Belenggu Hasrat Kakak Ipar

Belenggu Hasrat Kakak Ipar
Pertemuan pertama yang terasa tidak asing


__ADS_3

Emilia terus berusaha lari sejauh mungkin dari tempat yang lebih tepatnya disebut sebuah neraka itu, tanpa alas kaki dan dengan penampilan yang cukup acak-acakan.


Dia berlarian melewati semua orang, tidak peduli entah ada berapa ratus pasangan mata yang memandang, bagi nya yang paling penting keluar lebih dulu dari dalam lingkaran setan.


Terik matahari jelas menyilaukan matanya, dia tahu pelarian paling tepat itu di siang hari, sebab jika disaat siang hari dia bisa dengan mudah berbaur dengan banyak orang, sedangkan melarikan diri di malam hari sama dengan dia mencari mati.


Tapi yang menjadi pertanyaan konyol nya saat ini, kemana arah larinya? dengan uang beberapa dolar, sebuah handphone dan tanpa apapun di tangannya.


Apa aku harus pura-pura menjadi pengemis?


ucap Emilia dalam hati.


Pelarian panjang membawa diri nya menuju ke arah stasiun bawah tanah, Emilia terus berlarian mencoba untuk membeli tiket kemanapun asalkan menjauh dari neraka itu.


Dia fikir dimana tempat teman-teman lama nya dulu? masih ada kah teman-teman nya dimasa lalu? atau sudah berpindah semua ketempat yang tidak dia ketahui.


Meskipun banyak pasang mata yang menatap aneh dan risih dengan penampilan Emilia, gadis itu masih terus menyeret langkahnya untuk menyeruak masuk di antara para penumpang yang padat didalam kereta listrik bawah tanah itu, dengan tangan gemetaran Emilia mencoba untuk menghubungi seseorang dengan handphone nya.


Tapi lagi-lagi gagal.


Kemana? kemana?


dia fikir kemana teman nya itu, sudah 2 hari dia mencoba menghubungi temannya itu tapi sama sekali tidak dapat tersambung kan.


Keberuntungan Emilia, dia cukup pandai menggunakan bahasa Prancis, hingga tidak menimbulkan kecurigaan bagi semua orang.

__ADS_1


Emilia tahu Lincoln jelas orang berkuasa, dia bisa saja melacak keberadaan dirinya setelah ini, karena itu Emilia fikir dia butuh seseorang yang bisa membantu dirinya.


Saat kereta berhenti ke sebuah stasiun yang Emilia tuju, dia secepat kilat turun dan berlarian dari sana, menuju ke arah tangga, mulai naik ke atas untuk mencari jalan keluar.


Entah sudah berapa jam Emilia Seperti ini, memutar mencari jalan yang sesungguhnya tanpa tujuan, hingga matahari terlihat mulai terbenam dengan sempurna.


Hingga akhirnya Emilia mencoba mencari sebuah taxi di hadapannya, melambaikan tangan nya dengan gerakan cepat.


Beberapa mobil melewati dirinya hingga Sebuah mobil taxi dengan cepat berhenti dihadapan Emilia, sang supir tampak melirik dan bertanya.


"Kemana nona?"


Emilia tidak langsung menjawab, langsung masuk dengan tergesa-gesa dari sisi kanan mobil itu.


Tapi rupa-rupa nya seorang laki-laki ikut masuk secara bersamaan dengan Emilia dari arah kiri nya,mereka saling bertemu muka saat sudah berada di posisi duduk masing-masing.


"Suami istri tuan dan nona?"


"No"


"Yes"


Emilia dan laki-laki itu menjawab secara bersamaan.


Laki-laki itu mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Tuan saya butuh bantuan anda"


Tiba-tiba Emilia bicara pada laki-laki disampingnya itu.


Dia fikir mungkin Tuhan sedang mengirimkan dia seorang penyelamat, bagaimana mungkin semua hanya sekedar kebetulan saja saat ini.


"Bantu antarkan saya ke alamat ini"


Emilia menyerah secarik kertas ke arah laki-laki itu.


Laki-laki itu tampak mencoba membacanya, kemudian menoleh kearah sopir itu, menyebutkan alamat yang dimaksud Emilia.


"Terima kasih banyak"


Emilia berkata sambil membungkukkan kepalanya.


"Tuan...?"


Dia menggantung kalimat nya, tidak tahu siapa nama laki-laki itu.


"Gerry Lyn, kau bisa memanggil nama ku Gerry "


Emilia mengangguk kan cepat kepalanya.


Gerry Lincoln dengan cepat melirik ke arah sopir didepan nya, seakan-akan berkata.

__ADS_1


Kau melakukan tugas mu dengan begitu baik.


__ADS_2