
"Bunda, diam saja" ucap Rivan duduk di samping Fatimah
"Rivan makannya di meja makan ya, ini kamar tempat untuk bobo, bukan untuk makan" jawab Fatimah menatap Rivan
"Bunda temani Lipan dong" ucap Rivan berharap
"Rivan membeli makanan itu sama siapa?" tanya Fatimah
"Kakek Ammal" jawab Rivan jujur
"Jadi Rivan minta tolong sama kakek Ammar untuk menemani Rivan makan ya" ucap Fatimah
"Lipan mau sama bunda" jawab Rivan
"Rivan saja tadi meninggalkan bunda" ucap Fatimah
"Ayah temani" sahut Rendra kasihan dengan anaknya, dia juga paham Fatimah sedang badmood pada keluarganya
Rivan melempar makanan yang dia beli ke lantai, dia kesal bundanya tidak menemani dia.
"Loh, tidak baik buang makanan sayang" ucap Rendra mengambil makanan Rivan
Rivan hanya menatap bundanya yang sejak tadi fokus main ponsel, dia merasa diabaikan oleh bundanya saat ini, Rivan langsung duduk di pangkuan bundanya untuk mencari perhatian sang bunda, ia juga memeluk bundanya.
Fatimah tidak tega juga pada anaknya, dia kesal pada suami dan mertuanya saat ini, tapi Rivan yang terkena imbasnya.
"Mana makanannya, ayo bunda temani" ucap Fatimah
"Lipan mau sama bunda saja" jawab Rivan
Fatimah mengambil burger Rivan dari tangan Rendra, dan menggendong Rivan hingga ke meja makan, Rivan tidak mau melepaskan Fatimah, dengan terpaksa Fatimah kembali memangku Rivan dan menyuapi Rivan.
"Enak?" tanya Fatimah tersenyum, Rivan hanya menganggukan kepalanya
"Bunda makan apa lagi?" tanya Dito bangun tidur
"Ini Rivan yang sedang makan" jawab Fatimah biasa saja "Nak, nanti ada yang mau bunda bicarakan sama kamu ya, mungkin agak malam saja" ucap Fatimah melihat ke arah Dito
"Penting sekali ya bun?" tanya Dito
"Sedikit penting" jawab Fatimah
"Apa masalah...." ucap Dito terpotong
"Nanti saja bicaranya, dan ada beberapa keinginan yang bunda mau dan kamu wujudkan" jawab Fatimah
Waktu pun sudah berubah menjadi malam, Rendra dan Rivan sudah terlelap, sedangkan papih Ammar dan mama Alisha kembali kerumahnya sendiri.
Fatimah berjalan pelan supaya tidak membangunkan anak dan suaminya, dia pergi ke halaman belakang, dimana Dito sudah menunggunya.
"Maaf ya bunda lama" ucap Fatimah
__ADS_1
"Dito juga belum lama duduk disini, bunda terlihat serius sekali" sahut Dito pelan
"Bunda minta sama Dito, supaya tidak menerima apapun dari kakek Ammar ataupun ayah Rendra, seperti mobil dan perusahaan tadi, anggaplah itu semua Dito meminjam, bukan milik Dito sepenuhnya" tutur Fatimah
"Dito paham bun, dan Dito sadar dengan status Dito, lalu bunda ingin Dito melakukan apalagi" tanya Dito
"Ada satu hal yang bunda inginkan, jika suatu saat umur bunda tidak lagi panjang, atau berakhir, tolong makamkan bunda di samping ayah Sidiq ya, bunda sudah berjanji pada ayah Sidiq, waktu ayah Sidiq meninggal bunda berucap akan selalu ada di samping ayah, begitu juga jika bunda meninggal akan di makamkan disamping ayah Sidiq" tutur Fatimah
"Apa harus bunda bicara begitu, aku jadi takut dengernya, lalu apa tidak jadi masalah nanti dengan ayah Rendra" tanya Dito bingung
"Insyaallah tidak masalah, kamu cukup bilang, ini semua keinginan bunda" jawab Fatimah
"Bunda, sebentar lagi haul ayah Sidiq, KeAbi akan mengadakan itu di pondok, bunda datang tidak?" tanya Dito
