
Gerry tersentak dari lelap sejenak nya yang tidak lebih dari 1 jam lamanya, Sejenak Gerry mencoba mencari sosok sang istri yang tidak ada di samping nya, saat bola matanya mencari ke sekeliling sejenak Gerry menaikkan Senyuman nya, rupanya Emilia tengah berdiri di sisi pagar beranda kamar apartemen mereka, sang istri mencoba memejamkan bola matanya sambil menghirup udara malam yang cukup dingin.
Gerry secara perlahan meraih selimut diatas kasur lantas langsung berjalan mendekati Emilia, meletakkan selimut itu ke tubuh Emilia.
Emilia tersentak kaget saat tiba-tiba Gerry menyelimuti tubuh nya.
"Cuacanya cukup dingin"
Bisik Gerry sambil memeluk erat tubuh Emilia.
Sang istri tampak menyandarkan kepalanya di dada bidang Gerry.
"Maafkan aku"
Ucap Emilia pelan.
"Untuk apa?"
Gerry bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Karena aku belum juga bisa memenuhi kewajiban ku"
Sesal Emilia sambil menoleh ke arah samping.
Gerry semakin mempererat pelukannya, dia menatap wajah Emilia begitu dalam.
"Aku tidak pernah begitu mempermasalahkan"
Jawab Gerry cepat.
__ADS_1
"Bukankah kita telah sepakat untuk membuat kamu nyaman lebih dulu hmm?"
Emilia tampak diam.
"Apa sebaiknya aku ikut terapi untuk menekan seluruh ingatan ku?"
Tanya Emilia tiba-tiba.
Sejenak Gerry Tampak diam.
"Kita coba menemui seorang dokter yang tepat, aku akan mencari dokter terbaik nya lebih dulu agar bisa membuat kamu nyaman melakukan konsultasi"
Ucap gerry cepat.
"Hmm"
Malam ini Dokter Dekan tiba-tiba menghubungi diri nya dan meminta mereka bertemu secepat nya, dia bilang ingin membahas soal kejadian 7 tahun yang lalu, soal Elis dan gadis yang tidur bersama dirinya juga soal kecelakaan 2 tahun yang lalu.
Sebenarnya meninggalkan Emilia jelas membuat Gerry harap-harap cemas takut sesuatu yang buruk terjadi pada sang istri, tapi membawa Emilia kemanapun dirinya pergi jelas akan menjadi resiko yang buruk, dia takut Emilia terlalu dini untuk.mengetahui soal banyak hal.
"Besok aku akan mengantarmu ke kediaman Alicia dan ertan, ada yang harus aku dan Jerry lakukan"
Ucap Gerry lembut di Balik Telinga Emilia.
"Benarkah? aku cukup merindukan Ertan"
Emilia bicara dengan perasaan yang tidak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata, tidak tahu kenapa dia begitu menyukai anak laki-laki itu, setiap kali bicara dengan Ertan rasanya begitu membuat dirinya bahagia, seolah-olah Ertan adalah sesuatu yang begitu bernilai besar di hati nya, yang tiap kali Emilia menatap bola mata nya dia merasa jika ada diri nya didalam sana.
Gerry tampak menatap ekspresi Emilia yang begitu bahagia, seolah-olah perempuan itu memang benar-benar berharap bisa bertemu dengan Ertan secepatnya.
__ADS_1
"He em, kalian bisa bercerita soal banyak hal selama bersama"
Mendengar jawaban gerry tentu saja membuat Emilia tampak senang.
"Apa kamu menyukai Ertan?"
Tanya Gerry kemudian ke arah nya, tangan Gerry tampak berberapa kali mengelus lembut tangan Emilia.
"Tidak tahu kenapa, tapi aku merasa seolah-olah punya ikatan batin dengan nya, ada banyak persamaan di antara kami yang begitu tampak dengan jelas"
Jawab Emilia cepat.
"Jika seandainya kita membawa nya pulang, apa kamu menyukainya?"
Tanya Gerry secara perlahan, laki-laki itu mencoba menatap dalam wajah Emilia dari arah samping.
Sejenak Emilia diam, perempuan itu menoleh sejenak ke arah Gerry.
"Apakah boleh?"
Tanya Emilia cepat .
"Jika kamu menginginkan nya, tentu saja"
Gerry menjawab dengan penuh keyakinan.
Seketika senyuman emilia mengembang sempurna, dia mengangguk cepat.
"Aku tidak keberatan, kita bisa merawat nya dengan begitu baik"
__ADS_1