Belenggu Hasrat Kakak Ipar

Belenggu Hasrat Kakak Ipar
Kenangan Buruk


__ADS_3

Begitu pesawat yang Emilia Naiki mendarat dengan sempurna , dia tidak mendapati Lincoln dan adiknya Alicia, sang asisten menggiring Emilia hingga menuju ke mobil jemputan mereka lantas meninggalkan dirinya.


Selama diperjalanan jelas saja Emilia bertanya-tanya ke mana ke dua orang itu? pergi lebih dulu kah? tapi kenapa cepat sekali?


Emilia menghembuskan nafasnya pelan, perlahan dia membuka kaca jendela mobil nya, mengeluarkan secara perlahan tangan indah nya sambil mencoba mengingat-ingat.


Kapan terakhir kali dia berada di Paris?lebih dari 7 tahun yang lalu.


Hingga kejadian tragis menimpa dirinya, dia dijebak hingga tidur dengan laki-laki yang sama sekali tidak dia kenal bahkan tidak pernah dia lihat wajahnya, itulah pertama kali dia kehilangan harga dirinya. Di tawan dan disekap olah seorang laki-laki dan perempuan lainnya di ruangan serba putih dengan banyak dokter di sekitar nya, hingga memaksa diri nya melakukan proses yang tidak pernah dia tahu apa.


Hingga saat terbangun satu pagi, dia sudah berada di apartemen nya dengan keadaan bingung dan cukup linglung, ingin sekali dia melaporkan kejadian itu pada orang-orang tapi dia sama sekali tidak memiliki bukti apapun.


Kejadian saat itu menjadi kenangan paling buruk dalam hidupnya, bahkan dia mengalami trauma cukup panjang dan sulit beradaptasi untuk waktu yang begitu lama terhadap orang-orang disekitarnya, bahkan dia kembali ke Indonesia dengan membawa jutaan luka.


Orang tua nya bingung harus melaporkan kasus itu kemana, karena itu mereka memilih menutup kisah itu selama bertahun-tahun lamanya.

__ADS_1


sesekali Bola mata Emilia terus menatap kerlap-kerlip lampu kota Paris, dia fikir ini sudah cukup hampir waktu nya pagi, mengingat mereka berangkat dari Indonesia pagi kemarin setelah sarapan pagi


Saat mobil yang dia Naiki mulai memasuki sebuah halaman luas yang ada dihadapan nya, Emilia langsung menghembuskan kasar nafasnya. Tampak sebuah mansion mewah yang terletak di jantung kota Prancis itu. Langkah kaki nya terasa begitu berat ketika masuk kedalam mansion itu,satu pelayan menyambut kedatangan nya langsung meraih tas miliknya.


"Anda bisa memilih kamar mana yang anda sukai nona"


Pelayan itu berkata sambil meminta Emilia untuk memilih sendiri kamar mana yang akan dia tempati.


Emilia hanya enggan memilih, dia fikir yang mana pun saat ini bukan persoalan pelik.


Ucap Emilia cepat.


Wanita paruh baya itu mengangguk pelan,mulai berjalan perlahan menuju ke salah satu kamar yang ada di mansion itu, wanita itu menunjukkan satu kamar berukuran besar pada Emilia, mempersilahkan perempuan itu masuk ke dalam kamarnya kemudian meletakkan barang-barang miliknya.


"Jika ada sesuatu yang nona butuhkan, nona bisa memanggil saya menggunakan tombol ini"

__ADS_1


ucap wanita itu sambil menunjukkan tombol merah di sisi ranjang di mana Emilia baru sana menduduki pantat nya.


"He em"


Emilia mengangguk pelan.


Wanita itu secara perlahan keluar kemudian langsung menutup pintu kamar Emilia.


Yah meskipun pernikahan mereka tidak jelas, bahkan Lincoln membenci nya bahkan ibu mertua yang menatap nya tidak suka pada nya, minimal dia diberikan tempat yang layak untuk dia tinggali selayak nya tempat manusia, artinya masih ada sisi baik yang dia terima.


Emilia kembali mencoba meraih handphone nya, menghidupkan handphone miliknya yang seharian dia matikan selama di perjalanan.


Tampak beberapa pesan masuk yang dia terima di balik layar handphone nya itu, hingga satu pesan muncul di layar handphone dari nomor baru yang begitu dia kenal.


Apa kau sudah tiba di paris sayang?

__ADS_1


Mari bertemu jika ada waktu, kau akan terkejut mendengar kenyataan soal 7 tahun yang lalu dan bocah kecil di peristiwa 2 tahun yang lalu.


__ADS_2