BEDA USIA? TAK MASALAH

BEDA USIA? TAK MASALAH
Lagi-lagi Rivan


__ADS_3

Hari ini Fatimah dan Rendra akan kembali ke kota, setelah berpamitan dengan keluarga di pondok pesantren, Rendra dan Fatimah melakukan perjalanan sekitar pukul 07.00 pagi.


Fatimah sudah sangat kangen sama Rivan, setiap kali Fatimah videocall Rivan terlihat cuek padanya, itu membuat Fatimah merasa diabaikan oleh anaknya sendiri.


Sementara Rendra sudah tau kenapa anaknya tidak mau berkomunikasi dengan Fatimah, karena jadwal Fatimah menelpon selalu bertepatan di saat Rivan sedang bermain dengan Puma dan Pumi.


Rendra merasa bahagia melihat anaknya selalu tersenyum senang saat bermain dengan kuda-kuda kesayangannya. Tiba dirumah Fatimah langsung masuk ingin langsung bertemu dengan Rivan.


"Assalamualaikum, sayang" ucap Fatimah lembut


"Wa'alaikumsalam, selamat datang kembali, ibu Fatimah" jawab bibi senang


"Bibi, sehat?" tanya Fatimah mengelus lengan bibi


"Alhamdulillah, bibi selalu sehat, rumah ini jadi hampa bertahun-tahun tanpa ibu" jawab bibi senang


"Makasih ya bi, sudah bersedia merawat rumah ini, hingga kami kembali" ucap Fatimah senang


"Ibu mencari tuan muda?" tanya bibi


"Iya, dimana Rivan?" tanya balik Fatimah tidak sabar


"Lagi main bersama Puma dan Pumi" jawab bibi santai


"Puma dan Pumi? siapa mereka?" tanya Fatimah tidak tau


"Itu nama kedua kuda tuan muda" jawab bibi senyum


"Kuda? kuda siapa?" tanya Fatimah semakin penasaran


"Tuan Besar memberikan kuda sepasang untuk Rivan, bu" jawab bibi


"Astaghfirullah, dimana Rivan sekarang" tanya Fatimah lagi


"Dihalama belakang lalu ke samping kanan sana bu yang ada pagar-pagar kayu warna warni" jawab bibi


Fatimah menuju halaman belakang diantar oleh bibi, dia terkejut melihat halaman rumahnya menyatu dengan halaman tetangga di sebelah dan benar saja dia melihat Rivan sedang mencium kedua kudanya.


"Rivan" panggil Fatimah mulai dekat dengan anaknya


"Bunda" teriak Rivan senang memeluk bundany


"Sedang apa kamu disini?" tanya Fatimah lembut supaya anaknya tidak takut


"Membeli makan Puma dan Pumi, mereka sangat lucu kan bunda" jawab Rivan tersenyum


"Iya lucu sekali, boleh bunda bertanya?" ucap Fatimah, dan Rivan hanya menganggukan kepalanya


"Siapa yang beli kuda itu" tanya Fatimah lembut sekali berharap anaknya jujur


"Kakek dan nenek, kuda ini dibeli dali teman kakek namanya kakek Lamli, setiap pagi Lipan diajalin sama kakek Lamli untuk naik kuda, haya... haya" jawab Rivan jujur


Fatimah yakin anaknya berkata jujur, tidak mungkin juga Rivan membohonginya, apabila setiap kata yang diucapkan Rivan dari mutmya sangat lancar.

__ADS_1


"Pantas saja setiap bunda hubungi Rivan, Rivan tidak mau menerimanya, bunda kan jadi sedih" ucap Fatimah sedih


"Bunda tidak boleh sedih, maafin Lipan ya" jawab Rivan memeluk bundanya


"Kalian sedang apa dihalaman rumah orang?" tanya Rendra yang tidak tau kalau halaman tersebut di beli oleh Papih Ammar


"Eh iya juga, kita kenapa di halaman rumah orang" ucap Fatimah baru sadar


"Halaman ini sudah di beli oleh Tuan Besar" jawab bibi


"Dibeli? untuk apa?" tanya Rendra menatap bibi serius


"Untuk tempat tinggal Puma dan Pumi, itu" jawab bibi menunjuk kuda Rivan


"Ya Allah, si papih membelikan kuda dan halaman rumah orang" ucap Rendra tidak menyangka


"Katanya supaya tidak mengganggu atau merusak tanaman ibu Fatimah juga" sahut bibi


"Ternyata papih begitu sayang dengan tanaman ku" ucap Fatimah


"Selama bapak dan ibu tidak disini, Tuan Besar dan Nyonya Besar sering kesini hanya untuk memberikan pupuk pada tanaman ibu Fatimah" jawab bibi


Fatimah jadi terharu, mertuanya begitu menjaga dan merawat apa yang Fatimah suka dan Fatimah tanam.


