BEDA USIA? TAK MASALAH

BEDA USIA? TAK MASALAH
Perkembangan Rendra


__ADS_3

Kandungan Fatimah sudah 5 bulan lebih, Fatimah tidak merasakan gejala-gejala seperti orang yang sedang mengandung.


Hari-hari dia jalani seperti biasa, tidak ada rasa mual atau mengidam saja Fatimah tidak ada. Fatimah sangat bersyukur tidak mengalami itu semua, apalagi dengan keadaan suaminya yang tidak baik-baik saja.


Malam hari Fatimah sudah terlelap tidur disamping Rendra yang sedang tidur juga, seketika Rendra terbangun, dia merasa haus dan tenggorokannya terasa kering.


Huf...huf...huf... Rendra meniup-niup di wajah Fatimah agar Fatimah terbangun, tapi Fatimah belum ada tanda-tanda ingin bangun.


Aku haus sekali, biasanya Fatimah langsung bangun, apa dia kecapean hari ini. Batin Rendra


Rendra mencoba menggerakan tangannya untuk menyentuh Fatimah, tangannya terasa sangat berat untuk digerakan, hingga Rendra sudah berkeringat seperti orang habis berolahraga.


Dia tidak menyerah, terus mencoba menggerakan tangannya, dirinya sudah terlalu haus dan ingin minum.


Fatimah ku mohon bangun lah. Gumam Rendra dalam hati


Sampai akhirnya tangan Rendra bisa bergeser dan menyentuh bagian perut Fatimah, dia terus menggerakan jari telunjuknya yang mulai bisa di gerakkan, dia mengelus perut istrinya agar istrinya terbangun.


Fatimah please bangun, tenggorokan ku mulai sakit. Batin Rendra


Tubuh Rendra sudah basah dengan keringat, jari Rendra terus mengelus perut Fatimah, dan meniup wajah istrinya.


Fatimah merasakan adanya angin di bagian wajahnya, lalu dia terbangun melihat suaminya yang sedang meniup wajahnya dan bermandikan keringat dimalam hari.


"Astaghfirullah, Mas Rendra kenapa berkeringat begini" ucap Fatimah membersihkan keringat suaminya menggunakan tisu


"Mas Rendra haus?" tanya Fatimah menebak, karena melihat Rendra menelan ludah


"I...ya" jawab Rendra pelan nyaris tak terdengar, Fatimah langsung memberikan air minum pada suaminya, Rendra mulai meminum airnya menggunakan sedotan yang sudah di sediakan istrinya


"Mas Rendra haus ya, segelas sampe habis" ucap Fatimah tersenyum melihat suaminya

__ADS_1


Fatimah merasakan ada yang mengelus bagian pahanya, dia langsung melihat ke arah tersebut, ternyata jari suaminya bergerak mengelus pahanya yang tertutup selimut.


"Alhamdulillah, Mas Rendra sudah bisa menggerakan jarinya, jangan-jangan mas Rendra berkeringat karena berusaha untuk menggerakan tangan dan jari untuk membangunkan aku?" tanya Fatimah lembut, Rendra hanya senyum


"Maaf ya, entah kenapa Fatimah ngantuk sekali hari ini" ucap Fatimah merasa bersalah


"Mas Rendra ganti baju ya, ini basah dengan keringat semua, kalo ngga di ganti mas Rendra bisa gatal-gatal tubuhnya" ucap Fatimah lagi, melangkahkan kakinya untuk mengambil waslap dan baju ganti untuk suaminya


Dengan telaten Fatimah membersihkan terlebih dahulu keringat yang ada di tubuh suaminya hingga kering, Fatimah juga memberikan pijatan sedikit menggunakan oil terapi, agar suaminya jauh lebih rileks dan memasangkan baju bersih ke tubuh suaminya.


Melihat istrinya tepat di depan wajah Rendra semakin Rendra gemas melihatnya, dia tersenyum saat istrinya dekat dengan wajahnya, dengan refleks tangan Rendra yang tadi jarinya bergerak terangkat memeluk istrinya, hingga istrinya jatuh kepelukan Rendra, pipi Fatimah bersentuhan dengan bibir suaminya, membuat Rendra bahagia, dengan gemas Rendra menggigit kecil pipi istrinya.


