BEDA USIA? TAK MASALAH

BEDA USIA? TAK MASALAH
Pertanyaan Sulit dari Dito


__ADS_3

sudah 2 hari ini entah kenapa Rendra jadi sangat menyebalkan dimata Fatimah, Nabila, Ayu dan Dito, Rendra juga pernah tidak sengaja memarahi Dito karena mobil Rendra dia cuci tapi tanpa menggunakan sabun khusus mobil, jadi Rendra marah, tadinya Fatimah pun mau marah tapi di tahan dan Dito selalu bilang memang dia yang melakukan kesalahan.


Hari ini Fatimah benar-benar sangat bete dengan suaminya, mood nya juga jadi tidak baik, apalagi kalo Rendra sudah bicara dengan nada tinggi pada anaknya.


Entah kenapa Rendra kalo dirumah sakit sikapnya bisa seperti biasa berbeda dengan dirumah yang selalu membuat gaduh. mungkin saja dia seorang dokter jadi harus lebih profesional dan teliti untuk memeriksa pasien.


"Ibu kenapa?" tanya Dito mendekati ibunya di meja makan kebetulan juga dia tidak sekolah lagi kurang sehat


"Alhamdulillah, ibu baik kok" jawab Fatimah tersenyum lembut


"Ibu, kita kemakam ayah Sidiq yuk, sudah lama kita tidak kesana, semenjak ibu menikah dengan ayah Rendra" ucap Dito pelan


"Maaf ya nak, bukannya ibu tidak mau ke makam ayah Sidiq, ibu hanya menjaga perasaan ayah Rendra, sekarang kan kamu masih kurang sehat lebih baik istirahat, nanti kamu bicarakan dengan Ayu, cari waktu untuk kalian berdua kesana" jawab Fatimah terlihat sedih


Tanpa mereka sadari ada yang mendengarkan percakapan mereka berdua. Dua pasang mata itu terlihat iba pada Fatimah dan anaknya.


"Ayah Rendra kenapa udah dua hari ini marah-marah ya bu? ternyata yang dikatakan sama teman ku itu benar, ayah tiri baik hanya sesaat tidak selamanya, apalagi setelah punya anak kandung" ucap Dito sedih meneteskan airmatanya.


"Jangan bicara yang tidak terjadi, jalani aja untuk saat ini ya, kamu dan Ayu tetap harus menghargai dan menghormati ayah Rendra sebagai ayah kalian" jawab Fatimah menghapus airmata Dito menggunakan jarinya


"Jika suatu saat ayah Rendra membuang aku dan mbak Ayu bagaimana?" tanya Dito lesu menunduk


"Ibu janji sama Dito dan Ayu jika suatu saat kalian di usir dari rumah ini, ibu pun akan ikut dan kita sama-sama kembali perumah KeAbi Bahri" jawab Fatimah menguatkan anaknya


"Misalkan Dito dan Mbak Ayu pergi lalu ibu ikut tapi adik Dito tidak boleh pergi sama ayah Rendra bagaimana, apa ibu tetap dengan ayah atau ikut dengan kami" tanya Dito membuat Fatimah bingung untuk memilih.


"Jangan berpikir yang tidak terjadi saat ini, lebih baik kamu istirahat ya" jawab Fatimah mengalihkan pembicaraan Dito


Ruang Tv

__ADS_1


"Aku jadi kasihan dengan Fatimah dan anak-anaknya" ucap Nabila sendu dan iba


"Sebenarnya apa yang terjadi antara Rendra dan Fatimah, bukannya Rendra cinta mati dengan Fatimah" tanya Haikal penasaran


Selama Nabila tinggal di rumah Rendra, Haikal lah yang selalu menemani Nabila kemana pun di saat jam kerja dia sudah selesai.


"Belakangan ini Rendra sering marah tidak jelas, Dito aja pernah kok di marahin sampe kasihan aku lihatnya, dari semalam Dito tuh demam, padahal kan Rendra dokter setidaknya periksalah tapi ini dia abai, wajar saja jika Dito bertanya seperti itu pada Fatimah" jawab Nabila menangis tanpa suara


"Astaghfirullah, apa ada sesuatu yang Rendra sembunyikan atau apa gitu, ini tidak mungkin sensitif karena mengidam kan, kalo di rumah sakit dia biasa aja tuh, santai tenang, cuek, dingin sama suster yang sering goda dia" ucap Haikal penasaran dengan perubahan sikap Rendra saat di rumah


"Kamu cari tau aja sendiri, atau nasehati sebelum dia menyesal" jawab Nabila menatap Haikal penuh harap


Dimeja makan setelah Dito pergi masuk kamar, Fatimah merenungkan semua ucapan Dito, siapa yanh harus dia pilih jika Rendra mengusir kedua anaknya, haruskan pilih Anak-anak dari Sidiq atau tetap bersama Rendra dan anak dari Rendra. sepanjang hari kalimat Dito selalu terbayang-bayang dipikirannya, seolah tidak mau meinggalkan otak Fatimah.