"Bibi, Lipan lapal" ucap Rivan merasa diabaikan


"Bibi sudah masak sesuai yang tuan muda inginkan" jawab bibi dengan cepat


"Rivan mau makan apa memangnya?" tanya Rendra heran


"Ya Allah, anak bunda mau jadi apa makan steak hebat sekali" sahut Fatimah geleng-geleng kepala, baru beberapa hari jauh dari dirinya tapi sikap Rivan berubah


"Lipan suka steak, dirumah kakek seling makan itu, lasanya enak banget" jawab Rivan berlari kecil masuk lebih dulu ke dalam rumah


"Ayah, kenapa Rivan jadi begitu" tanya Fatimah


"Masih anak-anak, wajar saja daya tangkapnya kuat, nanti kita ajarkan lagi dia pasti paham" jawab Rendra menggandeng tangan Fatimah


Fatimah dan Rendra ikut makan yang sudah di sediakan oleh bibi, melihat Rivan makan dengan lahap membuat Fatimah menggelengkan kepala


"Hati-hati sayang, kalau makan pelan-pelan saja, tidak akan ada yang merebut makananmu" ucap Fatimah mengingatkan anaknya


"Oke bunda" jawab Rivan santai


"Assalamualaikum" ucap Dito tersenyum


"Wa'alaikumsalam" jawab Rendra dan Fatimah


"Bunda, Dito kangen" ucap Dito memeluk bundanya


"Abang Dito, jangan peluk bund Lipan" sahut Rivan melototi Dito


"Ini bundanya abang juga lah" jawab Dito tidak mau kalah

__ADS_1


"Bunda Lipan, abang No peluk-peluk" sahut Rivan melipat kedua tangannya di dada, semakin senang Dito untuk menggoda adiknya


"Rivan kemarin menolak tuh saat bunda menghubungi, padahal bunda kemarin sedih, jadi ini bundanya abang Dito" jawab Dito dengan sengaja memeluk Fatimah lagi


"Abang Dito jahat, ambil bunda Lipan, nanti Lipan sumpahin abang Dito sukses loh" ucap Rivan membuat Fatimah, Dito dan Rendra tertawa


"Kok ketawa?" tanya Rivan heran


"Itu doa dari siapa?" tanya balik Fatimah


"Dali kakek, katanya kalau abang Dito nakal, sumpahin aja supaya menjadi olang sukses" jawab Rivan polos


"Aamiin" sahut Dito tersenyum "Maafin abang Dito ya, terimakasih doanya" ucap Dito mencium Rivan


"Dito sudah makan?" tanya Rendra pelan menatap Dito


"Sudah, tadi sebelum kesini makan siang lebih dulu dikantor" jawab Dito


Fatimah melihat gerak gerik Dito yang tidak suka dengan Rendra, dengan cepat dia memberi kode pada Dito supaya bisa menghargai Rendra saat ini.


Dito yang paham dengan kode dari bundanya, dia pun mencoba rileks duduk di samping Rendra.


"Kuliah kamu bagaimana, nak?" tanya Fatimah


"Alhamdulillah lancar, bunda doakan saja terus untuk Dito, agar selalu diberikan kelancaran" jawab Dito


"Bunda akan selalu mendoakan anak-anak bunda" ucap Fatimah penuh kasih sayang


"Semoga bunda tidak melupakan Dito" jawab Dito membuat Fatimah dan Rendra terkejut


"Maksudnya apa?" tanya Fatimah tidak paham


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara


πŸ‘πŸΌ Like


πŸ“ Komen


🎁 Hadiah


🎟️ Vote


Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :



Cinta Zavier untuk Aisyah πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ


Kesetiaan Cinta Yusuf πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ


__ADS_1


Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.


__ADS_2