Belenggu Hasrat Kakak Ipar

Belenggu Hasrat Kakak Ipar
Istri Tuan Lincoln


__ADS_3

Sebuah benturan keras menghantam lutut Alicia sebelum mereka keluar dari kediaman MC Juan, cukup sakit hingga membuat dia meringis. Dengan bersusah payah Alicia mencoba berjalan ke arah depan.


Lincoln yang melihat itu sejenak mematung sepersekian detik kemudian dengan gerakan cepat meraih tubuh Alicia.


"Apa yang kau lakukan?"


Pekik Alicia dengan perasaan terkejut saat tahu-tahu Lincoln menggendong tubuh nya.


"Bisakah kau turunkan oktaf suara mu baby?"


Lincoln bicara dengan kening berkerut, jelas saja dia cukup kesal melihat ekspresi Alicia saat ini.


"Kaki mu sakit bukan?"


Dia terus menggendong Alicia, berjalan ke arah depan.


Alicia tampak diam, mencoba mengeratkan pegangannya di leher Lincoln. Dia fikir laki-laki ini begitu sulit ditebak, kadang begitu dingin, kadang menjadi baik, kadangkala begitu hangat kadang begitu kasar, Dia cukup bingung menebak-nebak karakter yang mana yang sebenarnya di miliki laki-laki ini sejak kemarin.


Dimana kak Emilia?


Alicia jelas saja mengerutkan dahinya, cukup takut jika kakak nya bakal salah paham pada nya


"Kakak mu sudah pergi lebih dulu"


Lincoln bicara seolah-olah tahu apa yang Alicia fikirkan, lantas dengan lembut meletakkan tubuh itu ke dalam mobil, kemudian Lincoln langsung duduk di sebelah Alicia.


Ini adalah waktu nya mereka pulang ke Paris, Lincoln sudah membuat perencanaan nya sejak kemarin, suka tidak suka mereka pada akhirnya kembali bersama.


Saat masuk ke pesawat jet pribadi milik Lincoln, sang kakak langsung ditempatkan di kamar badan pesawat, sedangkan dia di tempat kan di sisi belakang pesawat, terlalu mewah untuk ukuran keluarga mereka, bagi Alicia, Lincoln benar-benar laki-laki kaya raya.

__ADS_1


Dia cukup senang sebab dia fikir dia akan tinggal sendirian di kamar itu, sedangkan Lincoln akan berada di kamar sang kakak, tapi rupanya harapan tidak lah sesuai dengan realita, Lincoln terus berada di samping nya, benar-benar membelenggu dirinya.


Lincoln jelas selalu memerintahkan kakak nya tanpa perasaan, dengan suara berat dan mata yang menatap nya tajam, meminta sang kakak masuk ke ruangan nya dan sama sekali tidak memperdulikan nya. Dan yang Alicia heran, sang kakak hanya menurut dengan raut wajah yang Sulit untuk di tebak.


"Lepaskan aku"


Alicia menepis kasar tangan Lincoln setelah mereka masuk ke dalam ruangan kamar mereka,dengan rasa enggan dia duduk di atas kasur itu.


Alih-alih mendengarkan Alicia, Lincoln dengan cepat menaikkan tubuh Alicia me atas kasur, memaksa melepas celana nya, jelas saja dia terkejut bukan main.


Apa lagi? jangan bilang laki-laki itu ingin meniduri nya lagi.


"Kak?"


Alicia jelas saja berteriak histeris, mencoba untuk melepaskan diri dari laki-laki itu.


Bentak Lincoln.


"Lepaskan aku"


Lincoln seolah tidak mau mendengar kan teriakan alicia, dengan cepat menarik kaki kirinya.


"Apa masih begitu sakit?"


Tanya nya pelan sambil mengelus lutut Alicia.


"Ya?"


"Tunggu sebentar"

__ADS_1


Rupanya lagi-lagi dia salah, Lincoln sama sekali tidak ingin menyentuh nya, hanya ingin melihat memar dikaki nya kemudian mengobati nya.


Seketika wajah Alicia memerah karena malu.


"Ini sedikit membiru, kita akan memeriksa nya setelah tiba di Paris"


Ucap Lincoln pelan, menatap dalam bola mata Alicia.


Seketika terdengar ketukan dari arah depan, Dengan gerakan cepat Lincoln menutupi tubuh Alicia dengan selimut.


"Masuk"


Beberapa pramugari pribadi tampak membawa kan mereka beberapa makanan dan minuman.


"Ini minuman untuk menghindari pengar untuk istri anda tuan Lincoln"


Salah satu pramugari pribadi berkata sambil meletakkan minuman hangat di atas meja kecil di depan kasur mereka.


Apa? Istri?


jelas saja Alicia mengerutkan dahinya,menatap Lincoln dengan penuh kebingungan.


"Apa ada permintaan lain untuk istri anda tuan?"


"Aku akan memanggil jika istri ku punya permintaan lain"


"Baik tuan"


Tunggu dulu, bagaimana maksudnya ini?

__ADS_1


__ADS_2