus dada Rendra
"Aku ngga akan teriak kalo dia ngga tatap kamu begitu" jawab Rendra lembut pada Fatimah
__ADS_1
Kok bisa suara dia tiba-tiba lembut pada Fatimah? apa sehebat itu dia mengatur emosi, dan apa ini yang membuat Fatimah mau di nikahi oleh dia, karena bisa mengontrol emosi. Batin Iqbal penasaran dengan Rendra.