"Iya bunda tau, tapi sepertinya bunda tidak bisa datang, bunda malas berdebat dengan ayah Rendra ataupun kakek Ammar, jika kamu ke makam tolong belikan bunga sedap malam ya, itu bunga kesukaan ayah Sidiq" jawab Fatimah tersenyum sedih
"KeAbi juga tidak memberitahukan ini pada ayah Rendra dan keluarga lainnya" ucap Dito
"Sedikit sensitif urusan ini, jadi KeAbi juga punya pertimbangan sendiri" jawab Fatimah
"Bunda, selama Dito kuliah, Dito tidak pernah memakai uang dari kakek Ammar maupun ayah Rendra, Dito memakai uang yang bunda berikan, uang ayah Sidiq" ucap Dito
"Apa uang ayah Sidiq cukup?" tanya Fatimah
"Sisanya Dito pakai beasiswa bunda" jawab Dito
"Simpan baik-baik uang mereka, kalau bisa jangan di gunakan" ucap Fatimah menoleh mendengar ada suara lain
"Kalian sedang apa disini?" tanya Rendra sudah berada dibelakang Fatimah dan Dito
Rendra tadi hanya pura-pura tidur, dan mengikuti Fatimah serta mendengar semua percakapan antara Fatimah dan Dito.
Segitu sayang dan cinta, kamu pada Sidiq, hingga ingin di makamkan di sampingnya, apa mereka belum bisa menerima aku sebagai bagian dari keluarganya, Dito pun tidak memakai uang pemberian ku. batin Rendra
"Ayah terbangun butuh sesuatu?" tanya Fatimah mendekati suaminya
"Mau mengambil minum, ayah tidak melihat bunda di kamar, sekalian mau cari, ternyata pintu halaman belakang terbuka sedikit" jawab Rendra
"Dito kembali ke kamar duluan ya" ucap Dito mendahului orangtuanya
Rendra menatap istrinya, dalam pikiran Rendra banyak sekali pertanyaan untuk Fatimah, tapi dia tidak mampu untuk berbicara pada Fatimah takut menjadi panjang urusannya.
Dikamar pun Fatimah hanya diam saja.
"Lusa kita ziarah yuk" ucap Rendra menghilangkan keheningan
"Kemana?" tanya Fatimah menoleh ke arah suaminya
"Makam mamih dan adikku" jawab Rendra menatap Fatimah
"Ayo" sahut Fatimah singkat
__ADS_1
"Setelah itu kita ke makam Sidiq ya" ucap Rendra
"Untuk apa?" tanya Fatimah kaget
"Memangnya kamu tidak kangen dengan Sidiq" jawab Rendra memancing
"Langsung ke inti pembicaraan saja, kamu mau bilang apa?" tanya balik Fatimah
"Kita istirahat ya, selamat malam" jawab Rendra merebahkan tubuhnya
Pagi hari mereka semua sarapan bersama berteman keheningan yang ada. Dito pamit pada kedua orangtuanya, dia tidak memakai mobil baru, tetapi dia memakai motor yang pernah dibelikan oleh Rendra.
Hari ini juga Rivan tidak banyak bicara, dia masih takut dengan bundanya.
"Assalamualaikum" ucap Ramli
"Wa'alaikumsalam" jawab mereka
"Kakek Lamli" ucap Rivan berlari ke arah Ramli
"Apa kabar boy, gimana puma dan pumi nakal tidak" sahut Ramli menggendong Rivan
"Hai om" ucap Rendra menyalami Ramli begitu juga dengan Fatimah
"Rivan, kakek Ramli nya baru datang, masa sudah minta gendong" ucap Rendra lagi
"Tidak apa-apa, om ke sini hanya ingin menjenguk puma dan pumi yang sudah diambil alih oleh Rivan si tampan ini" jawab Ramli mencium Rivan
"Ayo kita ke kandang puma dan pumi" ajak Rivan senang
Fatimah masih tidak banyak berkomentar, entah pernikahan apa yang dijalankan bersama Rendra.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
__ADS_1
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.