"Aws, sakit, mas Rendra ini jahil ya, mentang-mentang tangannya sudah bisa digerakan, tapi ingat ngga boleh dipaksa untuk digerakan nanti malah bahanya ke otot-otot bagian lainnya" ucap Fatimah bangun dari posisi berpelukan dengan suaminya. Rendra hanya tersenyum saja melihat istrinya.


Hari terus berganti, tentang siapa yang jahat dengan keluarga Rendra belum terkuak, satpam itu pun masih dipekerjakan Rendra tapi dengan pengawasan Nabila dan Haikal.


Entah ada hubungan apa antara Nabila dan Haikal, semenjak Nabila datang kerumah Rendra semenjak itu juga Haikal sering datang berkunjung untuk menemui Nabila, tetapi Fatimah tidak mau terlalu ikut campur dalam urusan mereka berdua.


Fatimah bercerita tentang Nabila pada Rendra, Rendra pun hanya bisa mendengarkan istrinya bercerita, dirinya masih sulit sekali untuk mengucapkan satu kata saja.


Beberapa hari yang lalu Kyai Bahri dan santri lainnya datang, alasannya ingin mendoakan Rendra. Mereka berdoa bersama di rumah Rendra lagi untuk yang ke dua kalinya.


Kyai Bahri juga memberikan air Zamzam untuk Rendra dan Fatimah, sampai saat ini Fatimah masih rajin membaluri kaki dan tangan Rendra dengan air zamzam sedikit-sedikit, dan pastinya untuk di minum juga.


Tiba-tiba, entah kenapa Fatimah ingin sekali makan Roti Bakar dan Martabak, Fatimah paham keterbatasan suaminya, jadi dia tidak meminta pada Rendra untuk dibelikan kedua makanan tersebut, dia hanya izin dengan Rendra ingin membeli makanan lewat aplikasi online.


"Mas Rendra, aku boleh beli ini ngga?" tanya Fatimah menunjukan layar ponselnya pada Rendra


Rendra melihat Fatimah. Apa Fatimah sedang mengidam sekarang, Ya Allah aku malah tidak membelikan dia langsung makanan yang dia inginkan. Batin Rendra


Fatimah yang melihat meneteskan air mata malah bingung, padahal dirinya hanya meminta izin untuk beli makanan tersebut.

__ADS_1


"Kok nangis" ucap Fatimah mengahapus air mata Rendra


"Jangan nangis, apa aku ada salah?" tanya Fatimah heran, Rendra menggelengkan kepalanya, karena satu tangannya yang bagian kanan sudah bisa bergerak pelan Rendra langsung menyentuh tombol order di ponsel Fatimah, dia pun tersenyum


"Mas Rendra mengizinkan aku beli itu? tapi kenapa menangis" tanya Fatimah yang penasaran suaminya menangis


"Ma..af" jawab Rendra pelan


"Maaf? untuk apa? mas Rendra ngga ada salah apa-apa sama aku" tanya Fatimah semakin bingung


Rendra menunjuk kertas yang pulpen yang ada di meja samping Fatimah, Fatimah mengikuti arah jari Rendra, dan mengambil yang Rendra tunjuk.


Rendra menuliskan sesuatu di kertas itu dengan tulisan yang berantakan.


"Maaf ngga bisa membelikan langsung makanan yang kamu mau, pasti kamu lagi ngidam kan?" tanya Rendra dalam tulisan dikertas tersebut.


"Iya aku lagi mau kepengen banget makan martabak sama roti bakar" jawab Fatimah tersenyum senang suaminya paham dengan kondisi dirinya


"Aku senang kamu izin sama aku untuk memesan itu, jadi aku bisa tau kalo kamu sedang ingin sesuatu" tulis Rendra lagi


"Kan aku harus izin dulu dengan mas Rendra, mas Rendra kan seorang dokter, jadi tau mana yang baik dan tidak baik untuk aku makan, apalagi kan aku lagi mengandung" ucap Fatimah membersihkan keringat suaminya.


Suaminya kalo menggerakan tangan atau jari pasti banyak keringat yang keluar dan membasahi pakaian yang dikenakan.


"Tadi baru martabak aja yang di order, rotinya belum" tulis Rendra


"Ngga apa-apa, lebih baik satu-satu aja dulu, jadi ngga mubadzir juga" jawab Fatimah senang suaminya ada perkembangan.


"Boleh minta sesuatu?" tulis Rendra bertanya


"Minta apa" jawab Fatimah menatap wajah suaminya yang terlihat adem dan damai

__ADS_1


__ADS_2