
Mereka sarapan bersama seperti hari-hari sebelumnya, Rivan juga senang karena hari ini dia akan menghukum ayahnya.
"Bunda, kita jadi hukum ayah kan?" tanya Rivan antusias
"Ayah mau berangkat ke apotik dulu, setelah pulang dari apotik baru Rivan boleh menghukum ayah" jawab Fatimah tenang
"Huft, masih lama dong bun" sahut Rivan cemberut
"Hanya beberapa jam saja menunggu ayah, jadi lebih baik Rivan bantuin bunda dirumah" jawab Fatimah
"Bantuin apa?" tanya Rivan
"Kita kan mau pindah, Rivan masukan mainan Rivan ke dalam box yang sudah bunda siapkan di dalam kamar, tetapi hanya mainan yang masih terpakai sama Rivan, sisanya tinggalkan disini untuk dibagikan" tutur Fatimah
"Lipan mau deh bantuin bunda, mainan Lipan semua terpakai bun, belalti dibawa semua ya" ucap Rivan tersenyum
"Tidak boleh semua sayang, karena di rumah sana juga banyak mainan, pilihkan saja sama Rivan ya" sahut Fatimah lembut
"Lipan pikil-pikil dulu deh bun, boleh tidak?" jawab Rivan
"Rivan mau mikir apa? jangan terlalu berat mikirnya, sudah Rivan masuk kamar sana" ucap Fatimah gemas lihat anak bungsunya
"Oke, Lipan ke kamal sekalang" sahut Rivan masuk ke dalam kamar dan mencari box yang di ucapkan bundanya
Rivan mengeluarkan semua mainannya yang ada, dan membuat kamar jadi terlihat berantakan karena mainan Rivan. Rivan mendorong box yang baru dan masih kosong ke dekatnya dan mulai memilih mainan yang dia sukai.
"Lipan mau bawa ini satu, itu satu, lobot besal satu" ucap Rivan memasukan satu persatu mainan yang dia pilih ke dalam box
"Bawa yang mana lagi ya, Lipan bingung, masukin saja deh semua, Lipan juga cape milihnya" ucap Rivan lagi sendiri
"Astaghfirullah, cucu nenek sedang apa?" tanya mama Alisha yang baru saja datang melihat kamar berantakan
"Nenek, Lipan kangen" ucap Rivan memeluk mama Alisha
"Sayangnya nenek ini, nenek juga kangen sekali dengan Rivan" sahut mama Alisha menggendong Rivan
"Nenek bawa mainan untuk Lipan tidak?" tanya Rivan, biasanya kalau nenek dan kakeknya datang selalu membawa hadiah
"Tidak sayang, kata ayah dan bunda mainannya dikumpulkan saja dirumah baru, jadi nanti saat Rivan pindah, di dalam rumah baru sudah banyak mainan, pasti Rivan suka deh" jawab mama Alisha gemas
"Yahhh, halusnya bawa satu untuk Lipan disini" sahut Rivan lesu
"Nanti ya sayang, pasti akan nenek belikan lagi yang bagus-bagus, sekarang Rivan lagi apa, kok berantakan mainannya?" tanya mama Alisha
__ADS_1
"Tadi bunda bilang, Lipan harus pilih mainan Lipan untuk dibawa dan sisanya dibagikan, tapi Lipan bingung Nek, ini mainan Lipan semua, Lipan sayang sama mainan Lipan" jawab Rivan sedih
"Masa cucu nenek yang tampan sedih, malu dong Rivan itu anak laki-laki, harus kuat dan berwibawa" ucap mama Alisha
"Telus gimana mainan Lipan?" tanya Rivan
"Sini nenek bantuin pilih ya" jawab mama Alisha
"Asikkk, Lipan dibantuin" teriak Rivan loncat-loncat kecil kesenangan
Mama Alisha dan Rivan sibuk memilih mainan, Rivan labil nanti bilang oke mainannya saat di masukan ke box lama tiba-tiba dia bilang sayang dengan mainannya, mama Alisha terhibur dengan tingkah Rivan yang hampir sama dengan Rendra.
