
"Ayah, bobo lagi?" tanya Fatimah meletakan gelas jahe di meja dan memegang wajah suaminya
"Tidak" jawab Rendra pelan
"Ayah demam ini, kebiasaan deh, selalu ditutupi kalau sedang sakit" ucap Fatimah mengambil waslap dan air untuk menurunkan demam suaminya secara tradisional sebelum minum obat, tidak lupa juga Fatimah memberikan air jahe yang telah dia buat untuk suaminya.
"Tadi tidak demam bun" elak Rendra
"Mau dibuatin sesuatu tidak?" tanya Fatimah
"Hanya mau istirahat saja" jawab Rendra pelan dan memejamkan matanya
"Rencana ayah mau pindah kapan?" tanya Fatimah memulai pembicaraan lebih dulu sambil memijat tubuh Rendra yang terasa keras
"Pindah? pindah kemana? jawab Rendra bingung
"Kemarin ayah bilang mau pindah lagi kerumah ayah, cepat sekali lupa ingatan" ucap Fatimah
"Bunda setuju dan yakin?" sahut Rendra balik tanya ke Fatimah
"Iya bunda sudah yakin" jawab Fatimah
"Maunya secepatnya, semoga setelah kita pindah kesana tidak ada masalah berat dalam rumah tangga kita" ucap Rendra
"Aamiin, namanya rumah tangga pasti ada aja kerikil-kerikil kecil, tapi bagaimana cara kita mengatasinya, saling terbuka dan jujur hanya itu intinya" jawab Fatimah
"Bulan depan saja ya pindahnya, ayah masih mencari dokter untuk di klinik dan apotik, supaya anak-anak tidak ada kesalahan saat memberikan obat pada pembeli" ucap Rendra
"Setuju saja, apotik kan sangat sensitif salah sedikit nyawa orang taruhannya" jawab Fatimah
Dari dalam kamar terdengar suara menangis, Rendra dan Fatimah hanya saling pandang.
Hikss.... Hikss... Hikss
"Bunda" panggil Rivan sambil menangis di gendong Kyai Bahri
Brakk ... suara dorongan pintu dengan keras
"Bunda, hikss.. hikss" panggil Rivan merentangkan tangannya
"Assalamualaikum" ucap Kyai Bahri
"Wa'alaikumsalam, Rivan kenapa?" jawab Fatimah
"Kaka itu, hikss...hikss... jahat dolong Lipan" sahut Rivan
"Kaka siapa sayang" ucap Fatimah menggendong Rivan
"Tadi dia lari-lari, salah satu santri ada yang nangkap tikus dan jahil ke santri lain bukan ke Rivan, tapi Rivan ikutan lari, jatuh deh" jawab Kyai Bahri tersenyum mengelus kepala Rivan
"Sakit bunda" sahut Rivan dengan manja
"Ayah balik lagi ke pondok ya, belum selesai keburu Rivan nangis, Assalamualaikum" ucap Kyai Bahri
"Wa'alaikumsalam, makasih ya ayah" jawab Fatimah menutup pintu kamarnya
"Rivan laki-laki, masa jatuh sedikit aja nangis" ucap Rendra
"Lipan nangis kalena sakit ayah, ayah nakal" jawab Rivan kesal
"Sudah ah, ayah bobo lagi saja, Rivan biar aku yang jagain" sahut Fatimah
__ADS_1
"Ada Rivan, bunda berhenti mijitin ayah" timpal Rendra kembali memejamkan matanya
"Habis ini di pijat lagi, nunggu Rivan tenang sebentar" jawab Fatimah
"Mana kasih izin sama anak itu, pasti di larang deh" ucap Rendra dongkol
"Sama anak tidak boleh begitu" jawab Fatimah
"Kaki Lipan sakit bunda" sahut Rivan memegang kakinya yang diselonjorkan
"Manja banget" gerutu Rendra, Fatimah hanya menggelengkan kepala melihat tingkah suami dan anaknya
"Sini bunda obati kakinya" ucap Fatimah mengoleskan minyak ke kaki Rivan
"Bunda, nenek mana? katanya mau jagain bunda" tanya Rivan
"Nenek baru aja pulang, ada tamu dirumah" jawab Fatimah tersenyum
"Ayah nakal tidak sama bunda, ayah culik bunda tidak" tanya Rivan lagi
"Memang ayahmu ini tukang culik" gerutu Rendra mendengar anaknya bicara
"Tidak sayang, ayah jagain bunda disini" ucap Fatimah
"Bunda gendong" sahut Rivan
"Mau kemana di gendong, kita disini saja ayah lagi sakit, temani ayah dan pijatin ayah" ucap Fatimah dengan suara lembutnya
"Lipan juga sakit, ayah sudah besal kalau Lipan masih kecil bunda" jawab Rivan tidak mau di dalam kamar
"Sama saja, namanya lagi sakit harus istirahat di kamar, Rivan juga bobo tuh seperti ayah" ucap Fatimah mengelus wajah Rivan membersihkan sisa-sisa airmata
"Ini masih luas, kamu bobo saja disini" jawab Rendra menepuk kasur kosong
"Lipan mau bobo sama bunda ayah" ucap Rivan
"Ayah juga mau bobo sama bunda, Rivan" sahut Rendra tidak mau mengalah
Rivan mendorong tubuh Rendra agar menjauh dari bundanya dengan sekuat tenaga.
