Belenggu Hasrat Kakak Ipar

Belenggu Hasrat Kakak Ipar
Sedikit panik


__ADS_3

"Tuan tidak ikut makan?"


Emilia bertanya pada Gerry Lincoln, laki-laki itu menyiapkan banyak sekali makan malam untuk dirinya, entah ada berapa menu yang dihidangkan laki-laki itu di atas mejanya,tapi Gerry jelas sama sekali tidak menyentuh nya.


Laki-laki itu tampak bersandar di kursi sofa sambil memejamkan bola matanya, sejak awal bertemu Emilia fikir ada yang salah dengan laki-laki itu, wajah nya terlihat sedikit pucat.


"Aku butuh istirahat, jika kamu sudah makan, kamu bisa langsung pergi istirahat"


"Ya?"


Emilia fikir apakah laki-laki itu benar-benar akan tidur di sofa? sedangkan dia tidur di atas kasur yang terlalu nyaman untuk nya.


Gerry tampak Langsung bergerak masuk ke kamar kemudian secepat kilat menghempaskan tubuhnya ke kursi sofa.



Emilia hanya diam saja, menghabiskan sisa makan malam nya, setelah itu dia memberes kan semua sisa makanan lantas merapikan meja yang ada dihadapannya itu.


Secara perlahan Emilia mulai masuk ke dalam kamar, memperhatikan dengan baik-baik di seluruh wilayah kamar itu, dia fikir dari tempat tidur nya laki-laki itu terlihat jelas merupakan type penyendiri, enggan berbaur dengan orang lain dan sedikit penuh banyak rahasia, Tampak tertutup dan sulit mengungkapkan apa yang ada di dalam hati nya.


"Tuan"

__ADS_1


Emilia mencoba untuk bicara dengan Gerry, dia fikir sebaiknya dia yang tidur di sofa dan laki-laki itu yang tidur di atas kasur.


Emilia fikir kursi sofa nya terlihat cukup nyaman dan baik.


Gerry tampak tidak bergeming saat Emilia memanggil nya, sejenak Emilia memperhatikan wajah Gerry, bibir laki-laki itu tampak sedikit pucat.


"Tuan?"


Emilia mencoba menyentuh Gerry.


Seketika bola mata Emilia membulat, tubuh laki-laki itu begitu panas.


"Tuan Gerry?"


Ertan


Emilia fikir apa kah yang dia sebut salah satu keluarga nya?


kemudian Gerry menyebut kata


Mom

__ADS_1


Emilia fikir seandainya dia tahu bagaimana.cara meng kontak keluarga laki-laki itu.


Pada akhirnya laki-laki itu tampak setengah tidak sadarkan diri,Emilia jelas mulai panik, dia bingung harus melakukan apa, dia fikir dalam seumur hidupnya dia sama sekali belum pernah mengurus seorang laki-laki sakit, kecuali teman perempuan nya di masa sekolah dulu.


Tentu saja tidak pernah, bahkan dia saja tidak sempat berkencan hingga saat ini, Emilia bahkan hanya menerima perjodohan yang di buat orang tua nya pada laki-laki pilihan sang papa sebelum nya, kemudian kemarin tiba-tiba saja semua berubah begitu drastis, dia menikah dengan laki-laki asing yang sama sekali tidak dia kenali.


Emilia jelas bingung harus meminta bantuan siapa, dia bahkan baru mengenal laki-laki ini, bagaimana mungkin dia tahu siapa saja teman atau keluarga laki-laki ini.


Dan dia fikir satu-satunya cara dengan mengkompres kepala laki-laki itu,dia pada akhirnya mencoba memindahkan tubuh laki-laki itu kekasur dengan penuh perjuangan.


Secepat kilat Emilia mencari kain di dalam Walk in closed milik Gerry, kemudian dengan gerakan cepat dia mencari air dan mulai meng kompres kening laki-laki itu, Emilia mencoba membuka jas laki-laki itu kemudian mengganti nya dengan baju kaos biasa.


Saat dia baru saja selesai mengganti pakaian laki-laki itu dan berniat beranjak pergi tiba-tiba Gerry menarik tangan Emilia hingga membuat tubuh Emilia dengan gerakan spontan jatuh memeluk tubuh Gerry.


"Tu..an"


Emilia jelas terkejut, mencoba untuk melepaskan diri, tapi Gerry semakin erat memeluk nya sambil berkata.


"Mom"


Suara laki-laki itu terdengar begitu lirih di balik telinga nya.

__ADS_1


Seketika Emilia menelan salivanya, dia jelas tidak bisa bergerak karena laki-laki itu memeluk begitu erat tubuhnya, hingga pada akhirnya Emilia terlelap di dalam pelukan Gerry Lincoln entah hingga pukul berapa di keesokan harinya.


__ADS_2