Sifatnya sama dengan Rendra, asal jangan yang buruknya sama kaya anak itu, cucu ku harus lebih berwibawa tegas dan tidak labil seperti ayahnya yang suka membuat orang kesal karena sikapnya yang ke kanak-kanakan. batin mama Alisha
"Mam, sedang apa, masih lama di dalam, bawa Rivan keluar dong, papih ingin ketemu juga" panggil papih Ammar dari luar kamar
"Langsung masuk saja pih, cuma ada mama dan Rivan saja didalam" sahut Fatimah
"Biarkan mama dan Rivan saja yang keluar" ucap papih, segan apabila masuk ke dalam kamar anak dan mantunya
"Rivan lagi membereskan mainannya, mungkin mama sedang bantuin di dalam" sahut Fatimah
Tok... tok... suara ketukan pintu
Ceklek ... suara pintu terbuka
"Huft, kakek ini belisik sekali, kenapa tidak masuk saja" ucap Rivan cemberut saat membuka pintu
"Cucu kakek yang tampan, emang sedang apa, kenapa kakek jadi di omelin" sahut papi Ammar pura-pura sedih
"Lipan sama nenek lagi belesin mainan, sebental lagi selesai, kakek kalau sedih sepelti pelempuan cengeng, kakek itu laki-laki halus kuat dan belwibawa" sahut Rivan mengikuti ucapan neneknya pada dirinya.
"Jadi malu sendiri ya di bilangin begini sama cucu" lirih papih Ammar masih terdengar oleh Fatimah
"Rivan masa bicara sama kakek begitu sayang, kakek itu kangen sama Rivan loh" ucap Fatimah
"Iya Lipan tau kakek kangen, nenek juga kangen, Lipan juga kangen, tapi Lipan lagi kumpulin mainan Lipan sebental" sahut Rivan dengan mimik wajah lucu
"Baiklah, kakek akan menunggu Rivan, sekarang Rivan segera selesaikan tugas Rivan" ucap papi Ammar mengalah
"Siap kakek" sahut Rivan hormat pada kakeknya
Rivan masuk kedalam kamar lagi, papih Ammar tersenyum melihat tingkah cucunya yang selalu bertingkah konyol dan menggemaskan pada mereka semua, Rivan menjadi pelipur lara sang kakek dan nenek saat ini.
__ADS_1
"Fatimah, seminggu lagi papih akan mengadakan acara haul kepergian mamih dan adiknya Rendra, apa kalian bisa datang?" tanya papih Ammar berharap
"Insyaallah Fatimah dan semua datang kerumah papih, lagi pula tiga hari lagi kami sudah pindah ke rumah lama, jadi akan lebih dekat kerumah papih" jawab Fatimah
"Alhamdulillah, kalau kalian bisa datang, karena papih ingin menunjukan foto mamih dan adikmu pada Rivan, kalau dia masih mempunyai satu nenek dan Aunty yang cantik" ucap papih sedih mengingat anak dan istrinya yang sudah lebih dulu meninggalkan kehidupan dunia.
"Papih harus kuat, dan kita akan selalu mendoakan mereka berdua, agar mereka juga selalu bahagia di Surga-Nya Allah" jawab Fatimah menenangkan papihnya
"Papih berharap begitu, mamih dan adikmu bahagia dia sana, dan menunggu papih" ucap papih entah kenapa merasa sangat sedih mengingat kembali anak istrinya.
"Kakek kenapa menangis?" tanya Rivan baru saja keluar dari kamar dan mendekati kakeknya
"Mata kakek masuk debu sayang, makanya sampai keluar airmata" jawab papih Ammar
Mama Alisha yang melihat suaminya sedih hanya diam saja, dia tau saat ini perasaan suaminya, dan dia juga tidak pernah marah apabila suaminya mengingat anak istrinya yang sudah tiada, mama Alisha duduk di samping papih Ammar dan mengelus bahunya agar tenang.
"Maaf" lirih papih Ammar menatap mama Alisha
"Tidak apa-apa, nanti kita sama-sama kirimkan doa terbaik untuk mba dan anakmu" ucap mama Alisha masih menenangkan suaminya
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.
__ADS_1