Belenggu Hasrat Kakak Ipar

Belenggu Hasrat Kakak Ipar
Sedikit memanas


__ADS_3

Seketika Suli membulatkan bola matanya saat desas-desus terdengar manaf masih hidup dan akan datang ke pesta pernikahan Emre.


"Kau dengar apa kata mereka? laki-laki itu masih hidup"


Teriak Suli ke arah Anwar dengan perasaan menggebu-gebu.


"Itu tidak mungkin, laki-laki itu sudah meninggal sejak waktu yang sangat lama, aku sendiri yang ikut membawa manyat nya ke liang lahat"


Anwar jelas menyakinkan diri, jika hari itu dia yang ikut mempopong manyat Manaf, memasukkan nya kedalam peti mati, bahkan ikut menguburkan nya, bagaimana mungkin laki-laki itu bisa hidup kembali Fikir nya.


"Aku tidak peduli,Pastikan dengan mata kepala mu sendiri dia masih hidup atau mati , datang dan pastikan langsung"


Teriak Suli penuh amarah.


"Apa kamu berani memerintah ku sekarang huh?"


Anwar merasa cukup gerah dengan ocehan Suli yang seolah-olah terus menyalahkan dirinya sejak tadi, kaki itu bergerak mendekati Suli, bola matanya jelas seakan-akan bakal keluar saat ini juga.


"Aku paling benci di perintah seperti ini, kau sudah mulai berani melunjak dan sudah mulai mencoba memerintah ku sekarang? ingat aku bukan dekan, jadi jangan seenak hati mu untuk dapat memerintah ku atau mengendalikan ku SE enak hati mu huh"

__ADS_1


Suli jelas mendengus, cukup tidak percaya Anwar cukup berani bicara kasar padanya saat ini.


"Saat hari pernikahan Emre tiba, Pastikan kau juga ikut andil melihat dengan mata dan kepala mu sendiri, jika dia memang masih hidup maka pastikanl lebih dulu dia memang Manaf atau orang lain yang memang kebetulan mirip, jika iya itu Manaf berikut nya pastikan lebih dulu dia mengingat kita atau tidak"


"Apa ini perintah?"


Suli melotot tidak percaya.


"Terdengar bagaimana?apa kamu fikir setiap kali aku bicara seperti sebuah perintah?"


"Tentu saja, kamu sudah cukup berani mengatur ku saat ini,hanya karena kita sudah tidur bersama,tapi bukan berarti kamu bisa mengatur ku sesuka hati mu"


"Suli, berhenti berfikiran macam-macam, aku tidak sedang memerintah mu, ini kerjasama untuk memastikan apakah Manaf hidup kembali atau tidak, jangan membuat ku mulai kehilangan kendali atas diri mu"


Setelah berkata begitu, Anwar dengan gerakan kasar bergerak menjauhi Suli lantas keluar dari sana lantas menutup pintu kamar tersebut dengan suara yang cukup keras.


Suli dengan perasaan kesal menatap barang-barang seisi kamar nya, dalam hitungan detik tangan nya mulai menerjang seluruh barang di atas kamarnya hingga membuat seluruh barang-barang itu berhamburan hancur berkeping karena nya.


"Akkkhhhhhh"

__ADS_1


Teriak nya penuh kemarahan.


Beberapa kali Suli mondar-mandir dalam keadaan tidak jelas, dia meraup kasar rambutnya lantas tiba-tiba dengan tangan gemetaran wanita itu membuka kasar laci rias nya, mencari sesuatu disana untuk beberapa waktu.


Tampak sebuah botol obat mendominasi berwarna putih di raih nya dari sana, dengan gerakan cepat Suli mulai menuangkan isi nya, mendapatkan beberapa obat lantas meminum nya dengan cepat.


Sepersekian detik kemudian Suli buru-buru mencari handphone nya, dia mencoba menghubungi seseorang dengan gerakan cepat.


Menunggu beberapa waktu hingga panggilan nya tersambung.


"Halo"


Suli bicara dengan nada terburu-buru.


"Dimana kamu?"


Dia bertanya dengan nada tidak beraturan.


"Aku akan kesana dalam waktu 30 menit"

__ADS_1


Setelah berkata begitu, wanita itu dengan cepat menutup panggilan nya, menyambar tas dan kunci mobil milik nya lantas segera berlalu dari sana.


__ADS_2