"Assalamu'alaikum" ucap Rendra masuk langsung duduk di sofa ruang tamu, Fatimah yang mendengar suaminya pulang menghampiri dengan membawa air untuk suaminya itu


"Wa'alaikumsalam" jawab Fatimah mencium tangan suaminya dan memberikan minum


"Kenapa lihatin aku seperti itu, ada yang salah?" tanya Rendra melihat dirinya sendiri


"Ada" jawab Fatimah cepat dan yakin


"Apa?" tanya Rendra lagi penasaran dengan jawaban istrinya


"Apa kamu masih peduli dengan kedua anakku?" tanya Fatimah tenang menatap suaminya


"Maksudnya apa? aku tidak paham" jawab Rendra mengernyitkan dahinya dengan wajah bingung


"Pertanyaan ku mudah, apa kamu masih peduli dengan anakku? aku hanya butuh jawaban IYA atau TIDAK" jawab Fatimah entah dari mana punya keberanian untuk bicara seperti itu

__ADS_1


"Iya, aku masih peduli, jika aku tidak peduli dengan kedua anak mu, mana mungkin aku membiayai mereka segala macam dengan uang pribadi ku, mereka juga masih tinggal disini mendapatkan fasilitas yang baik" ucap Rendra masih menatap istrinya


Jawaban kamu tidak seperti dulu mas, yang selalu bilang aku sangat peduli pada anak-anakku, tapi kamu sekarang itu anakku, apa benar kamu sudah tidak ingin mengakui Dito dan Ayu sebagai anak. Gumam Fatimah dalam hati


"Kok diem dan melamun begitu? aku ini cape harusnya kamu itu buat aku rileks pulang dari rumah sakit, bukan ngasih pertanyaan yang tidak penting begini" ucap Rendra lagi meninggal Fatimah diruang tamu


Ya Allah kuatkanlah hati hamba. Batin Fatiman menangis


Fatimah jadi memikirkan nasib rumah tangganya, apakah bisa di pertahankan atau harus kandas begitu saja yang disebabkan oleh keegoisan masing-masing.


Menjelang sore Fatimah menyusuh Ayu dan Dito untuk pulang ke rumah ayah Bahri, Fatimah ingin melihat saat dirumah ini tidak ada Dito dan Ayu, apakah Rendra terlihat biasa saja atau seperti dulu yang panik tidak mau jauh dari Ayu dan Dito.


Makan malam di meja makan rumah Rendra, hanya tiga orang Rendra, Fatimah dan Nabila.


"Dito sama Ayu tidak di ajak makan? apa Dito masih sakit" tanya Nabila tidak tau apa-apa


"Dito sama Ayu tadi dijemput sama kakenya, kemungkinan mereka menginap" jawab Fatimah berbohong dan melihat suaminya tetap tenang dan terus melanjutkan makan


"Semakin jauh dong berangkat sekolahnya?" tanya Nabila santai


"Itu jauh lebih baik buat psikis Dito dan Ayu, dibandingkan mereka masih tinggal disini, lagi lupa disanakan keluarga asli Dito dan Ayu yang sesungguhnya" jawab Fatimah tersenyum getir, ada rasa sakit disaat suaminya benar-benar cuek pada kedua anaknya


Tanpa sepengetahuan Nabila dan Rendra yang sibuk dengan makamannya, Fatimah mengahapus cepat yang airmata yang mulai mengali ke pipinya.


"Disini juga kan keluaganya kali kaka ipar, jangan dibeda-bedakan begitu" ucap Nabila tidak suka pada Fatimah yang membedakan-bedakan


"Tapi kenyataannya seperti itu Nabila, kamu kan sudah tau siapa Dito dan Ayu, jadi tanpa aku menjelaskan panjang lebar, aku cukup sadar diri kok" jawab Fatimah lagi mencoba tenang


"Kalian itu kalo mau ngobrol diruang tv bukan di meja makan" ucap Rendra tiba-tiba dengan nada dingin

__ADS_1


Fatimah dan Nabila langsung saling tatap.


__ADS_2