
Seketika semua orang menyusuri kota Paris, tiap sudut jalanan bahkan sisi manapun yang dapat semua orang telisik dan mencari, semua tahu gadis itu tidak mungkin pergi begitu jauh, Dia hanya kehilangan arah.
Setelah meninggalkan gadis yang mengikuti diri nya di mansion Emre langsung melesat pergi, berkali-kali dia memukul stir mobil nya sambil terus ikut menyusuri jalanan, bola mata nya terus mencari sosok gadis itu di setiap tempat.
Ingatan nya saat terakhir dia bicara pada Elis kemarin membuat dia berfikir ingatan gadis itu lagi-lagi bagaikan rollercoaster, bisa datang tiba-tiba, bisa menghilang sesuka hatinya.
"Aku fikir aku meninggalkan Lincoln di rumah, dia belum sarapan pagi ini, apa sebaiknya aku pulang saja?"
"Aku sering lupa dengan apa yang aku lakukan, Seperti nya aku melepaskan lagi genggaman tangan ku dari nya"
"Elis?"
"Aku fikir... Emre.. aku sedikit bingung dimana kamar ku?"
Gadis itu berjalan Kesana-kemari dengan perasaan bingung, mencoba mengingat-ingat jalan mana yang harus dia lalui.
"Dimana kamar ku, Emre? dimana kamar ku? kenapa bahkan Aku tidak tahu dimana kamar ku?"
Elis mulai menangis dalam diam, mencoba menyusuri tiap ruangan, berjalan dengan perasaan bingung sambil memegang kening nya.
"Dimana tempat nya? dimana tempat nya?"
__ADS_1
"Elis"
Emre Berusaha meraih tangan Elis, mencoba mengangkat tubuh gadis itu tapi gagal.
"Lepaskan alu, lepaskan aku, aku tahu dimana jalan nya"
Elis berusaha memberontak, berjalan ke arah belakang.
"Aku pasti bisa mengingat jalan nya, aku baru saja keluar dari sana, aku tidak butuh semua kertas-kertas pengingat ini, singkirkan dari hadapan ku, singkirkan semua nya dari hadapan ku....."
Jerit Elis histeris,dia melepaskan semua kertas yang ada di seluruh dinding yang ditempelkan di sepanjang rumah.
Emre fikir Berapa lama elis berkutat dengan penyakit ini? bertahun-tahun lamanya, Elis bahkan semakin sulit mengingat sesuatu, beberapa kata kadang sulit dia ucapkan, bahkan dia mulai lupa dengan hal-hal penting dalam hidupnya, kadang dia ingat tiba-tiba, lalu kembali lupa.
Penyakit paling di benci semua orang.
Awalnya mereka fikir mungkin Elis hanya lupa meletakkan sesuatu, namun lama-kelamaan gadis itu sering mengalami kebingungan dan penurunan kemampuan dalam mengingat, bahkan dia lupa tanggal lahir nya sendiri, bahkan dia lupa jika dia barusan saja sudah makan atau bahkan mandi
Hari pernikahan Elis saat itu dengan Lincoln sudah semakin dekat, tapi bahkan gadis itu bisa lupa dengan jadwal pernikahan nya sendiri.
Lincoln fikir mereka butuh pengobatan atau bahkan terapi, seiring waktu penyakit itu akan sembuh dengan perlahan, namun rupanya semakin lama semakin menjadi parah.
__ADS_1
Hingga satu hari bencana buruk terjadi.
"Akhhhhh"
Emre meneriaki ketidak mampuan dirinya menjaga gadis itu, seharusnya kejadian sebelum pernikahan itu tidak terjadi.
"seketika bola mata Emre menangkap sosok seseorang di jalanan di antara kerumunan orang, dengan gerakan cepat Emre menepikan mobilnya, berusaha mengejar langkah gadis yang dia lihat itu.
"Elis...Elis .."
Emre terus berlarian mengejar langkah gadis itu, hingga akhirnya tangan Emre berhasil meraih tubuh ringkih itu.
"Elis"
Gadis itu menoleh, saat mendapati sosok orang yang dia cari secepat kilat dia memeluk Emre.
"Aku ingin pulang, aku ingin pulang, aku bingung dimana jalan pulang"
Seketika Elis berusaha menyentuh tangan Emre.
"Aku mencoba mengatakan alamat kita, tapi aku tidak bisa mengingatnya, dia tidak ingin keluar dari mulut ku, mereka fikir aku sudah gila"
__ADS_1
Air mata Elis langsung tumpah ruah, sepersekian detik kemudian dia langsung memeluk Emre dengan sekuat tenaga nya.
"Maafkan aku karena lagi-lagi lengah menjaga mu"