
"Masa Rivan makan telur dadar doang" ucap Rendra tidak terima
"Rivan mau kan hanya makan telur dadar?" tanya Fatimah pada Rivan mengabaikan suaminya
"Mau bunda, pakai sosis ya" jawab Rivan senang
"Oke" sahut Fatimah
Rendra mengikuti Fatimah dari belakang.
"Bunda benaran membagikan semua makanan" tanya Rendra penasaran
"Iya" jawab Fatimah singkat
"Terus ayah makan apa?" tanya Rendra menunjuk dirinya sendiri
"Makan sama seperti Rivan, telur dadar sosis, kalau masih tidak mau masak aja sendiri sesuai keinginan ayah" jawab Fatimah
"Tadi katanya tidak marah, sekarang marah, gimana sih kamu, kemarahan kamu tuh hanya hal sepele dari awal, lagian aku sudah minta maaf sama kamu, kaya anak kecil aja" ucap Rendra kesal
"Kalau ayah tidak suka apa yang bunda lakukan ya sudah, ayah mau bagaimana sekarang" jawab Fatimah mencoba tenang
"Aku tidak mau anak ku hanya makan dengan telur dadar, kamu masak lagi untuk Rivan" ucap Rendra tegas meninggalkan Fatimah
Fatimah mengambil beberapa bahan sayuran dan ikan untuk di masak, dan juga Fatimah tetap memasak telur dadar sosis. Setelah memasak Fatimah menyediakan di meja makan masakan yang dia buat.
Sebenarnya Fatimah juga sudah merasakan lelah, tapi dia harus tetap melayani anak dan suaminya.
"Bunda katanya goleng telul pakai sosis, ini ikan sama sayul" ucap Rivan
"Ada telur dan sosisnya, belum bunda ambil" jawab Fatimah tersenyum tulus pada Rivan
"Asikk ada telul sosis, Lipan mau makan sekalang" sahut Rivan
Fatimah menyedokan nasi dan lauk ke piring Rendra dan Rivan.
"Bunda tidak makan?" tanya Rivan masih mengunyah makanan
"Rivan kalau sedang makan dilarang bicara" ucap Rendra tegas tanpa melihat anaknya
Rivan langsung terdiam, Fatimah membantu Rivan makan ikan, takut terkena durinya apabila Rivan makan sendiri. Rendra selesai lebih dulu lalu masuk ke dalam kamar lagi
"Bunda tidak makan?" tanya Rivan lagi
"Habis ini bunda makan, Rivan makan saja duluan dengan benar ya" jawab Fatimah
Selesai makan, Fatimah membereskan piring dan peralatan lainnya yang kotor untuk di cuci dan simpan kembali ke rak piring.
"Kenapa aku jadi tidak nafsu makan ya" lirih Fatimah "Nanti saja deh aku makannya, yang penting anak dan suamiku sudah makan" ucap Fatimah pelan
Rivan tadi di ajak Rendra untuk main ke pondok, jadi Fatimah seorang diri dirumah, memanfaatkan waktu Fatimah mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah.
Rendra dan Rivan bermain hingga sore hari, sampai Rivan penuh dengan keringat
"Bunda mana?" tanya Rivan mencari sosok bundanya berlari masuk ke dalam rumah
"Mungkin dikamar disayang" jawab Rendra
Rivan berlari ke dalam kamar "Rivan jangan lari dong" ucap Rendra lagi
__ADS_1
"Yahhhh, bunda kok bobo" ucap Rivan lesu
"Rivan sama ayah saja, kasihan bunda cape" sahut Rendra
"Lipan mau mandi bareng bunda" jawab Rivan
"Mandi dengan ayah saja, ayo" ucap Rendra menggiring anaknya
Akhirnya Rivan mau di mandiin oleh Rendra dan di pakaikan baju olehnya, karena Rivan loncat-loncat di kasur Fatimah terbangun dari tidurnya
"Rivan sedang apa sayang" ucap Fatimah suara khas bangun tidur
"Uppss, maaf bunda, Lipan jadi bangunin bunda" jawab Rivan berhenti loncat-loncat
"Rivan habis mandi?" tanya Fatimah duduk bersandar
"Iya, dimandiin ayah, sekalang ayah sedang mandi" jawab Rivan duduk di pangkuan bundanya
"Rivan habis darimana?" tanya Fatimah mencium kepala Rivan
"Main kuda, main tembak-tembakan, main bola, apa lagi ya" jawab Rivan berpikir
"Seru mainnya?" tanya Fatimah lagi
"Selu banget, bunda sih tidak ikut main sama Lipan" jawab Rivan bahagia
"Bunda ngantuk, makanya bobo saat Rivan pergi" ucap Fatimah tersenyum
Pintu kamar mandi terbuka, Rendra keluar hanya menggunakan celana pendeknya saja, lalu mengambil pakaian di dalam lemari, tanpa melihat ke arah Fatimah.