"Rivan bobo sini sama bunda" ucap Fatimah memberikan bantal pada Rivan
"Lipan mau dipeluk bunda, ayah lepasin tangan ayah dali bunda Lipan" sahut Rivan dengan wajah memerah ingin menangis kembali
"Sama, ayah juga mau dipeluk bunda" jawab Rendra seperti anak kecil
Huaa..... hua..... hua... suara tangis Rivan menggelegar di dalam kamar
"Astaghfirullah, begitu saja nangis" ucap Rendra
"Sudah sayang jangan nangis lagi, bunda akan selalu temani Rivan bobo ya" sahut Fatimah menggendong Rivan memberikan ketenangan
"Bocil aneh" gerutu Rendra
"Mengalahkan sama anak sekali aja, susah banget" ucap Fatimah kesal
"Setiap hari mengalah bunda ku sayang" jawab Rendra
"Ini kan anak sendiri, masa mau perebutan terus dengan Rivan" ucap Fatimah
Fatimah mendiamkan Rivan, meminta Rendra bergeser tidurnya, Rivan selalu ingin tidur di tengah, alasannya supaya sang bunda tidak ada yang memeluk selain Rivan.
__ADS_1
"Egois sekali bocil satu ini" ucap Rendra pelan
"Ayahnya juga egois, tidak mau mengalah" sahut Fatimah
"Bunda, Lipan mau syusu" ucap Rivan mengucek matanya
"Tunggu disini berdua ayah ya, bunda buat dulu" jawab Fatimah meninggalkan 2R
"Rivan, Rivan mau pindah rumah tidak" ucap Rendra menoel punggung Rivan
Rivan pun menoleh ke arah ayahnya.
"Pindah lumah kemana?" tanya Rivan
"Rumahnya lebih besar, lebih bagus dan ada kolam renangnya" jawab Rendra semangat
"Lumah siapa?" tanya Rivan membuat Rendra males bercerita lagi kebanyakan bertanya
"Rumah ayah dan bunda, kalau Rivan mau kita pindah ke sana nanti, setiap hari Rivan bisa berenang dan bermain, disana juga ada tamannya" jawab Rendra sabar
"Oh" ucap Rivan
Apa maksudnya 'oh' doang. batin Rendra
"Mau pindah tidak?" tanya Rendra mulai kesal pada anaknya
"Rame tidak seperti disini ada pondok?" tanya balik Rivan, Rendra mulai jengah
"Disana tidak ada pondok, hanya rumah saja, tapi bagus, tunggu ayah punya fotonya" jawab Rendra mengambil hp lalu mencari foto-foto rumah saat mereka tinggal disana
"Ini fotonya" ucap Rendra memperlihatkan ponsel pada Rivan
"Kak Ayu dan bang Dito di lumah siapa itu, ada bunda juga" sahut Rivan memegang ponsel Rendra dan menggeser-geser layar
"Itu rumah kita, dulu saat Rivan di dalam perut bunda, hingga Rivan lahir tinggal disana, terus pindah deh kesini" ucap Rendra tersenyum
"Wow, ada pelosotan dan ayun-ayun" sahut Rivan dengan mata berbinar terpukau dengan taman bermain
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Beda Usia, Tidak Masalah" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Kesetiaan Cinta Yusuf ππΌππποΈ
Kedua cerita ini masih saling menyambung ya jadi harus baca terlebih dahulu yang nomor 1.
__ADS_1