Kalau dia yang marah atau ngambek pasti ribet deh. batin Fatimah
"Jangan lama ya bunda" sahut Rivan, Fatimah hanya tersenyum
"Nonton tv yuk, di luar" ajak Rendra merentangkan tangannya untuk menggendong Rivan
Rumah papih Ammar
"Mama dari mana sore begini baru pulang?" tanya papih Ammar
"Habis dari rumah Rendra yang, katanya dia mau pindah lagi, jadi mama minta tolong sama yang jaga rumah untuk merapihkan, mama juga menambahkan mainan ditaman, supaya Rivan betah" tutur mama Alisha senang
"Kapan Rendra bilang sama mama?" tanya papih
"Tadi pagi menjelang siang kalau tidak salah, lupa mama" jawab mama Alisha
"Syukur kalau mereka mau pindah, jadi kita lebih dekat dengan Rivan" ucap papih senang
"Assalamualaikum" ucap Dito
"Wa'alaikumsalam" jawab papih dan mama
"Kakek telpon ke kantor, katanya kamu tadi keluar" ucap papih
"Iya, Dito habis dari makam ayah Sidiq" jawab Dito menunduk
"Tidak memberi kabar pada kami?" tanya papih menatap Dito
"Maaf Kakek, Nenek" jawab Dito
__ADS_1
"Kamu sudah makan?" tanya mama Alisha
"Alhamdulillah sudah" jawab Dito
"Apa yang membuat kamu sedih?" tanya mama Alisha
"Hanya rindu dengan ayah Sidiq" jawab Dito pelan dan takut
"Doakan ayah mu, bukan di tangisi, kalau kangen dengan ayah kenapa tidak menghubungi ayah Rendra?" tanya papi
Dito hanya menunduk, sebenarnya Dito tadi siang menghubungi Rendra, tapi di reject langsung oleh Rendra, begitulah Rendra jika sedang kesal dengan Fatimah, Dito ataupun Ayu pasti kena imbasnya juga, padahal mereka tidak tau apa-apa permasalahan orangtuanya.
"Dito tidak kepikiran" jawab Dito pelan
Mama Alisha memberikan isyarat agar papi Ammar berhenti bertanya pada Dito.
"Masuk dan bersihkan tubuhmu, lalu tenangkan hati dan pikiranmu dikamar" ucap mama Alisha memeluk Dito
Dito pun masuk ke dalam kamar setelah mengucapkan terima kasih pada kakek neneknya.
"Menurut mama, ada apa dengan Dito?" tanya papih Ammar
"Mama juga tidak pih, tidak seperti biasanya Dito begini" jawab Mama Alisha
"Pasti ada yang terjadi" ucap papih
"Dito di antar supir siapa, tanya saja dengan yang menemani Dito" sahut mama Alisha
"BURHAN!!!" teriak papi Ammae menggelegar di dalam rumah
Supir itu segera berlari ke arah sumber suara majikannya dengan kelelahan.
"Apa yang terjadi pada cucu saya?" tanya papih Ammar
"Pulang kuliah langsung ke kantor pak, terus tidak lama minta di antar tapi wajahnya sudah tidak bersahabat, setelah di makam dia menangis, pas saya tanya ada apa, katanya dia hanya rindu dengan ayahnya, saya tanya lagi kenapa tidak menghubungi pak Rendra saja kalau kangen, Dito bilang telponnya di reject sudah lima kali saat masih di kantor dan pas di makam" tutur Burhan supir Dito
"Kembali ke pos" titah papih Ammar
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
__ADS_1
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.